Bakmi Mewah 4 Ways: Satu Bakmi, 4 Selera

Bakmi Mewah yang lagi hits

Pertama kali tahu Bakmi Mewah ketika mudik libur musim panas Juli tahun kemarin. Sebagai emak kepo yang senang mencoba hal-hal baru termasuk makanan, maka semangat dong beli si bakmi yang lagi happening itu. Sak masak dengan tak kalah semangatnya, ealah kok respon pak suami dan anak-anak biasa saja. Bahkan pada geleng-geleng kepala. Padahal kata emak kece sih bakminya enak, apalagi sudah ada ayamnya, lumayan banget, kan? Tinggal tambah sayuran, sudah lengkap tuh dalam satu mangkuk; karbo, protein, dan vitamin.

Mie atau bakmi ini memang makanan favorit keluarga kami. Termasuk mie instan. Kami mengkonsumsinya sebagai makanan rekreasi. Dimasak kuah atau goreng. Saya dan si sulung lebih suka mie kuah, sementara pak suami dan si tengah lebih suka mie goreng. Sudah itu saja! Pernah saya membuat variasi makanan dari mie, seperti bakwan mie, omelet mie, atau martabak mie, malah pada gak suka.  Katanya aneh. Ya sudah, kembali lagi ke selera asal, mie kuah dan mie goreng. Malah lebih gampang.  Tinggal tambah telur dan sayuran. Hidup mie kuah dan mie goreng!

Perjuangan Mendapatkan Bakmi Mewah di Qatar

Berhubung perkenalan pertama dengan Bakmi Mewah biasa-biasa, saya pun tidak memasukkan si bakmi ini ke dalam daftar makanan yang wajib dibawa ke Qatar. Namun cukup surprise ketika melihat si bakmi ini dijual di bazaar TPA ( Taman Pengajian Anak-Anak) yang diadakan seminggu sekali oleh komunitas masyarakat Indonesia di Qatar. Makanya ketika di linimasa berseliweran info tentang lomba kreasi makanan dari Bakmi Mewah, saya pun dengan semangat memesan bakmi ini.

Sayang sekali mbak yang jualan Bakmi Mewah lupa membawanya pada hari pengajian anak-anak. Padahal waktu lomba sudah mepet. Akhirnya membujuk pak suami untuk mengambil ke rumahnya. Berhubung pak suami super sibuk, jadi selalu saja ada halangan untuk pergi. Sekalinya pergi eh malah nyasar. Saya pun pasrah, menunggu seminggu kemudian untuk bertemu dengan si bakmi ini. Dan akhirnya ketika bertemu, seneng banget rasanya, sampai saya dengan sumringah memberitahu mbak Lala (yang jualan bakmi mewah) kalau saya mau ikutan lomba blog dengan Bakmi Mewah sebagai bintangnya. Mbak Lala pun memberikan restunya dan mendoakan menang, hahaha….  Aamiin.

Bakmi Mewah 4 Ways

Let’s cooking!

Kembali ke Bakmi Mewah, tepatnya pada lomba tentang si bakmi ini. Saya pun memutar otak (maksudnya mencari ide gitu) gimana membuat bakmi ini disukai oleh pak suami dan anak-anak. Itu yang penting! Kan testimoni mereka harus bagus tentang Bakmi Mewah biar bisa menang gitu loh, hahaha…. Biar testimoninya benar-benar keluar dari hati dan menyentuh hati para juri. Kan, kata Aa Gym juga yang datangnya dari hati pasti sampai ke hati, hehehe….

Awalnya saya tergoda untuk membuat kreasi-kreasi yang unik gitu, tapi karena anak-anak dan ayahnya kurang suka mencoba makanan baru, saya pun menyingkirkan ide-ide aneh itu. Untuk si sulung yang penyuka aneka pasta, saya pun membuat si bakmi ini ala-ala pasta alfredo.

Bakmi Mewah Alfredo untuk Si Sulung

Bakmi Mewah Alfredo kesukaan si sulung

Bahan: Bakmi Mewah, mentega, bawang putih, susu segar, bayam, dan keju parmesan.

Cara membuat: Tumis bawang putih dengan mentega, masukkan daging+jamur Bakmi Mewah. Masukkan susu segar dan bayam juga mie Bakmi Mewah yang telah direbus lebih dahulu. Setelah itu beri taburan keju parmesan.

Testimoni Si Sulung yang pendiam: Enak Bun! (Singkat, padat dan jelas)

Mie Ayam Bakmi Mewah untuk Pak Suami

Favorit pak suami

Bahan: Bakmi Mewah, kaldu ayam untuk kuah bakso, bakso pentol, sawi, bawang daun.

Cara Membuat: Buat kaldu ayam dan masukkan bakso untuk kuah mie ayam. Tuang minyak nabati dan kecap Bakmi Mewah ke dalam mangkuk, lalu masukkan mie Bakmi Mewah. Kasih daging ayam+jamur Bakmi Mewah, sawi, dan daun bawang. Sajikan dengan kuah baksonya.

Testimoni pak suami yang sedang sibuk kerja: Manggut-manggut (mangkuk yang kosong kita simpulkan kalau mie ayamnya enak) 😁

Mie Yamin Bakmi Mewah untuk Anak Kedua

Kesukaan anak kedua

 

Bahannya lebih sederhana, hanya mie Bakmi Mewah yang diberi minyak nabati dan kecapnya. Lalu sajikan dengan kuah baksonya.

“Enak bangeeet, Bun!” Begitu katanya sambil mengacungkan dua jempolnya. Dan dalam sekejap si bakmi yamin ala Bakmi Mewah pun tandas.

Bakmi Mewah Nyemek untuk Emak Kece

Bakmi nyemek enak

Bahan: Bakmi Mewah, bawang putih, cabe, sawi, telur, irisan bakso dan irisan tomat.

Cara Membuat: Tumis bawang putih dengan minyak nabati dari Bakmi Mewah, masukkan cabe merah, daging ayam+jamur Bakmi Mewah,bakso, dan sawi. Lalu masukkan mie Bakmi Mewah yang sudah direbus, kasih air dan telur kocok, biar mie jadi nyemek. Masukkan kecap Bakmi Mewah. Sajikan dengan irisan tomat atau acar kalau ada. Jangan lupa tambahkan saus sambal dari Bakmi Mewah

Emmm… yummy!😋 Mienya kenyal, bumbu dari daging ayamnya juga sudah sangat cukup. Tidak perlu tambahan bumbu lain seperti garam atau gula.

Untuk lebih jelasnya, lihat videonya saja, ya. Video yang dibuat dengan perjuangan karena direcokin si baby, kolaborasi dengan si sulung.

Intip juga ya ceritanya di IG @irfach.

 

 

 

Kekuatan Sebuah Komunitas Ibu-Ibu

“Jangan remehin emak-emak dasteran karena kalo mereka sudah demo, kelar hidup lo!”

Untung demonya bikin kue, jadi adem penuh gelak tawa, perut pun kenyang. Tahu-tahu saja isi dompet kelar, hahaha….

TableArts, lantai 1 gate 2 east, Mall of Qatar

Kesan itulah yang saya dapat ketika mengikuti acara “Baking and Cooking Show with KitchenAid Addict” di gerai Table Arts , Mall of Qatar (MoQ) pada Selasa, 20 Desember 2016. Hebatnya lagi, demo ini diadakan oleh komunitas ibu-ibu Indonesia, di sebuah toko eksklusif di mal besar yang baru dibuka dan sedang jadi perbincangan di Qatar. Hari itu, Table Arts MoQ serasa milik ibu-ibu Indonesia, riuh-rendah obrolan dalam bahasa Indonesia. Sampai-sampai ada pengunjung non Indonesia yang protes karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan pendemo di meja demo. Ibu-ibu pun lalu tersadar, kalau mereka lagi di luar negeri gitu loh, hahaha….

Pendiri Indonesian Ladies Group KitchenAid (Andra, Shanti, Nony)
Pendiri Indonesian Ladies Group KitchenAid (Andra, Shanti, Nony)

Acara keren ini diselenggarakan oleh komunitas ibu-ibu yang menamakan diri Indonesian Ladies Group (ILG). Mereka rutin mengadakan demo memasak dan membuat kue di rumah-rumah anggotanya, dengan menggunakan produk-produk KitchenAid, sebuah merk peralatan dapur terkenal dari Amerika Serikat.

Kue-kue yang dibuat dengan mixer KitchenAid
Kue-kue yang dibuat dengan mixer KitchenAid

Dan ide membuat acara demo di toko yang ada di mal, menurut saya sangat brilian. Apalagi di mal yang sedang jadi perbincangan. Ibu-ibu jadi tertarik ikutan demo karena sekalian jalan-jalan ke mal yang lagi kekinian. Terbukti ada puluhan peserta yang datang, walaupun jarak ke MoQ ini sangat jauh dari rumah para peserta. Di adakan di toko, membuat peserta bisa sekalian cuci mata, yang tadinya tidak niat membeli pun jadi beli, minimal beli satu buah pisau (ini sih saya), hahaha…. Keuntungan lainnya, walaupun acara telat, tidak membuat hati kesal, karena justru bisa dimanfaatkan untuk melihat-lihat isi toko dan foto-foto.

Setelah peserta registrasi ulang, acara pun dimulai. Demo pertama adalah pembuatan smoothies (jus sayuran dan buah) dengan menggunakan magnetic blender KitchenAid. Kelebihan blender ini punya program khusus untuk smoothies yang akan berhenti sendiri memblender bila sudah selesai.

Satu cup ternyata gak cukup, smoothiesnya enaaak 😋
Satu cup ternyata gak cukup, smoothiesnya enaaak 😋

Demo kedua, pembuatan brownies panggang di multicooker KitchenAid. Jadi membuat brownies di satu tempat, mulai dari mencairkan mentega dan cokelat blok sampai ke memanggangnya. Multicooker ini selain dipakai untuk menanak nasi, bisa juga dipakai untuk membuat bubur, rendang, dan memanggang kue. Sangat praktis. Selain itu ada review produk-produk lain yang di jual di toko Table Arts.

