Balado(a) Ikan Teri Vs Opor Ayam

Malam ini kita sama-sama tertawa. Terbahak-bahak. Mentertawakan kepikunan kita. Ternyata sudah tanggal 7 Februari saja. Bagaimana bisa terlewat dua hari lamanya ya? Bagaimana bisa lupa ya tanggal bersejarah itu? Bahkan ternyata tidak satupun dari kita yang bersusah-susah menset timer di tanggal yang merupakan awal babak baru hidup kita itu.

Enam tahun lalu, di tanggal itu, di rumahku, kita juga tertawa bersama-sama. Terbahak-bahak. Mentertawakan salah satu teman kita yang terbengong-bengong ketika melihatmu keluar dari kamar dengan memakai baju kebesaran itu. Kebesaran dalam arti yang sesungguhnya, hahahaha….
“Ngapain kamu di sini?” begitu tanyanya dengan wajah syok.
“Kaaaliaan…???” mukanya bertambah kaget ketika aku keluar juga dari kamar itu menghampirimu. Kita berdua berpandangan tak tahu harus menjawab gimana. Hanya tersenyum simpul.
“Hahahahaha…. Bener-bener kejutan nih!!!” teman kita tertawa begitu kerasnya. Kita semakin malu.
“Tadinya sepulang dari sini aku mau langsung ke rumahmu lho. Tadinya aku bingung mo ngadiriin undangan siapa dulu nih. Dapat kabar kalian nyebar undangan. Ternyata undangannya sama tho. Hahahaha…… selamat deh!”
Hari itu kita tertawa begitu banyak. Tertawa bahagia. Akhirnya….

Enam tahun sudah ya. Katanya wajah kita akan semakin mirip satu sama lain? Benarkah? Tapi dari awal, banyak yang menyangka kita adik kakak kok. Kata mereka aku kakaknya, kamu adiknya, ugghhh…sebelnya.
Tak terasa sudah enam tahun berlalu ya. Katanya sifat dan kebiasaan kita akan sama lho? Mungkin saja, karena belakangan ini kamu sering komplain, jadi semakin gak rapi, semakin pelupa, semakin gak teratur, dan semakin-semakin lainnya yang katanya kebiasaan jelekku. Aargghhh…..

Kau suka opor ayam.
Aku suka balado teri.
Dan kau pun pernah begitu marah, ketika tanganku yang belepotan ikan asin menaruh makanan kesukaanmu di piring makanmu tanpa permisi. Katamu jadi menghilangkan selera makan, weeee….

Kau suka pop.
Aku suka dangdut.
Tak hanya aku, tapi juga keluarga besarku. Dan kita pun kelabakan membujuk mereka untuk tak menghadirkan organ tunggal di hari bersejarah itu, hahahaha….

Kau suka film mandarin.
Aku suka film India.
Tak disangka kau mau bersusah payah meminjam cd film India ke teman kantormu yang orang India, hanya untuk menyenangkanku. Lantas kau pun tahu Khuch Khuch Ho ta he dan Churi churi cup ke, walau setelah itu kau menyerah tak mau lagi nonton film India.

Kau suka film anak-anak.
Aku suka film romantis.
Tapi katamu aku sama sekali tak romantis. Tak seperti dirimu yang katanya romantis. Tapi ternyata kita sama-sama lupa tanggal bersejarah itu ya, hiks….

Kau suka diam di rumah.
Aku suka jalan-jalan.
Lantas kita pun terdampar di supermarket untuk belanjan bulanan. Ya anggaplah itu sebagai jalan-jalan, hahahaha….

Kau suka tepat waktu.
Aku suka…agak telat 🙂
“Lima menit lagi! Timer sudah bunyi!” Begitu selalu kau teriak-teriak tiap kita mau pergi, melihatku pontang-panting menyiapkan diri dengan wajah usilmu.

