Sepanjang Pantai Utara

 



Tepat seperti rencananya, taksi yang dipesannya datang pukul 5 sore, setelah dia menyelesaikan semua pekerjaannya. Perjalanan ini telah direncanakannya jauh-jauh hari, bagaimana ia ingin melewatkan pergantian tahun. Bukan perjalanan nyaman dengan kereta eksketutif seperti biasanya kalau dia pulang. Tapi menyusuri pantai utara dengan bus ekonomi. Napak tilas. Begitu dia menamakan perjalanan ini. Perjalanan dengan sebuah misi. Ketika dia merasa semakin hari hatinya semakin tumpul.

Sebenarnya perjalanan ini Akan lebih sempurna seandainya ia naik angkutan umum ke terminal pulo gadung. Tapi otak analisisnya memperkirakan kalau di penghujung tahun, jalanan ibu kota akan penuh sesak. Bukan pilihan bijak mrnghabiskan waktu dan energi di kemacetan ibu Kota. Dia harus dalam kondisi fit karena jalanan pantura akan banyak menguras Kesadaran dan kesabarannya. Dia cukup tahu diri setelah sekian tahun berada dalam segala kenyamanan, bukan hal mudah terjun bebas ke jalanan pantura.

Dia bukan tak menyadari supir taksi yang terus meliriknya dari kaca spion tengsh Mobil. Di juga menyadari betul ketika supir taksi itu pertama kali melihatnya keluar dari kantornya yang Megan Dan mentereng. Celana jeans belel dan kaus buluk yang kini dipakainya adalah peninggalan jaman kuliahnya dulu yang tersimpan rapi di dasar lemarinya.  Agak kekecilan di badannya yang sudah naik berkilo2, tapi cukup nyaman dipakai, karena dulu dia adalah remaja kukus yang selalu memakai baju atau Celana satu nomor bahkan dua nomor lebih besar. Alasan ekonomis. Biar terpakai lama. Biar tidak sering membeli baju atau celana. Sebuah topi butut dibenamkannya dalam2 di kepalanya, hingga tak dikenali satpam, petugas kebersihan gedung yang sehari2 cukup akrab dengannya. Setelan jasnya tersimpan rapi di tas ransel, teman setianya ketika kuliah.

Setelah menghadiahkan uang kembalisn yang cukup banyak ke si supir taksi, kakinya melangkah mantap memasuki terminal pulo gadung. Jangan terlihat ragu. Jhang an berhrnti di gerbang terminal, kalau tak ingin disergap kawanan Calo yang agresif. Itulah aturan main yang dipegagnnya  dari jaman kuliah ketika dia begitu akrab dengan terminal ini. Bila terlihat keraguan sedikit saja, maka nasibnya akan berakhir seperti gadis yang dari dia turun taksi, cukup menarik perhatiannya.

Blus bunga2 dibalut kardigan biru langit. Sebuah ikat pinggang kecil melilit di pinggangnya yang ramping. Rambutnya di ekor kuda. Tas ransel mungil nan feminin dipeluknya erat di depan dada. Profil wajahnya tak terlihat jelas. Bahasa tubuhnya yang membuatnya memberi perhatian. Terlihat jelas ragu2 seperti baru pertama kali datang ke pulo gadung. Tepat seperti perkiraannya, sang gadis langsung diserbu para calo.

“Ke mana, Neng? Cirebon, Kuningan?”
“Cirebon? Ayo sini sama saya!”
“Kuningan katanya, sini naik yang ini!”
“Eh, aduh… Nanti dulu, jangan tarik-tarik dong. Bentar dong…  Aduuh!!”

Ada dorongan hati untuk menolong si gadis bunga2. Tapi dia harus segera mencari mushala karena waktu mahgrib hampir habis. Jalanan pantura yg tak bisa diprediksi, membuatnya tak yakin bisa sampai ke rumah trngsh malam. Apalagi ini malam tahun baru bung! Mungkin baru subuh dia sampai ke rumah orang tuanya. Mendadak hatinya gentar meneruskan perjalanannya. Apa yang ku cari sebenarnya? Begitu batinnya. Lintasan apartemennya yang nyaman menggodanya. Berbaring di sofa sambil menonton film dr home theaternya yang changing ditemani hot coklat jelas lebih nyaman dari pada berada di hiruk pikuk terminal pulo gadung untuk kemudian terjebak di bus ekonomi menyusuri pantura yang kejam.