Demo membuat brownies panggang di Multicooker KitchenAid
Demo membuat brownies panggang di Multicooker KitchenAid

Acara dikemas dengan sangat menyenangkan, mulai dari pendaftaran peserta, penyediaan snack dan minuman, ada bolu pajangan dan smoothies yang dinikmati ramai-ramai, sampai ke pemberian door prize. Ibu-ibu ini serasa di rumah sendiri, ngobrol dan tertawa lepas. Kami pun dikasih form kecil lengkap dengan pensilnya untuk menulis barang-barang yang akan dibeli di Table Arts.

Begitu acara demo selesai, ibu-ibu berkeliling toko melihat, menimbang, dan memutuskan barang apa yang akan dibeli. Kedua tangan sibuk memijit kalkulator di HP, menghitung harga setelah diskon. Lalu menuliskan pesanannya, mencoretnya setelah diskusi dengan temannya, mengganti dengan pesanan lain, untuk kemudian bingung lagi. Hari itu tampaknya banyak ibu-ibu yang galau, hahaha….

Pisau ini yang membuat saya galau 🤔
Pisau ini yang membuat saya galau 🤔

Akhirnya dalam kisaran beberapa jam saja, terjual puluhan produk. Sampai ada produk yang kehabisan stock dan harus diambil di toko lain. Manejer dan staf toko pun dibuat sibuk, tapi mereka tetap ramah dan sabar melayani para ibu ini, hehehe…. Ibu-ibu Indonesia memang top kalau urusan jualan dan belanja 👍.

Ini yang saya sebut kekuatan komunitas dalam menjual. Promosi word to mouth alias dari mulut ke mulut. Apalagi bila yang merekomendasikan itu teman atau sahabat yang kita kenal dengan baik dan memang pakarnya dalam barang yang mau kita beli. Dahsyat hasilnya, yang tadinya tidak merasa butuh alat itu pun karena teman beli dan merekomendasikan kok rasanya butuh juga ya, dan akhirnya beli deh. Yang penting beli dulu, urusan dipakainya kapan mah belakangan😁. Apalagi diimingi diskon hanya hari itu pada saat demo. Excited sekaligus panik dong. Ibu-ibu pun sibuk ketak-ketik di kalkulator HP.

“Jangan remehin emak-emak berdaster, karena kalau sudah jualan, kelar hidup eh dompet lo!”

Selamat buat para admin ILG yang telat membuat acara sekeren ini, ditunggu acara-acara berikutnya yang lebih keren lagi dengan lebih banyak hadiahnya.

Note:
Peserta yang hadir kebanyakan ibu-ibu bakulan juga (bakul kue, catering, jamu, baju) yang omsetnya tidak main-main. Jadi jangan remehin daya beli mereka.
Bagi para produsen mulai sekarang  manfaatkan komunitas ibu-ibu buat jualan produk Anda. Mereka pasti akan dengan senang hati dan all out mempromosikan. Dijamin tidak akan rugi, laris manis😊

Mengintip Kehidupan Qatari di Taman

Musim panas di Qatar sudah hampir usai, namun menyisakan lembab yang tinggi. Membuat malas berkegiatan di luar rumah karena pasti banjir keringat. Padahal liburan Idul Adha tahun ini banyak sekali acara-acara menarik yang diadakan outdoor.

Perayaan Idul Adha 2016 mengusung tema #CaptureJoy, kebanyakan adalah acara-acara untuk keluarga (anak-anak). Salah satunya acara yang diadakan di sebuah taman dekat rumah kami, Dahl Al-Hamam Park. Taman ini luas sekali dan asri (kalau lagi musim dingin ya☺️). Ada 2 buah playground pasir dan satu yang pakai rubber, ada lapangan basket, ada area skateboard, ada mushala yang lumayan besar, toiletnya juga bersih. Dan ada guanya, ya beneran gua, lorong di dalam tanah, makanya taman ini dinamakan ‘Dahl‘ yang artinya gua atau cave. Untungnya area gua ini sekelilingnya di pagar dan pintu masuknya digembok, jadi gak khawatir anak-anak masuk ke sana. Masuk ke taman ini gratis… tis! Dan yang paling penting free wifi, yipieee! Bisa bebas berselancar di dunia maya.

salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park
salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park

Mengenai internetan di taman ini ada pengalaman menarik sekaligus bikin malu dan keki bagi kami. Jadi ceritanya suatu pagi di satu akhir pekan kami main ke taman ini, bawa tikar, aneka cemilan dan makanan. Setelah puas lari-larian, kami leyeh-leyehan di tikar yang digelar di lapangan rumput hijau nan empuk. Mulai tuh masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Si emak pakir wifi hepi dong bisa pamer-pamer di sosmed. Nah, tiba-tiba ada bapak-bapak berjenggot lebat dan bermuka Arab (masih muda sih seumur Akang suami) menghampiri kami. Menyapa ramah dan mengajak Akang suami dan anak-anak main bola. Katanya ngapain ke taman kalau hanya untuk main gadget (sambil tersenyum dan melirik gadget di tangan kami). Makjleb! Speechless! Malu! Rasanya pengen nutupin muka pakai panci atau kuali atau pintu kulkas ??. Begitulah kenangan tak terlupakan kami di taman ini.

Pameran Kebudayaan Qatari
Liburan hari kedua Idul Adha, kami pergi ke taman ini selepas Maghrib. Baca di berita, katanya selama libur Idul Adha ada acara dari pukul 6.30 sampai 11 malam. Ditulisnya permainan dan tari-tarian tradisional Qatari. Penasaran dong pengen tahu kayak gimana sih kehidupan para Qatari itu.

Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara
Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara

Sesampainya di lokasi, parkiran sudah penuh, cukup lama kami menunggu salah satu mobil yang mau keluar tapi kok gak keluar-keluar?.  Walaupun parkiran penuh, suasana taman tidak terlalu ramai, sepertinya pengunjung terpencar di berbagai area taman. Ada yang hanya duduk-duduk di lapangan rumput. Ada yang main di playground. Walaupu malam hari, tamannya cukup terang dari lampu-lampu yang benderang. Nah, acaranya ada di sebuah lapangan yang berpagar tinggi. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Olahraga.

Lagu-lagu Arab yang diiringi rebana menyambut kedatangan kami. Musik itu berasal dari sebuah panggung yang di depannya berjejer kursi-kursi. Para lelaki Arab duduk di atas panggung memukul alat rebana. Rasanya seperti masuk ke negeri asing, negeri 1001 malam. Wanita-wanita berabaya hitam dan bercadar, para lelakinya berdishdasa, dan anak-anak yang berceloteh dengan bahasa Arab. Agak ragu juga kami untuk masuk ke sana karena sepertinya hanya kami yang berwajah Asia. Tapi perhatian saya yang sudah tersedot ke area di sebelah kiri pintu, membuat Akang suami dan anak-anak mengikuti emaknya masuk.

dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)
dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)

Di sana, terhampar karpet yang diduduki para lelaki Arab setengah baya dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang membuat miniatur kapal tradisional, ada juga yang membuat jaring ikan, keranjang, dan membuat tikar. Rupanya itu pameran kerajinan tradisional Qatari. Dulu, sebelum ditemukan minyak bumi, mata pencaharian Qatari adalah nelayan tepatnya pencari mutiara. Cukup lama saya merekam aktivitas mereka, sebenarnya ingin menyapa dan bertanya-tanya namun sayang saya tidak bisa bahasa Arab ?.

kerajinan tradisional qatari
kerajinan tradisional qatari

Selain pameran kerajinan, ada pameran makanan tradisional Qatar juga. Baru beberapa saat saya merekam, dua orang wanita bercadar di depan meja pameran, mengangkat tangannya dengan gerakan menolak. Saya pun terkejut dan segera minta maaf. Rupanya mereka keberatan untuk difoto/ direkam. Saya pun jadi segan untuk melihat-lihat karena terlanjur malu dan takut dimarahi, hehehe….

Soalnya Akang suami pernah punya pengalaman dimarahi bahkan nyaris dikejar salah satu perempuan Arab ketika sedang memotret, padahal yang dipotret bukan perempuan itu, dia kebetulan saja ada di depan Akang suami. Dikiranya si akang motret dia ?. Sejak saat itu Akang suami agak trauma motret di tempat umum yang banyak orang Arabnya.

Processed with Snapseed.
Para gadis Qatari

Namun saya benar-benar tak tahan untuk motret ketika bertemu sekumpulan anak-anak gadis Qatari yang memakai pakaian tradisional. Cantik sekali. Mereka sedang duduk melingkar, entah sedang membahas apa. Saya pun minta izin untuk motret mereka dan mereka tidak keberatan. Horeee! Segeralah saya memotret mereka sambil larak-lirik takut ada emaknya mereka menghampiri dan marah anaknya difoto?. Untunglah gak ada dan Teteh F3 pun bisa berpose dengan mereka. Saya gak bisa nanya-nanya karena anak-anak cowok terutama Abang F2 sudah ribut ngajak pulang.

wajah-wajah ngantuk dan lelah
wajah-wajah ngantuk dan lelah

 

 

Setelah bermain sebentar di playground dan jajan pop corn kami pun pulang ke rumah. Walaupun hati dan pikiran saya masih tertinggal di sana (harusnya bisa wawancara para baba itu, harusnya bisa menyapa umi-uminya juga) tapi udara yang lembab memupus keinginan itu. Kasihan sama anak-anak yang sudah kegerahan. Berharap suatu hari nanti masih bisa mengulik kehidupan Qatari ini.