Kau suka hal yang terencana.
Aku suka hal yang spontan.
Dan terjadilah tragedi meminjam-cincin-adikmu itu 🙁 Maafkan ya….

Kau suka bicara pelan.
Aku suka teriak-teriak.
Lantas kau pun merasa aku marah-marah padamu. Dan aku pun akan kelabakan menjelaskan kalo tak ada maksudku untuk marah-marah.

Kau suka kesunyian.
Aku suka keramaian.
Kita pun lalu berebut remote tivi. Menurutmu suaranya terlalu kenceng, menurutku terlalu pelan.

Kau dari keluarga kecil.
Aku dari keluarga besar.
Dan suatu hari tak terlupakan, satu mobil keluargamu ‘berhadapan’ dengan pasukan satu kampung keluargaku, hahahaha…..

Begitu banyak beda diantara kita.
Kadang membuat kita salah persepsi, yang tak jarang berujung di perselisihan.
Namun tak apalah, karena ada satu sama diantara kita, yang membuat beda kita menjadi tak berarti, yang membuat beda kita menjadi indah.
Kita SAMA saling MENCINTAI. KarenaNYA.
Cukuplah itu untuk membuat kita mengikatkan diri dalam sebuah mitsaqun ghaliz.
Seperti halnya janji para nabi dengan Allah SWT untuk menyampaikan risalahNya.
Seperti janji Bani Israil terhadap Allah SWT untuk mengemban risalah tauhid di atas dunia. Janji yang karenanya Allah mengangkat gunung untuk ditimpakan di atas kepala Bani Israil sebagai ancaman bagi mereka yang tidak mau menepati janji.

Semoga kita bisa menepati janji itu. Semoga jodoh itu tak hanya di dunia ini, tapi juga sampai hari kekal nanti. Ya Allah kumpulkan lagi kami nanti di hari kekal abadi itu. Amiin.
(522003-522009)Balado(a) Ikan Teri Vs Opor Ayam

Setahun Memilikimu: Cilok, Sahabat, dan Mr. Google

Memilikimu adalah karunia terbesar yang diberiNya. Tentu. Tapi memilikimu juga adalah The Great Journey bagi kami, ayah dan bundamu, nak. Petualangan yang menakjubkan dan mendebarkan. Ketika kami memutuskan untuk menyambutmu di negeri gurun ini. Tanpa hadirnya enin, engki, eyang putri, eyang kakung, dan berpuluh sanak saudara, seperti ketika kakakmu hadir dalam hidup kami.

Petualangan dimulai ketika tiga bulan dalam perut kau menggoda bunda dengan makanan-makanan antah berantah. Aduh nak, darimana kau tahu kalo bunda suka cilok, yang bumbu kacangnya menggoda atau yang pake saus cabe. Hal mustahil menunggu di depan jendela, mengharap si bibi yang jualan cilok lewat dan teriak, seperti dulu ketika bunda kecil. Hiks… bunda pusing. Ayahmu apalagi. Dengan malu-malu bertanya siapakah gerangan yang bisa membuat cilok? Dan kau tahu nak, karena cilokmu, bunda menemukan sosok ibu pengganti enin dan eyang putri. Tak pernah hadir secara real. Hadirnya lewatnya kiriman makanan yang berlimpah. Suara lembutnya di telepon, menyapa dan menanya apa lagi yang bunda inginkan, jangan sungkan untuk meminta, begitu katanya.

Dan ketika hari itu datang, tepat setahun yang lalu, di RS New Mowasat, tak ada rasa sakit yang teramat dan berkepanjangan yang bunda rasakan. Kalah oleh keinginan besar untuk segera melihatmu dan membawamu pulang. Untuk menguji nyali bundamu ini, bisakah merawatmu seorang diri. Maka ketika dokter menyarankan untuk semalam lagi menginap, no way, cukup 24 jam, dan kita berempat pun pulang, mengawali petualangan yang mendebarkan itu.