Sementara si gadis yg dikerumuni para calo tampaknys telah memutuskan memilih calo yang mana. Bus Cirebon atau Kuningan tak masalah. Begitu batin si gadis. Karena rencananya dia akan turun di kota Palimanan, kemudian melanjutkan perjalanan ke kotanya dengan menaiki angkot atau elf. Mungkin dia akan sampai ke Palimanan pukul 10 atau 11 malam. Sudah larut malam memang. Tapi elf jurusan Cirebon-Bandung setahu dia biasanya beroperasi 24 jam. Apalagi ini malam tahun baru pasti akan ramai, jadi dia tidak terlalu khawatir. Setelah sampai di kotanya, dia akan menelpon ayahnya tersayang. Sudah pasti dimarahin karena pulang malam dan tak mengabari. Tak mengapa, yang penting dia bisa berjumpa dengan orang tua dan adik-adiknya. Ide menghabiskan malam dan liburan tahun baru di kamar kost-annya yang sepi dan sempit, membuatnya nekad pulang di malam tahun baru ini.

Ide pulang ini terlintas begitu saja di benaknya ketika dia berdiri di depan Atrium Senen, menanti bus kopaja seperti sore-sore sebelumnya sepulang kerja. Hanya saja sore itu kesibukan di sekelilingnya tampak berbeda. Suara terompet yang ditiup para pedagang terompet riuh bersahutan. Pita warna warni di topi berbentuk kerucut melambai-lambai riang. Suara tawa ceria bercampur dengan obrolan seru tentang rencana melewatkan pergantian tahun nanti malam. Dia sendirian. Tanpa teman. Terlihat menyedihkan. 

Dengan terpaksa dia menolak ajakan teman-temannya kantornya bermalam tahun baru di puncak. Bukan tak ingin bergabung. Dia hanya tak ingin menjadi kambing congek, satu-satunya yang single diantara pasangan-pasangan yang kasmaran. Oh betapa menyedihkan, lebih menyedihkan daripada bermalam tahun baru sendirian di kamarnya yang sempit. Karena hampir semua teman kost-annya juga pergi keluar merayakan tahun baru.

Dan tiba-tiba ide itu muncul di kepalanya. Pasti seru merayakan tahun baru di jalanan, melintasi beberapa kota melihat kesibukan warganya menyambut tahun baru. Pasti akan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Begitu tekadnya ketika dengan penuh semangat dia melompat ke metromini yang membawanya ke terminal Pulo Gadung. Walau kemudian ketika sampai di terminal itu dia tampak gentar. Selalu tak siap dengan serbuan para calo.  Ini ketiga kalinya dia pulang ke kampung halamannya naik bus dari Pulo Gadung. Seringnya dia naik kereta api ke Cirebon, lanjut naik elf ke kotanya atau minta dijemput oleh orang tuanya sekalian mereka jalan-jalan ke Cirebon.

Namun kini dia gelisah bercampur was-was. Sudah hampir 2 jam bus yang ditumpanginya berhenti di depan pintu tol. Bukan karena mogok atau macet. Tapi karena mencari penumpang demi memenuhi bus yang masih kosong seperempatnya. Bila sebelumnya dia antuasis melihat kesibukan orang-orang yang akan merayakan tahun baru dari jendela busnya, kini dia mulai resah. Ibu gemuk yang dari terminal duduk di sebelahnya, sudah dari tadi turun. Ketika dia berdiri untuk meluruskan punggungnya yang pegal, matanya menyapu ke seluruh bus. Semua penumpangnya laki-laki! Dan kini mata-mata itu menatap ke arahnya antusias. Segera dia melorotkan nyaris menjatuhkan diri ke bangku bus. Jantugnya berdegup kencang. Menyesali tindakan spontannya berdiri tadi. Ya Allah, aku satu-satunya penumpang di bus ini! Batinnya ketakutan. Semoga nanti ada penumpang perempuan yang naik dan duduk di sebelahku, Doanya penuh harap.