 

 

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

Merayakan Idul Adha di Doha bersama Sinbad

Idul Adha di Qatar (dan negara-negara lainnya di Timur Tengah) artinya libur panjang. Yihaaa! *doradancing*. Di Qatar sendiri liburnya 5 hari. Daripada di rumah saja bengong cantik dan anak-anak main game melulu, Akang suami lalu memberikan daftar acara-acara perayaan Idul Adha di Qatar yang bisa kita tonton. Dan mengajak untuk melihatnya! Pakai tanda seru soalnya ini penting sekali karena tumben-tumbenan si akang berinisiatif ngajak jalan, biasanya istrinya yang fakir jalan ini yang selalu bujuk-bujuk sampai setengah maksa buat keluar rumah, hihihi….

Festival Idul Adha di Katara 

Katara adalah daftar pertama di liburan Idul Adha kami. Katara ini adalah kawasan yang menjadi pusat seni dan kebudayaan di Qatar, tepatnya di daerah West Bay-Doha. Tempatnya keren sekali ada amphitheater dan masjid yang megah, galeri-galeri seni yang hampir tiap hari selalu penuh dengan kegiatan, dan terletak di pinggir pantai dengan kafe-kafe yang menawarkan aneka makanan khas. Sound romantic, ya? ?Kapan-kapan saya akan tulis tentang Katara ini ya (entah kapannya itu-nunggu wangsit dulu-lalu bengong ?)

Festival Idul Adha di Katara ini akan berlangsung empat hari (12-15 September) berupa pertunjukan teater Sinbad dan kembang api.

Begitu mendengar kata teater, bayangan saya pasti bayar nih, pasti mahal deh, aduh sayang, tapi pengen nonton, gimana dong? Dan langsung bersorak ketika akang suami bilang kalau acaranya gratis. Tapi lalu pesimis, emmm kalau gratis kayaknya acaranya biasa aja, gak seru. Rasa pesimis ini saya simpan di hati, kalau dibilangin ke akang suami, nanti dia jadi punya alasan buat batalin pergi (kan doi orang rumahan banget), hihihi….

Ada 3 kali pertunjukan tiap malamnya, pukul 7, 8.15, dan 9.30, yang satu kali pertunjukan lamanya 45 menit. Lalu ditutup dengan pertunjukan kembang api.

Kami memutuskan untuk melihat pertunjukan yang terakhir biar sekalian melihat kembang api. Agak khawatir juga sih anak-anak akan ngantuk dan tidak semangat menonton. Apalagi kami juga jarang melakukan kegiatan di luar sampai malam.

Dan benar saja, sehabis makan malam, aroma kasur dan bantal kuat sekali melanda keluarga Mulyo, walaupun masing-masing sudah rapi dengan pakaian pergi. Si ayah terusan-terusan melihat komputernya, mantengin google maps kayaknya, soalnya komentarnya, “waduh macet banget jalan ke Katara, antre masuk ke gerbangnya panjang nih.” Nada-nadanya sih minta persetujuan, ya udah kita gak jadi pergi ya. Si emak diam saja, wong pengen pergi. Untung didukung sama anak gadisnya yang terus-terusan ngomong kapan perginya, ayo cepetan pergi! Kalau dua anak cowok sih santai banget, kayaknya pergi atau nggak pergi gak masalah? Walaupun nanya terus, kita mau kemana sih? Katara itu apa? Mau ngapain ke sana? Dijelasin berkali-kali sampai bosan.

Suasana di mobil selama perjalanan pun tidak mendukung; anak gadis langsung tidur, begitu juga Abang F2 tidur setelah mengeluh pusing, kakak F1 menggurendel setengah mengancam yang intinya pertunjukannya harus benar-benar bagus bukan hanya bagus saja (istilah dia extraordinary) karena dia sudah ninggalin kenyamanan rumah. Sigh! Akang suami juga terus bergumam tentang parkiran yang penuh. Si emak sibuk berdoa; sabarkan, tabahkan, tetap semangat dan maju pantang mundur☺️.

Akhirnya kami masuk ke kawasan pantai dan parkir di depan hotel St. Regis (yang terkenal itu). Hanya saja kami harus jalan cukup jauh ke lokasi pertunjukan. Bayangkan kami parkir di ujung pantai (sektor 1) sementara lokasi pertunjukan di tengah-tengah (sektor 16). Untung saja anak-anak yang tidur gak susah dibangunkan dan mau jalan. Hanya saja akang suami kebelet pipis. Si emak juga sih, hihihi…. Jadi kami jalan sekitar 10 menit, mampir kios kecil pinggi pantai untuk membeli air mineral (lupa bawa minum) dan mampir ke Gelateria (kafe ice cream), tepatnya sih ke belakang Gelateria buat pipis ? Di sana ada toilet pria dan wanita yang bersih. Eh, anak-anak juga sempat beli ice cream. Lumayan menghibur mereka yang kegerahan dan kelelahan jalan.

Antrean Perempuan dan Eidyah

Ternyata tempat pertunjukan itu berada di depan amphitheater berupa panggung terbuka. Ketika kami sampai di sana, pertunjukan kedua sedang berlangsung dan kami melihat antrean yang cukup panjang ke arena pertunjukan. Sempat heran juga karena itu pertunjukan gratis kenapa harus ada antrean masuk. Kami pun langsung masuk ke dalam barisan. Wajah Akang suami sudah getir saja, kebayang harus berdiri lama di udara yang bersuhu 30an derajat. Hangat-hangat kuku sih tapi cukup bikin keringat bercucuran. Ditambah lagi Abang F2 ngeluh lapar, dia terus-terusan bilang tentang bau makanan yang enak dari deretan kafe-kafe.

Di tengah-tengah asyik eh kegerahan mengantre, tiba-tiba seorang pria berdishdasa (pakaian laki-laki Arab) menghampiri kami dan berbicara dengan Akang suami. Katanya saya tidak boleh antre di barisan itu. Dia menunjuk dua barisan di samping kanan kami, yang ternyata antrean perempuan. Jadi barisan perempuan dan laki-laki berbeda. Akang suami menerangkan kalau kami keluarga, intinya keberatan kalau harus dipisah. Si petugas terdiam dan menghela napas, kayaknya artinya yaelah bro terpisah sebentar aja, gak apa-apa kok. Saya memahami kebingungan suami, pikiran kami sama, nanti di dalam pasti duduknya akan terpisah juga.

“Gimana, kita pulang saja?”

“Hah? Sayang dong udah jauh-jauh ke sini. Oke… Oke Bunda antri di sana,” kata saya dengan nada gagah. Tapi tetep berdiri di barisan, apalagi ketika ada perempuan lain yang ikut antre di barisan yang sama, serasa ada teman. Sok berani padahal ketar-ketir juga harus terpisah, hehehe….

Antrean pelan-pelan maju dan tiba-tiba sedikit ribut, ketika beberapa petugas menyuruh laki-laki dan perempuan di barisannya masing-masing, tidak boleh campur. Saya pun buru-buru masuk ke barisan perempuan. Ternyata antrean perempuan lebih cepat masuknya, sepertinya memang diprioritaskan.

pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis
pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis

Begitu sampai depan, barulah saya melihat tumpukan hadiah yang dibagi-bagikan ke anak-anak. Tangan anak-anak distempel lalu mereka diberi bingkisan yang besarnya beda-beda. Saya yang gendong baby, dapat satu bungkusan panjang (tiga anak lainnya ikut ayahnya). Begitu masuk ke lokasi pertunjukan, bengonglah si emak cantik dan baik hati ini. Ternyata begitu di dalam perempuan dan laki-laki kembali berbaur. Arena di depan panggung penuh dengan kursi-kursi. Dan orang lalu-lalang di kiri-kanan gerbang masuk. Jadi tanpa antre pun, sebenarnya kita bisa masuk bebas ke lokasi pertunjukan. Jadi what for atuh antre panjang-panjang? Jawabannya baru ketahuan belakangan, kalau antrean itu buat mengambil  “Eidyah”. Bingkisan hari raya buat anak-anak yang diberikan secara cuma-cuma. So, kalau gak mau bingkisan itu, kita bisa langsung masuk ke arena pertunjukan secara bebas. Teteh F3 dapat bingkisan skipping rope yang dia inginkan.

Teteh F3 dan Eidyahnya
Teteh F3 dan Eidyahnya

 

Sambil menunggu Akang suami dan anak-anak masuk, saya pun antre membeli makanan di gerai-gerai yang berjejer sepanjang pantai. Ingat sama Abang F2 yang ngeluh lapar (makan malamnya memang cuma sedikit). Antreannya mengular bo! Setelah cari-cari yang barisannya pendek, dapatlah chips and fish, setelah bayar pastinya?. Sempat terjadi drama panik, ketika mencari-cari henpon di tas tidak ketemu. Saat itu sudah pasrah saja, kebayang ‘murkanya’ Akang suami karena sudah teledor. Lalu tersadar kalau yang tadi dipegang di tangan kiri itu ya si henpon. Tepok jidat! Dasar emak pelupa.

 

 

Sinbad yang Spektakuler

Saya tak punya bayangan sama sekali akan seperti apa pertunjukannya. Surprise juga ketika sadar bahwa itu pertunjukan sirkus yang dikemas dalam sebuah cerita utuh (teatrikal). Sejak dulu memimpikan melihat sirkus secara langsung. Pertunjukan dibuka dengan narasi berbahasa Arab tentang Sinbad dari dongeng 1001 malam yang mendapat peta harta karun untuk mencari pearl (langsung teringat Qatar yang salah satu simbolnya adalah pearl). Bagi yang tidak mengerti bahasa Arab (seperti saya) tidak usah khawatir, di sebelah kanan panggung ada layar lebar yang menerjemahkan narasi cerita dalam bahasa Inggris.

beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor
beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor

Atraksi yang menjadi pembuka adalah sand art. Mengagumkan sekali melihat dengan media pasir bisa tercipta gambar-gambar yang bercerita. Sand art ini menjadi pembuka petualangan Sinbad yang penuh misteri. Setelah itu diceritakan Sinbad sampai di pulau yang penuh burung-burung ajaib. Lalu muncullah pesulap yang mendemonstrasikan triknya dengan burung-burung merpati.