Kau tahu nak, hari-hari setelah kau datang di rumah kita, adalah hari-hari yang menegangkan. Ketika harus memandikanmu pertama kali. Ketika tali pusarmu tak puput walau sudah hampir 2 minggu. Ketika badan dan mukamu merah-merah selama berminggu-minggu.Ketika badan bunda terutama bagian perut ke bawah terasa remuk redam, tapi harus terus terjaga tiap malam memberimu ASI. Ketika kau sedang rewel, menangis tiada henti tanpa bunda dan ayah tahu apa yang kau inginkan. Aarrghhhhhh……

Dan ketika itulah, ketika penat, lelah, dan panik memuncak, malaikat-malaikat itu datang. Dia yang menjaga kakakmu, ketika kau lahir. Menggantikan bunda menjemput kakakmu sekolah hampir 2 minggu lamanya. Mengajari menggendongmu, memakai stagen, mengajari memasak dan membersihkan rumah yang cepat. Yang selalu mendorong bunda untuk banyak makan dan menjaga stamina. Ada juga mereka yang selalu setia di ujung telepon, mendengar keluh kesah bunda tentangmu, selalu menjawab semua pertanyaan bunda tentang merawat tali pusarmu, mengatasi alergimu, dan banyak hal. Menenangkan bunda bahwa semuanya wajar dan baik-baik saja. Dia yang lain, yang mengantarkan pembantu ke rumah kita untuk membantu bunda tiga bulan pertama.

Kekuatan terbesar juga bunda dapatkan dari teman-teman yang sedang sama-sama berjuang, nak. Berjuang melahirkan kehidupan di tanah perantauan. Ada benang merah kasat mata yang terentang di antara kami. Ketika satu persatu mereka melahirkan, satu persatu kekuatan pun terhimpun dalam hati bunda. Kita juga bisa, nak! Itu yang bunda bisikkan padamu. Ketika seorang teman mengalami masalah dalam persalinannya, dan berhasil melewatinya. Sekali lagi bunda berbisik padamu. Jangan takut, nak, kita pun pasti bisa!

Selain mereka, ada terima kasih terucap untuk teman yang setia menemani 24 jam dalam bisu. Apapun yang bunda dan ayah tanyakan selalu dijawabnya, tak hanya satu jawaban tapi beratus bahkan beribu jawaban. Dari jawaban orang awam sampai jawaban para ahli. Menjelma menjadi orang tua yang menghalau segala kepenatan. Menjadi dokter yang menjawab segala kepanikan. Menjadi apapun yang kita minta. Bila kau besar nanti, kau bisa berkenalan dengannya, sayang. Thanks to you Mr Google 🙂

Dan di atas segalanya, bunda melihatNYA ketika kau tersenyum, cinta. Ketika kau membalas sapa dan tatapan bunda, di situ pula bunda dapatkan cintaNYA. Kau lah sendiri yang membuat bunda dan ayah bertahan bersamamu setahun ini. Mendengar celotehan pertamamu. Bahu membahu menimangmu ketika kau tak nyaman karena sakit. Harap-harap cemas ketika melihat langkah pertamamu. Dan tertawa lebar dalam bahagia ketika melihatmu dan kakak bermain petak umpet. Setiap hari bersamamu penuh dengan kejutan dan petualangan baru. Bagi kami; bunda, ayah dan kakakmu.

Hadirmu mengajarkan kami tentang cinta sebenarnya. Cinta dari para sahabat. Cinta yang mengisi hari penuh warna. Dan benarlah janji Allah, dimanapun berada, di situlah bumi Allah, maka akan kau dapati saudara-saudara yang mencinta karenaNya. Kau pun tak akan pernah kesepian dan merasa sendirian.

Terima kasih nak, telah menjadi bagian dari hidup kami. Telah menjadi petunjuk bagi hidup kami untuk lebih mengenalNYA , sesuai dengan nama yang kami pillihkan untukmu, FADHIL RASYID.