Namun sosok yang menghampiri tempat duduknya dan kemudian duduk di sebelahnya, bukanlah perempuan seperti pintanya. Tapi seorang lelaki, masih muda tampaknya, tapi dia tak bisa melihat mukanya dengan jelas karena tertutup topi yang dibenamkan dalam kepalanya hingga menutupi muka. Lagipula dia tak berani menatap muka lelaki itu. Yang tampak olehnya hanya celana jeans yang dikenakan oleh lelaki itu. Tampak sudah tua dan usang. Begitu juga kaus yang dikenakannya. Tampak sudah pudar warnanya. Tapi anehnya bau yang menguar dari lelaki ini terasa wangi dan segar. Untunglah, hela dia lega, karena seingat dia penumpang bus ekonomi jurusan pantura biasanya selalu bau keringat tak sedap.

Sang gadis semakin merasa lega karena tampaknya sang pria tidak tertarik padanya, tidak berusaha mengajaknya kenalan atau ngobrol. Malah dia semakin membenamkan topinya menutupi seluruh mukanya dan memposisikan tubuhnya dalam posisi tidur. Perasaannya semakin lega ketika perlahan bus bergerak dan melaju membelah jalanan Pantura.

Sudah beberapa pengamen tarling koplo yang naik ke atas bus. Kebanyakan adalah para perempuan dengan alis tebal hasil lukisan. Beberapa penjaja makanan ringan dan minuman pun sudah beberapa yang naik turun bus. Tapi sepertinya bus tak juga sampai ke kota tujuan si gadis. Beberapa kali bus berhenti karena kemacetan yang parah. Raungan sepeda motor, jeritan klakson, bercampur dengan bunyi terompet yang tak bernada. Awalnya dia menikmati semua keramaian itu. Karena bukankah itu yang diharapkannya. Merayakan tahun baru di jalanan. Namun kini pikirannya kalut karena bila sampai tengah malam dia belum sampai kota tujuannya, bagaimana nanti dia akan sampai ke rumahnya yang berada di pedesaan. Orang tuanya tak tahu kalau dia pulang malam ini. Telpon selulernya sudah mati kehabisan batere dari tadi. Itu berarti dia tak bisa memberi kabar pada orang rumah untuk menunggu dan menjemputnya.

“Maaf, boleh tahu jam berapa sekarang ya?” tanya si gadis pada pria di sebelahnya yang sedang membenahi posisi duduknya agar lebih nyaman. Jam tangan di tangan si pria, membuatnya memberanikan dia bertanya pada pria tanpa suara yang telah menjadi teman perjalanannya dari Jakarta.

“11.45” jawab si pria malas. Dia tampak sedikit terkejut ditanya oleh teman duduknya. Tanpa sadar si gadis menghela napas berat mendengar jawabannya. Wajahnya terlihat was-was dan bingung.

“Kenapa? Sebentar lagi jam 12, sepertinya Anda harus merayakan tahun baru di dalam bus,” kata si pria sinis. Si gadis menolehkan kepalanya cepat ke arah si pria, mukanya tampak tak senang dengan nada sinis si pria.

“Saya tak merayakan tahun baru!” kata si gadis ketus. Mukanya dipalingkan cepat ke arah jendela. 

“Ahh..makanya sekarang Anda di sini ya, tengah malam di dalam bus yang semua penumpangnya laki-laki, di jalanan pantura yang ganas, harusnya Anda sudah tidur nyenyak di kamar yang nyaman.”

“Ihh.. apa perduli Anda? Own your business!” sembur si gadis kesal. Matanya mendelik dan menatap tajam ke si pria, yang kini telah mengangkat topi dari mukanya hingga tampak wajah yang dari tadi ditutupinya.

Emmm… ganteng juga. Batin si gadis. Tapi usil dan sok sekali, kenal juga tidak sudah sinis dan mengkritik dirinya. Kekesalan si gadis semakin berlipat-lipat. Kesal pada jalanan yang macet luar biasa. Kesal pada teman duduknya yang rese. ber-Anda-Anda lagi, sok resmi banget. Sementara si pria juga tampak kesal dan.. marah! 