Setelah itu muncul 2 penari yang menari-nari di ketinggian dengan bantuan tali-tali (aerial). Keren banget, paling banyak mendapat tepuk tangan penonton. Lalu Sinbad dan salah satu temannya berakrobatik. Kemudian muncul tokoh berkostum putih menutupi seluruh badan membawa ‘pearl‘ yang dicari Sinbad. Sosok putih ini ditemani beberapa penari yang memegang obor api dan mereka melakukan tarian api yang ngeri-ngeri sedap. Ada juga tarian LED yang kece. Jadi diceritakan, setelah melalui berbagai petualangan, akhirnya Sinbad sampai ke pulau Qatar dan menemukan pearl yang dicarinya. Sayangnya mutiara itu kemudian dicuri oleh kawanan bandit. Lalu terjadilah perkelahian yang ‘lucu’ di antara mereka. Penonton anak-anak riuh bersorak. Kata Abang F2, dia juga paling suka bagian yang ini. At the end Sinbad dapat kembali mutiaranya. Lalu mereka pun menari Happy Time-nya Pharrel Williams.

Secara keseluruhan, pertunjukan Sinbad ini keren banget, tata lampu dan suaranya bagus sekali. Saya melihat dapat ulasan yang bagus di koran-koran hari ini.

Kembang Api yang Megah
Saya pun mendesah puas dan berbenah diri untuk pulang ketika tiba-tiba suasana berubah gempita. Rupanya pertunjukan kembang api sudah dimulai. Dentuman suara kembang api dan semburan cahayanya yang menari-nari di langit sontak membuat orang-orang mengangkat henpon dan kameranya mengabadikan momen itu. Saya pun tak ketinggalan merekamnya dengan henpon.

aslinya lebih megah dan spektakuler
aslinya lebih megah dan spektakuler

Namun kemudian segera mematikan henpon dan memilih untuk menikmati pertunjukan kembang api dengan mata sendiri bukan melalui kamera henpon. Dan ternyata itu jauh lebih menggetarkan. Tempat duduk kami sangat strategis, kembang api itu seolah-olah muncul di hadapan kami dan menari-nari dengan indahnya. Apalagi musik pengiringnya sangat mendukung sekali. Tak henti saya bertakbir padaNya yang telah memberikan akal pada manusia sehingga bisa menciptakan pertunjukan seindah itu. Tak terasa kedua mata saya mengembun. Emang sentimental emak satu ini. Selama 10 menit kami dimanjakan dengan kemegahan atraksi kembang api walau agak terganggu dengan aksi wefie sebuah keluarga kecil persis di depan saya ?

Alhamdulilah, malam Ied yang sangat mengesankan walau pulangnya terjebak macet, hampir setengah jam baru bisa keluar dari kawasan Katara. Lumayan bisa bocan di mobil sementara pak supir berjibaku cari jalan. Maaf ya sayang, salahkan mata ini yang tak bisa diajak kompromi.

Bila foto tak cukup mewakili kemegahan atraksi kembang api itu, mungkin rekaman saya ini bisa:

 

 

Berikut beberapa tips biar menontonnya nyaman dan aman.

1. Bila tidak mau kelamaan di Katara disaat udara masih panas, berangkat sehabis maghrib. Makan malam dulu yang kenyang (karena makan di kafe Katara mahal bo!)

2. Bawa minuman yang banyak dan makanan ringan. Udara yang panas bikin cepat haus. Dan bau makanan yang menguar dari kafe-kafe bikin cacing-cacing ngambek. Jadi makanan ringan itu buat mendamaikan para cacing. Selain itu antrean pembeli di kios makanan cukup panjang.

3. Pakai pakaian yang menyerap keringat dan nyaman. Begitu juga dengan sepatu atau sandalnya karena kalau dapat parkiran jauh dari lokasi acara, harus jalan kaki.

4. Bila tidak berminat dengan Eidyah tidak perlu ikutan antre, langsung masuk saja ke lokasi pertunjukan. Bila mau ikutan antre, suruh emaknya sama anak-anaknya yang antre karena barisan perempuan lebih cepat masuknya. Bapaknya bertugas cari tempat duduk yang strategis.

5. Cari kursi yang depan panggung persis, biar bisa jelas melihat pertunjukannya. Ada layar di belakang panggung yang menerjemahkan narasi cerita ke dalam bahasa Inggris.

6. Lebih baik nonton yang pertunjukan terakhir biar langsung melihat kembang api. Agar anak-anak juga tidak terlalu lelah menunggu.

Happy Eid Al-Adha 1437H

*picture Eidyah and Sinbad show taken from IG katara @kataraqatar

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

Sensasi Mandi Arab: “Dibakar dan Dikubur di Tanah”

Afghan Bro4
takjub dengan porsi nasi mandi

Mandi ini adalah makanan atau nasi khas Arab, makanya orang lebih sering menyebutnya dengan Nasi Mandi. Makanan tradisional Arab ini terbuat dari basmati (beras khas India) dan daging – bisa berupa kambing atau ayam – yang diolah dengan menggunakan aneka rempah-rempah. Kambing yang digunakan biasanya kambing muda ukuran kecil.

Makanan yang sangat populer di semenanjung Arab ini berasal dari negara Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut, daerah lembah hijau di Yaman yang sebagian besar wilayahnya berupa padang pasir. Sebagian besar warga keturunan Arab di Indonesia berasal dari Yaman. Itu sebabnya di Indonesia ada nasi kebuli yang mirip dengan nasi mandi ini.

Mandi ini sering juga disangka nasi briyani. Padahal ketiganya berbeda. Perbedaan utama terletak pada cara memasaknya. Nasi mandi atau disebut juga Haneeth dimasak pada sebuah tandoor, yaitu oven khusus yang dibuat di dalam tanah. Jadi dibuat lubang di dalam tanah semacam sumur yang dalamnya dilapisi dengan tanah liat.

Kemudian ditaruh kayu bakar yang dibakar sampai menjadi arang. Di atas arang tersebut diletakkan panci berisi nasi . Baru daging dimasukkan, bisa digantung atau diletakkan di rak. Selanjutnya tandoori ditutup rapat-rapat sehingga asap akan terperangkap di dalamnya, yang menjadikan makanan beraroma dan bercita rasa khas.

Bagi yang  tidak memiliki tandoor tapi ingin membuat nasi mandi yang aroma dan rasanya sama dengan yang dimasak di tandoor, bisa menggunakan arang yang telah dibakar dan dimasukkan ke dalam mangkuk kecil berisi minyak panas. Mangkuk kecil ini diletakkan di atas nasi mandi yang sedang dimasak. Kemudian tutup rapat-rapat panci sehingga tak ada asap yang keluar dari dalam panci.

 

Antri Mandi di Afghan Brothers

Afghan brothers
tampak depan resto afghan brothers

Afghan Brother ini nama restoran di Doha-Qatar yang menu utamanya nasi mandi. Jadi ceritanya Jumat kemarin selepas salat Jumat di masjid Aspire, kami berburu nasi mandi, yang merupakan makanan favorit suami saya. Kalau di Qatar dan negara-negara Arab lainnya, weekend itu tiap Jumat dan Sabtu, kecuali Saudi yang Kamis-Jumat.

Afghan Brother adalah restoran besar berlantai dua. Dari depan tampak megah berdinding bata merah. Gayanya klasik. Agak ketar ketir tidak kebagian tempat karena di depan restoran sudah berjejer mobil hingga kami harus parkir agak jauh dari resto karena parkirannya penuh. Begitu masuk kami langsung diarahkan ke lantai dua. Sepertinya lantai dua khusus family. Dan saya makin terkagum-kagum dengan interiornya. Ciri khas Arab-nya kental sekali.

Begitu sampai ke lantai dua, suasana tampak riuh. Rupanya ada rombongan besar orang India yang sedang lunch di sana. Para pegawai resto tampak sibuk lalu lalang. Salah satu pegawai yang mungkin manajernya malah seolah-olah menolak kehadiran kami. Menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat kami, maksudnya mungkin sudah tak ada tempat lagi. Beruntung kami menemukan satu kamar yang kosong walau masih berantakan dan harus menunggu lama untuk dibersihkan.

Afghan Bro1
interior afghan brothers

Cukup lama kami menanti pesanan tiba. Dari balik jeruji jendela saya melihat banyak laki-laki Arab ber-dishdasha (pakaian khas laki-laki Arab) dan wanita-wanita berabaya hitam, beberapa bercadar, yang lalu lalang masuk ke berbagai kamar di lantai dua Afghan Brothers itu. Yup, salah satu ciri khas restoran Arab adalah adanya ruang-ruang makan terpisah. Sebagian besar berbentuk lesehan memakai diwaniya (tempat duduk khas Arab). Ada juga yang memakai meja kursi, seperti ruangan yang kami pakai. Dan ya, ruangan-ruangan makannya berjendela dan berpintu jeruji sehingga kami masih bisa mengintip ke luar.

Betapa kagetnya kami ketika nasi mandi tiba. Satu nampan besar dengan kambing dan satu ayam yang dibelah dua! Jadi nasi mandi ini disajikan di piring besar, lauknya bisa kambing atau ayam sesuai dengan orderan kita. Kata manajernya satu porsi piring besar itu buat satu orang, hehehe…. Selain nasi mandi, kami juga pesan sish tawook, semacam sate Arab, yang langsung diserbu anak-anak karena mereka sudah kelaparan.

Afghan Bro3
nasi mandi dan teman-temannya

Nasi mandi ini dilengkapi dengan saus tomat dan salad sayur mentah. Juga khubz, roti Arab berbentuk lingkaran tipis, biasanya ukurannya besar. Roti ini sangat enak disantap saat panas. Dimakan bareng dengan sish tawook yang diolesin hummus, emmmhh yummmy! Hummus ini seperti selai berbahan dasar kacang kedelai yang dihaluskan, lentini, tahini, juga minyak olive, air lemon, garam dan juga bawang putih. Tak heran jika aroma dan rasa humus enak, gurih dan segar! Porsi nasi mandi baik kambing atau ayam harganya 40 QR sekitar 100 ribu lebih.

Jajanan Kaki Lima yang Terkenal di Bogor

 

Soto P.Yusuf
antrian di salah satu jajanan kaki lima gang aut, selalu ramai

Awal berburu kuliner di Gang Aut, saya diantar adik dan suaminya. Saya sendiri tak punya bayangan seperti apa pusat kuliner kaki lima yang terkenal di Bogor itu. Berdasar rekomendasi Kang Google, Gang Aut ini menjanjikan kuliner yang maknyus.

Cukup lama kami mencari-cari gang Aut, yang terletak di antara Jalan Suryakencana dan Jalan Siliwangi. Walau sudah tahu bahwa itu jajanan kaki lima, tapi cukup kaget juga ketika melihat sendiri, makanan yang katanya enak itu dijual di gerobak-gerobak, hehehe….

Paling geli itu ketika melihat raut wajah adik saya dan suaminya, mereka melongo tak percaya saya mengajak mereka jauh-jauh dari Depok untuk jajan di pinggir jalan.

“Yaah, kayak gini mah di Depok juga banyak, Teh,” kata adik saya tak bisa menutupi kekecewaannya. Saya membujuknya untuk mencobanya dulu. Daaan…. setelah habis semangkuk soto kuning, dia mengakui kalau soto kuningnya memang lain, mantap. Tak heran kalau setelah hari itu, suaminya yang kerja di Bogor kadang mampir ke Gang Aut buat beli soto kuning, oleh-oleh buat istrinya, adik saya, hahaha…. Pesona Gang Aut memang nyata.

Berikut jajanan kaki lima dengan rasa resto yang bisa kita dapatkan di Bogor

  1. Soto Kuning Bogor Gang Aut

Soto P.YusupJangan salah ya, ada beberapa penjual soto kuning yang namanya mirip-mirp, yang satu Soto Kuning Pak Yusuf, satunya lagi Soto Kuning Pak Yusup. Pertama kali ke Gang Aut, saya mencicipi soto kuning Pak Yusuf, cukup enak. Tapi, setelah mencicipi soto kuning Pak Yusup saya lebih menyukai versi pak Yusup ini.

Sekilas soto ini mirip soto Betawi, namun kuahnya lebih kuning dengan irisan tomat, bawang daun, dan kentang. Isinya kita bisa pilih sendiri, ada daging sapi, jeroan semacam babat, paru, ada yang direbus dan digoreng. Tambahannya perkedel kentang dan emping. Dimakan beserta nasi panas dan sambel ij, emmm bayanginnya saja sampai nelan air liur, hehehe…

Soto M.Yusuf2Oya soto kuning Pak Yusup ini hanya jualan pada sore hari. Jadi kalau pagi hari sampai siang hari, walau gerobaknya sama-sama bertuliskan Pak Yusup, tapi penjualnya beda. Harga satu porsi soto kuning ini Rp 21.000

  1. Baso Kikil Pak Jaka Gang Aut

Baso Aut

Ini adalah jajanan paling favorit saya di Gang Aut. Kuahnya bening dengan citarasa yang pas. Basonya kenyal walau kecil-kecil dan kikilnya juga empuk, tidk liat. Bisa habis 2 mangkuk sekali makan nih, belum lagi beberapa bungkus yang dibawa pulang hihihi…. Baso kikil Pak Jaka ini bersebelahan dengan soto kuning Pak Yusup. Dijual di pikulan bukan gerobak. Harga satu mangkuknya Rp 19.000

  1. Combro Gang Aut

Combro Aut

Bukan lebay, tapi ini combro terenak yang pernah saya makan. Rasa pedas sambal oncomnya pas banget. Combronya sendiri garing renyah namun empuk, tidak terlalu berminyak. Dimalamkan pun rasanya masih kriuk-kriuk. Harga satu combro Rp 2500, tapi ketika saya datang di akhir pekan, harganya beda jadi Rp 3000, hehehe…

4. Pepes Sagu Gang Aut

Pepes sagu aut

Ini adalah makanan yang unik menurut saya, katanya satu-satunya di Bogor. Pepes sagu dengan variasi pepes sagu pisang, pepes sagu pisang keju, dan pepes sagu nangka. Rasa sagunya terasa banget, lembut dan wangi. Disantap panas-panas lebih enak, hangat terasa di perut.

Sebenarnya masih banyak lagi jajanan lain di Gang Aut; ada soto mie bogor, toge goreng, asinan bogor, dan lainnya. Namun saya tak sempat mencicipi semuanya. Memang tak cukup sekali kalau datang ke Gang Aut, tapi harus berkali-kali.

  1. Es Doger Lodaya

Es Doger3Minuman segar ini rasanya nano-nano, antara manis asem segar. Terbuat dari santan kelapa dikasih serutan es, sirup merah, alpukat, tape singkong dan ketan hitam, nangka, kadang dikasih potongan roti. Es Doger di Jalan Lodaya ini juaranya, tempatnya enak, banyak pohon rindang.

Tips Wisata Kuliner Jajanan Kaki Lima:

  1. Datang setelah lewat jam makan siang, sekitar pukul 2-3 sore. Menghindari berdesakan antri, namun resikonya kehabisan sih, hehehe….
  2. Makan di mobil, biasanya tempat makan yang tersedia sedikit, dan kurang nyaman buat makan.
  3. Bawa pengharum mobil buat menghalau bau-bau makanan yang kita santap di mobil.
  4. Makan bareng-bareng, jadi bisa pesan dan mencoba beraneka jajanan kaki lima.
  5. Jangan lupa bungkus makanan favoritnya buat disantap di rumah dengan lebih khusuk, hehehe…

 

Nginap di Bogor

Jauh-jauh ke Bogor hanya buat kuliner kaki lima, kayaknya rugi ya, hehehe… Soalnya banyak tempat wisata yang bisa kita kunjugi di Bogor, mulai dari yang paling terkenal; Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, berenang di The Jungle, atau mencoba wahana permainan di The Jungle Land.

Belum lagi wisata belanjanya, beli tas di tajur atau berburu oleh-oleh Bogor yang terkenal dan banyak macamnya. Rasanya sehari di Bogor nggak cukup deh, harus ngerasain bermalam di kota Bogor. Merasakan udaranya yang masih sejuk, kalau malam hari malah dingin.

Nah, bingung cari hotel yang oke di Bogor? Takut harganya mahal? Jangan khawatir, sekarang ada Travelio, yang akan membantu kita mencari hotel-hotel yang diinginkan. Lebih gokilnya lagi, hotel-hotel tersebut harganya bisa ditawar loh. Weleh-weleh ini booking hotel atau belanja di pasar tradisional sih?
Berikut cara-cara booking hotel di Travelio. Jadi kita bisa menyesuaikan budget yang kita punya dengan hotel yang kita inginkan.

  1. Pilih lokasi tujuan kita, tanggal menginap, dan bintang hotel yang diinginkan.

Travelio6

2. Klik hotel yang kita mau. Lalu masukkkan harga penawaran yang kita inginkan

travelio3

3. Penawaran kita diproses Travelio. Bila disetujui segera lakukan pembayaran untuk mendapatkan voucher hotelnya.

travelio2

4. Yipiii… selamat menginap di hotel yang diinginkan ya!

travelio1

 

 

travelio5

 

 

 

Oya sekarang Travelio sudah ada mobile apps-nya. Jadi memudahkan kita untuk mengaksesnya kapanpun dari hp. Baru ada di google play sih. Yuuuk cepetan download aplikasinya, gunakan untuk acara berlibur yang menyenangkan dan sesuai budget. Selamat berlibur!

 

Abdali Farm, Sisi Lain Kuwait

To travel is to discover that everyone is wrong about other countries.

(Aldous Huxley, penulis)

Kuwait Tower1
kuwait tower kebanggaan Kuwaiti

Apa persepsi Anda tentang Kuwait? Negara kaya raya, negara minyak, gurun pasir, panas, gersang, tidak aman karena perang dengan Irak? Yup, itu juga yang ada dalam pikiran saya tentang Kuwait. Sebagian besar betul, memang begitu adanya. Namun, mengenai persepsi tidak aman salah besar.

Selama hampir tujuh tahun tinggal di sana, saya merasa Kuwait jauh lebih aman daripada Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Salah satu buktinya, bila Anda berkunjung ke Kuwait, Anda akan melihat jejeran mobil lux terparkir begitu saja di depan rumah. Sebagian besar rumah di Kuwait tak memiliki garasi dengan sistem keamanan canggih. Dan mobil-mobil mewah itu aman-aman saja, jarang terbetik berita pencurian.

Pada tahun keempat tinggal di sana, saya menemukan sisi lain dari Kuwait yang jauh dari persepsi saya semula. Bermula dari rencana dadakan teman-teman suami dan keluarga masing-masing ber-konvoi ke daerah utara Kuwait, ke wilayah Abdali yang dekat border Irak. Tapi, hampir satu jam perjalanan kami hanya menemukan gurun pasir datar yang membosankan. Anak-anak mulai rewel karena merasa tak ada pemandangan menarik. Walau mereka sempat terhibur ketika melihat kawanan unta. Kami berhenti dan foto-foto cantik dengan para unta itu, hehehe…. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke Kuwait City, namun sebelumnya kami mencari mushala dulu untuk salat Asar. Dan masih berharap bisa mendapat pengalaman seru hari itu.

 

Farm Ville di Gurun Pasir

Selepas salat, seorang bapak Kuwaiti, menghampiri ketua rombongan kami, bertanya apa yang sedang kami lakukan di tempat itu. Rupanya mushala itu miliknya, yang terletak di depan gerbang rumahnya yang sekelilingnya dipagari tembok tinggi yang entah ujungnya di mana saking luasnya. Tak disangka,beliau mengundang kami ke rumahnya. Dan apa yang kami lihat kemudian, membuat kami melongo, histeris karena takjub dan girang. Yang kami datangi adalah sebuah lahan pertanian yang luas dan modern. Tanah pertanian di gurun pasir yang gersang!