Kekesalannya berawal dari Pulo Gadung, ketika dia mendapati tidak ada bus yang menuju ke Cirebon. Sudah habis begitu kata para calo. Dengan terpaksa dia harus naik bus ke Kuningan, yang sama sekali di luar rencananya. Karena itu berarti dia harus mencari kendaraan lain menuju Cirebon yang pastinya akan susah pada malam tahun baru begini. Dia tak terbiasa dengan serba yang tidak pasti. Biasanya dia sudah mempersiapkan rencana alternatif. Dia menyalahkan diri sendiri yang tak memperhitungkan kemungkinan ini.

Dan betapa dia terkejut ketika mendapati sosok gadis yang menarik perhatiannya ketika di terminal ada di dalam bus yang sama dengan dirinya. Berdiri dari tempat duduknya dan dengan penuh rasa ingin tahu mengedarkan pandangannya ke seluruh penumpang bus. Oh My God, apa dia tidak menyadari kalau bus malam sebagian besar penumpangnya adalah laki-laki. Dan para penumpang laki-laki itu seperti juga dirinya menatapnya dengan penuh antusias. Dia di seberang gadis itu, dua kursi di belakangnya, bisa menatap jelas mukanya yang tak sekedar manis, tapi benar-benar cantik. Pantas saja tadi para calo mengerubunginya dengan agresif. Apa gadis itu tak menyadari kecantikannya? Apa dia tak sadar kalau kini semua pria di bus sedang berancang-ancang untuk mengambil tempat duduk di sebelahnya yan kosong.

Sebelum dia menyadari tindakannya, dia sudah duduk di sebelah gadis itu. Entah dorongan kuat apa yang membuatnya berbuat nekad begitu. Dia seorang perencana. Dia bukan pria yang dengan spontan akan mendekati seorang gadis betapaun cantiknya gadis itu. Yang pasit begitu menatap gadis itu tampak kebingungan berdiri di dalam bus, dia teringat dengan adik perempuannya satu-satunya. Naluri melindunginya begitu kuat dan menggerakkan kaki-kakinya ke arah si gadis. Malu dan kesal dengan tindakan spontannya, yang seperti bukan dirinya, sepanjang perjalanan dia membenamkan diri di kursinya, topi menutupi seluuruh mukanya. Namun diam-diam dia memperhatikan gadis di sebelahnya. Yang tampak antuasis melihat ke jalanan, mukanya yang berseri ketika grup tarling koplo naik ke bus, suaranya yang renyah ketika membeli makanan dan minuman ringan yang dijajakan di bus.

Sejujurnya dia terkejut namum senang ketika si gadis menanyakan waktu padanya. Namun entah kenapa, kecemasan di wajah gadis itu malah menyulut kekesalannya. Salah sendiri kenapa melakukan perjalanan malam hari sendirian. Begitu rutuknya dalam hati. Dan dia tak menyangka ketika gadis itu malah balik menyemprotnya. Emm… punya nyali juga gadis cantik ini.

Duaaaarrrrr….!!! Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan bus pun oleng. Terdengar jeritan dari luar karena bus keluar dari jalur ke arah kerumunan orang di pinggir jalan. Bus berhenti mendadak. Semua penumpangnya terlonjak ke depan. Dan seperti dikomando mereka berebut ke luar bus. Rupanya salah satu ban bus meletus, yang menyebabkannya oleng ke pinggir jalan. Untungnya tak ada korban yang terlindas mobil padahal di suasana pinggir jalan sangat ramai dengan orang yang sedang menanti detik-detik pergantian tahun.

Bus berhenti tak jauh dari sebuah alun-alun kota yang sedang ada perayaan tahun baru. Dari speaker terdengar pengumuman kalo sebentar lagi kembang api akan dinyalakan sebagai tanda pergantian tahun. Beberapa penumpang bus turut dalam arus ke arah alun-alun kota untuk melihat kembang api, setelah supir bus mengumumgkan kalau mereka butuh waktu paling lama setengah jam untuk mengganti ban mobil. Tampak si gadis cantik dalam arus itu.

“Hei, mau ke mana? Jangan pergi jauh-jauh nanti ketinggalan bus,” sebuah tangan menghela tangan si gadis.

“Mau melihat kembang api. Aku tadi sudah bilang sama supir busnya kok dan katanya boleh,” jelas si gadis panjang lebar sambil melangkahkan kakinya.

“Kamu tahu nggak, kalau mau lihat kembang api dari sini pun terlihat,” kata si pria menjejeri langkah si gadis.