Jalan ke Farm
jalan menuju ke farm

Sang pemilik dengan senang hati memandu tour kami di tanah pertaniannya. Mulai dari menunjukkan rumahnya yang super luas. Di depan rumah utama, berderet rumah para pekerja. Lantas mengajak kami ke sebuah tenda besar yang ternyata di dalamnya adalah kolam renang! Beliau pun dengan bangga menunjukkan green house-nya dimana beberapa pohon sedang berbuah ranum.

Foto3_Ladang Gandum
hamparan hijau ladang gandum. siapa sangka ini ada di gurun pasir

Tour sebenarnya dimulai, kami melongo ketika melihat hamparan hijau tanaman sayur yang luas. Bunga-bunga bermekaran di pinggir jalanan kebun yang lebar. Tanah pertanian itu ternyata sangat luas karena itu disediakan mobil-mobil jeep untuk berkeliling. Namun kami memilih untuk berjalan perlahan menikmati pemandangan yang tak biasa ada di gurun pasir. Sejauh mata memandang terlihat hijau tanaman sayur dan gandum. Rasanya seperti pulang ke kampung di Indonesia.

 

Foto4_Hewan Ternak
kawanan ternak di pertanian

Lepas dari ladang gandum, kami melihat peternakan domba, bebek, dan unta. Anak-anak senang sekali melihat domba-domba yang gemuk dan bersih. Juga bebek-bebek yang berbaris dan bergerombol di area kandangnya. Namun, yang paling menyenangkan ketika melihah peternakan unta. Melihat unta dari dekat, memegangnya, dan berfoto narsis dengan unta, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

 

Foto7_Unta&Kids
anak-anak senang sekali bisa melihat unta dari dekat

 

Foto6_Dalam Tenda
tenda eksklusif yang mewah, salah satu tenda ada kolam renangnya

 

 

Tour kami pun berakhir di sebuah tenda besar yang di dalamnya terhampar karpet tebal dan dhiwaniya, kursi lesehan khas Arab. Tour yang cukup melelahkan namun tak berasa karena begitu takjubnya kami melihat semua yang ada di lahan pertanian itu. Tuan rumah pun kemudian menghidangkan teh dalam teko khas Arba dengan gelas-gelas kecilnya. Kami berbincang hangat dengan bapak dan ibu pemilik lahan pertanian itu. Mengucapkan terima kasih atas undangan tulusnya untuk berkeliling di lahan pertaniannya. Benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan.

 

 

 

 

Tentang Farm di Kuwait

Foto5_Pompa air
penampungan air dan pompanya di farm

Kuwait adalah negara yang terletak di ujung Teluk Persia dengan total luas 17.820 km persegi. Di sebelah Utara dan Barat Laut berbatasan dengan Irak, di sebelah Barat dan Selatan dengan Arab Saudi, dan menghadap Teluk Persia di sebelah Timur. Kuwait berupa tanah datar, mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar adalah gurun dengan beberapa oasis.

Kuwait memiliki iklim gurun yang ditandai dengan musim panas yang panjang, kering, dan suhunya mencapai 50 derajat Celcius dengan kemunculan badai pasir yang lumayan sering. Sementara itu musim dinginya sangat dingin, suhu kadang-kadang bisa di bawah 0 derajat Celcius. Dan jarang sekali ada hujan.

Yang disebut tanah subur di Kuwait berupa tanah dengan tekstur berpasir hampir 80-90 persen mengandung pasir. Sedikit sekali kandungan bahan organik dan gizi-gizi yang dibutuhkan oleh tanaman. Kurang cocok untuk lahan pertanian. Tak heran bila sektor pertanian ini menyumbang 0 persen pada pendapatan perkapita negara minyak ini.

Lokasi pertanian terletak di daerah Wafra, dekat border Arab Saudi. Juga di Abdali, yang beradar dekat border Irak. Pertanian di kedua daerah ini terutama di Abdali sebagian besar dimiliki oleh perorangan. Sementara itu, pertanian yang dikelola oleh negara terletak di daerah Sulaibiya, terletak di tengah-tengah Kuwait. Tanahnya lebih subur dibanding lahan di Wafra atau Abdali.

Untuk saluran air/ irigasi di lahan pertanian ini rata-rata menggunakan air tanah yang dipompa. Seperti terlihat di Abdali Farm, saya melihat sebuah penampungan air dengan pompa air yang memompa air dari dalam tanah. Dan itu digunakan untuk mengairi lahan pertanian yang luasnya hektaran.

Kisah Sukses Ayam Bakar Mas Mono: Gerobak Dagangan Ambruk Ketika Jualan

mas monoNama lengkapnya adalah A. Pramono, namun lebih akrab disapa Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang sudah punya cabang di mana-mana. Profilnya sudah mejeng di pelbagai koran dan majalah kenamaan di Indonesia. Beberapa kali menjadi bintang iklan juga. Dan belakangan ini sibuk berkeliling menjadi mentor wirausaha.

Lelaki kelahiran Madiun ini hanya menamatkan pendidikannya sampai SMA. Kemudian merantau ke Jakarta, bekerja sebagai office boy. Pekerjaan yang membanggakan baginya, saat itu! Orang tua dan para tetangga kampung tahunya dia bekerja di kantor yang mentereng, ber-AC, ada banyak komputer, dan tentunya nyaman. Namun kebanggaan itu luntur seketika, ketika bapaknya terbaring di rumah sakit, dan Mas Mono tak punya uang untuk membantu membiayai pengobatannya. Tamparan yang sangat keras baginya, sebagai seorang anak, tak mampu membantu ketika orang tuanya sedang sakit.

Akhirnya Mas Mono pun mengambil keputusan yang berani. Memajukan dirinya, keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. “Saya tak pernah pakai kata mengundurkan diri ya, karena bagi saya dengan keluar dari pekerjaan itu, berarti saya sedang memajukan diri saya,” katanya tegas. Berjualan gorengan menjadi pilihannya mencari nafkah selepas keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. Mas Mono pun keliling dari satu sekolah ke sekolah lain menjajakan gorengannya. Sehari hanya bisa mengantongi uang antara 15 ribu-20 ribu rupiah. Masa-masa yang sulit baginya.

Mas Mono pun mulai meragukan keputusannya berjualan gorengan, ketika ibunya dari Madiun datang mengunjunginya ke Jakarta. Ibunya sedih melihat putra kesayangannya menjadi penjaja gorengan, keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari pagi sampai sore hari, hanya mendapatkan uang 20 ribu rupiah. Ibunya lebih suka kalau Mas Mono kerja di kantoran saja, walau hanya sekedar menjadi office boy.

Kesedihan ibunya, menjadi tamparan kedua baginya. Mas Mono pun memutuskan untuk beralih usaha, menjual ayam bakar. Berjualan di kaki lima, tepatnya di jalan Soepomo, seberang kampus Universitas Sahid, Pancoran. Awal berjualan ayam bakar, modalnya 500 ribu rupiah untuk membeli gerobak, dan lima ekor ayam. Malang nian, pertama berjualan, gerobaknya ambruk, ayam-ayamnya pun jatuh.

“Rupanya gerobak untuk jualan ayam bakar itu lain dengan gerobak gorengan, harus lebih kokoh karena membawa tempat nasi yang berat,” jelas Mas Mono menganalisa gerobaknya yang ambruk diawal dia berjualan ayam bakar.

“Saya lap ayam-ayam yang jatuh itu satu persatu, biar bisa dijual,” lanjut mas Mono mengenang kisah awalnya berjualan. Waakss.. jorok dong?! “Nggak apa-apa, yang penting kan yang beli nggak tahu kalau ayamnya sudah jatuh,” jawab Mas Mono santai setengah bercanda. Yang pasti, sekarang ayam bakarnya tak lagi di jual di gerobak, tapi di restoran yang Insya Allah terjamin kebersihannya, hehehe…

Lanjut ke cerita Mas Mono, jualan ayam bakar itu dijalaninya dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Jangan berprasangka baik bahwa ayam bakarnya habis setiap jam 2 siang ya, ternyata itu karena jualan di kaki lima itu ada shift-nya. Tiap jam 2 harus gantian dengan penjual lainnya. Jadi laku nggak laku, jam 2 siang itu, Mas Mono harus menutup jualan ayam bakarnya.

Seiring waktu, jualan ayam bakarnya semakin berkembang. Ayam Bakar Mas Mono mulai melayani katering di pelbagai kantor. Dua stasiun televisi swasta menjadi langganan tetap kateringnya. Belum lagi melayani katering dari perusahan-perusahaan besar yang mengadakan acara. Sekali order bisa sampai 4000 boks harus dia sedikan. Ayam Bakar Mas Mono pun mulai buka cabang di mana-mana. Karyawannya pun bertambah seiring semakin meluas jaringan usahanya.

“Selama bertahun-tahun saya pakai sistem manajemen laci. Uang hasil jualan saya simpan di laci, begitu mau belanja tinggal buka laci,” jelas Mas Mono ketika ditanya manajemen usahanya.

Namun seiring semakin besar usahanya ditambah lagi setelah Mas Mono bergabung dengan Entrepreneur University, maka Ayam Bakar Mas Mono pun memperbaiki sistem manajemennya. Hasilnya tahun 2010, Ayam Bakar Mas Mono sudah bisa mem-franchise-kan usahanya. Suatu prestasi yang besar karena tidak setiap usaha bisa menjadi franchisee.

Walau kini sudah bisa dibilang sebagai pengusaha yang sukses; sudah bisa membangunkan rumah orang tua di kampung, membawa ibunya naik haji bersama, mempunyai mobil mewah, dan tabungan yang mencapai milyar, masih ada yang meragukan tentang usahanya.

“Orang-orang kampung itu bilang, masa sih Mono jualan ayam bakar aja bisa kaya begitu?” katanya mengutip omongan tetangganya di kampung.

“Mereka nggak tahu kalau saya tak hanya jualan ayam bakar, tapi juga membuka katering,” lanjutnya gemas.

“Orang-orang juga nggak tahu, ketika memulai usaha ini saya harus bangun jam 3 dini hari untuk belanja ke pasar. Jam 4 subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Mas Mono menjelaskan kalau kesuksesan yang diraihnya sekarang tidak diperolehnya dengan instan. Tapi diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras. Butuh hampir 10 tahun untuk membesarkan Ayam Bakar Mas Mono, dari pertama dia membukanya tahun 2001.

mas mono di kuwait
Mas Mono beserta ibu-ibu komunitas pengajian Khairunnisa Kuwait

Note:

Tulisan ini saya buat ketika Mas Mono berkunjung ke pengajian ibu-ibu di Kuwait, ketika itu beliau diundang suatu organisasi untuk memberikan training wirausaha.

foto-foto diambil dari FB Mas Mono

“Menjadi Perempuan Kaya”

Menjadi perempuan kaya adalah resolusi keuangan saya di momen Idul Fitri tahun ini. Bukan tanpa alasan saya mencanangkan resolusi ini. Juga bukan ujug-ujug terjadi begitu saja, tapi ini sudah jadi pemikiran atau tepatnya cita-cita sejak lama. Hanya bagaimana mewujudkannya saja mungkin yang masih meraba-raba selama ini, hehehe… Jadi momen lebaran ini sepertinya tepat sekali untuk menjadikan ini sebagai resolusi.

Perempuan kaya yang saya cita-citakan adalah perempuan yang bisa berdikari secara ekonomi atau finansial. Tak masalah berapa banyak materi yang dihasilkan, walau mungkin hanya seribu perak, yang penting saya tahu bagaimana mencari uang. Apa sumber uang yang bisa saya hasilkan. Apa potensi saya yang bisa menghasilkan materi.

mandiri_cermati

Berikut beberapa alasan kenapa saya harus jadi perempuan kaya:

  1. Sudah menjadi kekhawatiran semua istri yang menggantungkan sumber keuangan keluarganya pada suami, bagaimana bila kepala keluarga itu pergi? Baik karena alasan perceraian atau meninggal dunia. Bukan berarti mengharapkan hal jelek terjadi, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan bukan? Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila itu terjadi, saya ingin sudah siap terutama secara materi dalam artian saya tahu bagaimana caranya mencari uang, karena life must go on bukan, apalagi dengan empat anak yang menjadi tanggungan, hehehe….
  2. Perempuan itu banyak sekali kebutuhan pribadinya, mulai dari perawatan badan dan make up, baju, tas, sepatu, buku, dan lainnya. Alhamdulillah selama ini suami tidak pelit mengeluarkan uang untuk kebutuhan itu, tapiii kadang suka ada perasaan bersalah ketika membelanjakannya? Aduh boros nggak ya ini? Perlu gak ya ini? Bener gak bu ibu? Nah, kalau belanja dengan uang sendiri tentu perasaan bersalah itu akan sedikit berkurang, hehehe….
  3. Setelah menikah, seorang anak perempuan tidak punya kewajiban membantu orang tuanya dalam hal finansial. Bila selama ini suami kita berbaik hati mengirimkan uang bulanan ke ortu, itu adalah tanda cintanya pada kita. Itu pun setelah suami memenuhi kebutuhan rumah tangga kita dan mendahulukan ortunya terutama ibunya. Dengan punya uang sendiri, kita bisa membantu ortu atau saudara-saudara yang membutuhkan walau tetap harus dengan sepengetahuan suami.

Ide_Lomba Cermati

Setelah mencanangkan resolusi menjadi Perempuan Kaya, saya mulai mencari-cari informasi dan peluang, apa sih yang bisa dilakukan ibu rumah tangga seperti saya untuk menghasilkan uang? Tanpa sengaja saya membaca artikel dari Cermati tentang 7 Jenis Pekerjaan Freelance Terpopuler”. Ketujuh pekerjaan itu adalah 1) penulis, 2) pemandu wisata, 3) guru les privat, 4) reporter atau contributor, 5) proofreader, 6) barista, 7) fotografer.

Begitu membaca itu, langsung seperti ada lampu menyala di atas kepala saya seperti di komik atau film-film kartun. Ada beberapa pekerjaan yang bisa saya tekuni dan bila diseriusi bisa menghasilkan materi. Belakangan ini saya lagi mencoba serius menulis dan mengirimkannya ke media, beberapa dimuat dan mendapatkan honor. Girangnya bukan main, namun belum terlalu diseriusi, masih moody, mungkin karena belum kepepet ya, ihhh jangan sampai deh.

 

Sampai kemudian saya baca artikel ini “5 Cara Sukses Menjadi Mompreneur” . Salah satu poinnya mengena banget yaitu pilihlah usaha yang sesuai dengan passion. Dan passion saya selama ini membaca dan menulis. Baiklah, saya pun mulai serius menekuni dunia tulis menulis ini.

mompreneur_cermati

Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mewujudkan usaha menjadi Penulis:

  1. Mengikuti kelas-kelas menulis online. Sadar diri suka moody, saya memilih kelas menulis yang intens dan langsung praktek agar bisa langsung menghasilkan karya tulisan yang bisa dikirim ke media. Kenapa online? Karena bisa diikuti di rumah sambil momong anak dan melakukan pekerjaan saya sebagai ibu RT.
  2. Mengikuti lomba-lomba menulis, untuk mengasah kemampuan menulis juga menepati jadwal deadline.
  3. Membuat blog dan mengikuti lomba-lomba menulisnya. Dengan mempunyai blog, saya seperti mempunyai majalah sendiri, setiap hari dituntut berpikir nulis tema apa ya yang menarik biar blog dikunjungi pembaca, hehehee… Dan itu melatih kemampuan mencari ide tulisan dan menuliskannya.
  4. Bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Tujuannya selain untuk menambah relasi atau networking, juga untuk ‘mencuri’ ilmu dari para penulis dan blogger senior.
  5. Melamar menjadi reporter atau kontributor media. Sebelum full jadi ibu RT, saya adalah seorang reporter di majalah remaja. Selain itu saya juga lagi mencoba membuat video-video reportase, kan sekarang lagi ngetren citizen journalism.
  6. Menulis buku atau novel. Ini obsesi terbesar saya, Insya Allah bisa terwujud. Aamiin

Walaupun penghasilan dari menulis belum seberapa, kan baru memulai serius ya, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk mengelola kebutuhan keuangan “pribadi”. Saya mencoba menerapkan tips mengelola kebutuhan  keuangan “si bunda” dari perencana keuangan Prita Ghozie. Katanya ada lima hal yang harus kita para ibu perhatikan dan siapkan dalam mengelola keuangan agar bisa jadi Perempuan Kaya:

  1. Sumber dana pos Bunda. Bila kita ibu bekerja, tentukan berapa persen dari penghasilan yang masuk ke pos khusus ini. Bila sumber dana bergantung dari pasangan, pastikan pengeluaran pribadi tidak lebih dari 10% dari uang yang diberikan.
  2. Buat anggaran terpisah. Pisahkan anggaran pribadi kita dari anggaran rumah tangga yang dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
  3. Miliki wish-list. Pisahkan kebutuhan dan keinginan. Sesekali memenuhi keinginan tentu sah saja, tapi pastikan kita sudah mempersiapkan dananya terlebih dahulu.
  4. Punya dana darurat untuk kebutuhan pribadi kita, terlepas dari dana darurat keluarga. Jumlah idealnya antara 1-2 kali pengeluaran pribadi kita.
  5. Bayar kartu kredit sendiri. Katanya kesalahan terbesar para ibu adalah pandai menggesek kartu kredit, tetapi menyerahkan semua urusan pembayaran kepada pasangannya (ini mah nyindiri saya, hahaha….)

Selain itu dianjurkan kita para ibu punya rekening terpisah juga dan belajar untuk berinvestasi sedikit demi sedikit. Karena itulah, belakangan saya jadi rajin ngintip CERMATI, baca berbagai artikelnya dari mulai tips keuangan, gaya hidup dan karir, bisnis dan investasi sampai ke produk perbankan. Salah satu pendorong saya mencetuskan resolusi ini juga karena membaca artikel di website ini.

Saya juga lagi getol lihat produk perbankan syariahnya, bercita-cita suatu hari bila royalti menulis saya sudah besar bisa disimpan di salah salah satu deposito perbankan syariah biar cepat jadi Perempuan Kaya, hehehe…. Boleh dong bermimpi, harus malah yaaaa!

Yuuuk jadi Perempuan Kaya yang berkah dan bermanfaat 🙂

<center>
<a href=”https://www.cermati.com/pages/lomba-blog-resolusi-lebaranku” target=”_blank”><img alt=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” src=”http://s2.postimg.org/eagumify1/resolusi_lebaran.jpg” title=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” /></a></center>

 

*picture taken from internet

 


Lomba Blog Resolusi Lebaran

Artikel Gado-Gado Femina: “Balada Si Kutu Buku”

Gado2_Kutu Buku

Artikel ini saya kirim pada 27 Mei 2014. Entah apa yang mendorong nulis dan mengirimkannya saat itu, tiba-tiba saja pengen nulis dan kirim ke media. Waktu itu memang sudah mulai ikutan kelas menulis online tapi tak terlalu intens. Ketika menulis ini saya membayangkan beberapa sahabat di Kuwait yang sama hobi membaca.

Memasuki September, saya ikut kelas menulis Merah Jambu besutan mbak Nurhayati Pujiastuti yang sukses membangkitkan semangat menulis saya. Kelasnya sih kelas menulis cerita anak, tapi kami juga ditantang untuk menulis artikel, saat itu targetnya rubrik Gado-Gado majalah Femina.

Satu artikel Gado-Gado berhasil saya tulis ketika itu. Ketika mengirimkan ke redaksi via email pada 7 Oktober 2014, saya menyertakan juga “Balada Si Kutu Buku” yang belum ada kabar juga setelah 4 bulan dikirim.

Lalu kabar gembira itu datang, 5 Desember 2014, harinya saya ingat sekali – Jumat — karena di Doha, Jumat itu awal weekend. Pagi-pagi ketika sedang menyiapkan sarapan saya iseng cek email, ternyata ada email dari Femina yang menginformasikan kalau artikel Gado-Gado yang saya kirim akan dimuat. Saya diminta mengisi formulir konfirmasi bertanda-tangan di atas materai. Wow… tak terkira girangnya, saya teriak histeris sambil lompat-lompat, maklum tulisan pertama yang dimuat di media, hahaha….

Saya sampaikan kabar gembira itu di grup Merah Jambu, ternyata teman sekelas pun mendapat kabar gembira yang sama. Lantas dia bertanya apakah artikel saya itu judulnya  Kutu Buku, karena sekretaris Femina salah menyebutkan judul tulisannya. Bersamaan dengan itu saya mendapat email susulan dari Femina kalau artikel saya yang lain, ya si kutu buku itu juga akan dimuat.

Masya Allah, Alhamdulillah, rasanya saya mau pingsan karena bahagia sekali. Dua kabar gembira tak terduga. Dan rasanya tak percaya ketika tulisan saya itu benar-benar diterbitkan di Femina No. 50, 20-25 Desember 2014. Walaupun agak kecewa karena nama yang ditulis tidak lengkap, tapi yang penting, namaku masuk majalah maaaak, Femina lagi! Hahaha….

Untuk konfirmasi pemuatan ini, mba Ratna sekretaris Femina mengabarkan via SMS. Saya pinjam no telepon adik saya di Indonesia. Sementara itu untuk surat konfirmasi keaslian naskah saya diperbolehkan tidak pakai materai ketika saya informasikan ke mbak Ratna kalau posisi saya sedang di Doha, dan susah mendapatkan materai.

Namun yang paling membahagiakan itu ketika mendapati honor masuk ke rekening, sekitar dua minggu setelah tulisan tayang. Yuhuuu… honor pertamaku, uang pertamaku gitu loh, hahaha…. Honornya 500 ribu rupiah potong pajak, lumayan banget kan, bisa beli bakso beberapa mangkuk, hehehe….

Selain honornya besar, bila kirim ke Femina kita pun dapat kepastian soal dimuat atau tidaknya naskah kita. Jadi enak, gak di PHP-in atau bertanya-tanya gimana nasib naskah kita. Bahkan ada pemberitahuan naskah kita diterima mereka atau tidak. Untuk kasus saya tidak ada pemberitahuan penerimaan naskah tapi langsung konfirmasi kalau naskah akan dimuat.

Teman-teman yang tertarik kirim, yuk ya yuk segera tulis dan kirimkan.

Ini Ketentuan Naskah Gado-Gado:

  1. Naskah orisinil karya asli dari penulis yang bersangkutan, dan bukan terjemahan.
  2. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online.
  3. Kisah human interest (bisa pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain) tentang berbagai hal menyangkut kehidupan sehari-hari. Diceritakan secara ringan. Bisa lucu, sedih, yang pasti ada hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah tersebut.
  4. Ditulis dengan Arial size 122. 4500 karakter
  5. Dikirimkan melalui: Email : kontak@femina.co.id, Subject: [Rubrik Gado Gado] atau kirim Pos: Majalah Femina Gedung Femina, Lantai 5 Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B 32-33, Kuningan Jakarta 12910, Subject di pojok kiri atas amplop: [Rubrik Gado Gado].

Berikut naskah asli yang saya kirimkan:

Balada Si Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait. Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa semua isi rumah kami di Indonesia termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan saya. Hanya saja saya lupa memborong buku-buku baru sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya pun kehabisan bahan bacaan. Padahal buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Di Kuwait, kami para perempuan tidak bisa bebas keluar rumah.

Kekecewaan itu terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat di Kuwait. Saya pun mulai berkenalan dengan dunia maya. Portal-portal berita dan tabloid online hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda. Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan kita ini, Femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerbungnya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi. Yang paling menjengkelkan ketika cerbung baru terbit, setiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan, rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh ….

Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor si majalah tercinta itu dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Pada beliaulah kami membeli si cantik Femina. Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar majalah kesayangan itu, kami harus membayar sebesar Rp100.000,00 lebih, tergantung kursnya, kadang bisa sampai Rp150.000,00. Demi majalah tercinta, kami para pencintanya tak keberatan merogoh kocek sebesar itu. Dan setelah itu dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha…ha…ha…..

Selain itu setiap teman yang kebetulan liburan ke Indonesia, biasanya suka diminta tolong titip beli buku terbaru, tapi tentu saja tidak bisa menitip banyak-banyak, paling satu atau dua buah buku. Kalau nitip satu koper kebangetan namanya, bisa dikenakan ongkos kirim nanti, hahaha…. Jangankan nitip, saya sendiri kalau mudik dan membawa buku banyak suka diprotes sama suami, alhasil harus perang batin dulu mana buku-buku baru yang bisa dibawa ke gurun pasir tahun itu–terutama berperang antara buku anak-anak dan novel–selebihnya harus menunggu dibawa tahun depan. Kadang sebelum mudik suami sudah wanti-wanti jangan terlalu banyak membawa buku terutama novel. Buku anak-anak lebih prioritas, he…he…he….

Dan kebiasaan membawa buku ini mulai saya kurangi ketika istrinya teman suami yang back for good ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata kalau kembali ke Indonesia tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu sekali betapa berat hati teman itu melelang buku-buku kesayangannya yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Nanti bisa mengumpulkan lagi yang baru di Indonesia.” Begitu jawabnya ketika saya tanya perasaannya berpisah dengan koleksi bukunya. Ah, saya tahu dia sedih sekali.

Saya yang tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, mulai mencicil mengembalikan buku-buku di Kuwait yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua. Bahkan ketika tahu ada cargo murah ke Indonesia, saya mulai mengepak buku-buku kesayangan itu dan mengirimnya balik ke Indonesia melalui cargo tersebut. Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Lantas saya pun beralasan kalau ingin membaca kembali buku tersebut makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha…ha…ha….

Dan saya kaget sekali ketika mendapat kabar cargo yang saya pakai untuk mengirimkan buku-buku kesayangan itu gudangnya di Kuwait habis terbakar. Walaupun buku-buku saya telah selamat sampai di Indonesia, saya kaget dan berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk sahabat saya sesama kutu buku yang seluruh koleksi bukunya ikut terbakar di gudang tersebut. Bukan hanya buku, tapi juga koleksi cd film-film Koreanya dan juga peralatan elektronik milik suaminya. Tambah sedih lagi ketika mendengar pihak cargo yang telah berjanji untuk mengganti rugi sampai saat ini belum juga membayar kerugian tersebut.

Tapi dua tahun belakang ini saya gembira sekali nyaris berteriak-teriak kegirangan ketika ebook-ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan Femina pun sudah hadir emagazine-nya, wow setiap minggu saya tidak lagi ketinggalan tiap edisinya, bahkan saya masih bisa mengunduh edisi-edisi sebelumnya yang terlewat. Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan simpan menyimpannya. Walaupun saya suka dikelilingi buku-buku dan suka sekali dengan bau lembaran buku baru, tapi bagi kami yang tinggalnya mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila pindah harus membawa-bawa berkardus buku.

Cukup punya satu tablet! Dan saya pun bisa membawanya ke mana saja, membacanya di mana saja, kapan saja saya inginkan. Ho…ho…ho… benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. Rasa-rasanya saya ingin mencium Steve Jobs atau siapapun itu yang telah menciptakan smartphone dan tablet. Kini koper dari Indonesia pun bisa diisi dengan makanan-makanan Indonesia favorit. Atau sepatu, tas, baju-baju etnik hasil hunting selama liburan di Indonesia. Dan saya pun bisa berbangga sedikit telah ikut menyelamatkan lingkungan dengan membeli buku atau majalah digital yang paperless. Ahh.. welcome to digital world, he…he…he…. (Irra Fachriyanthi-Doha Qatar)

Ketika dimuat di Femina, redaktur mengedit beberapa bagian dari tulisan termasuk judul tulisan.

Naskah setelah diedit Femina:

Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu juga yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait.

Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa isi rumah kami di Indonesia, termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan. Ini memang berkah luar biasa. Hanya, saya lupa memborong buku baru, sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya sudah kehabisan bahan bacaan!

Padahal, buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Saat itu di Kuwait, kami, kaum wanita, tidak bisa bebas keluar rumah. Terbayang bosannya, bukan?

Kekecewaan itu cukup terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat. Portal-portal berita dan tabloid online Indonesia hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air, juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda.

Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan, femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerber-nya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi.

Yang agak menjengkelkan ketika cerber baru terbit, tiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Huh! Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan. Rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh…. Ha… ha… ha….

Beberapa teman Indonesia ternyata mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor majalah tercinta ini dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Kepada beliaulah kami membeli femina.

Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar, kami harus membayar sebesar Rp100.000 lebih, tergantung kursnya. Bahkan terkadang bisa sampai Rp150.000. Tapi, kami sungguh tak keberatan. Dan setelah itu, bisa dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha… ha… ha….

Kebiasaan membawa buku-buku ini mulai saya kurangi ketika saya tahu seorang istri teman suami yang kembali pulang ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata, tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu ia sedih sekali.

Tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, saya mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, saya mencicil mengembalikan buku-buku yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua.

Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Saya pun beralasan kalau ingin baca-baca lagi, makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha… ha… ha….

Dua tahun belakang ini saya gembira sekali dan nyaris teriak-teriak kegirangan ketika ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan, femina pun sudah hadir emagazine-nya.

Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan penyimpanan. Walaupun suka sekali pada bau lembaran buku baru, bagi kami yang tinggal mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila berpindah-pindah dengan menenteng-nenteng berkardus buku.

Rasanya saya ingin mencium Steve Jobs! (Fachriyanthi-Doha Qatar)