“Aku mau lihat dari dekat.Kenapa sih Anda ini dari tadi usil terus dan melarang-larang segala,” semprot si gadis kesal. Tadi di bus ber-Anda-Anda sekarang ber-Kamu-Kamu. Rutuknya kesal dalam hati. Langkahnya semakin cepat setengah berlari ke arah alun-alun kota. Hitungan mundur terdengar lantang dari speaker. Di belakangnya si pria mengekor dengan wajah kesal.

“…. 7, 6, 5, 4, 3, 2. 1….Happy New Year semuanyaaaa… Selamat Tahun Baru 2014.. Hip..Hip..Huraaay!!!” 

Seketika teriakan dan sorak sorai membahana bersamaan dengan suara ledakan kembang api. Langit yang gelap pun seketika benderang dengan cahaya kembang api. Tak hanya sekali. Berkali ledakan. Berkali berkas-berkas api terlontar ke atas. Langit pun semarak dengan cahaya. 

Seorang gadis tertegun dalam takjub, wajahnya mendongak ke atas langit. Dua tangannya terkatup di bawah dagu. Matanya berbinar indah. Mukanya berseri-seri. Si pria di sebelahnya mengamatinya dengan seksama. Dia tak tertarik dengan kemeriahan kembang api di atas langit, Dia lebih takjub dengan pesona gadis di sebelahnya. Gadis yang baru dikenalnya di dalam bus. Keceriaan di muka gadis itu menular ke dirinya, membuat senyum di mukanya. Ketakjuban yang memancar tulus di muka gadis itu menghangatkan hatinya. Ahh.. dia pernah melihat kembang api yang lebih megah memancar dari gedung tertinggi di dunia. Dia juga pernah melihat kembang api yang paling spektakuler dan memecahkan rekor dunia. Dia tahu kalau kembang api di alun-alun kota kecil ini belumlah seberapa. Namun gadis di sebelahnya menikmatinya dengan penuh ketakjuban seakan-akan itu adalah keajaiban dunia.

“Aku belum pernah melihat kembang api sebesar dan sebagus ini. Dari kecil aku suka kembang api tapi belum pernah melihat yang sebagus ini,” katanya melihat ke si pria sambil tersenyum bahagia. “Sayang hp-ku mati jadi tidak bisa video-in kembang api pertamaku ini,” lanjutnya dengan muka sedih. Si pria hanya tersenyum melihat berbagai emosi terpancar dari wajah gadis cantik di sampingnya yang namanya saja dia belum tahu.

Tiba-tiba sebuah emosi menghantamnya. Sebuah keinginan yang datang seketika bagai kilatan kembang api. Keinginan untuk menunjukkan kembang api yang lebih megah pada gadis itu. Hanya untuk melihat kebahagian tulus yang terpancar dari mukanya. Begitu murni. Ketulusan yang kini sepertinya telah menjauh dari hidupnya yang seperti robot dan penuh kepura-puraan.

Sesaaat dia tertegun tak percaya dengan perasaan yang tiba-tiba melandanya itu. Namun jeritan-jeritan di sekelilingnya menyedot kesadarannya. Semuanya terjadi begitu cepat. Seperti kilatan kembang api. Matanya ngeri melihat sebuah mobil bergerak tak terkendali ke arah kerumunan di dekatnya. Orang-orang berhamburan dan berteriak-teriak ketakutan. Sesosok tubuh besar menghantam gadis di sebelahnya hingga jatuh terjengkang. Reflek dia menjatuhkan diri melindungi tubuh si gadis dengan tubuhnya. Suasana seketika chaos, orang-orang berlarian di sekelilingnya, menginjak kakinya, menyenggol kepalanya keras, membentur badannya. Susah baginya untuk berdiri dan melarikan diri dari semua kekacauan itu. Karena ada sesosok tubuh yang dilindunginya. Tak mungkin dia meninggalkan gadis itu. Gadis yang telah mengacaukan emosinya dari awal melihatnya. Kesal, marah, kagum, bahagia, dan yang paling mengejutkan dia ingin menunjukan kembang api yang paling indah pada gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya. Gadis yang namanya pun bahkan dia tidak tahu.

Suara benturan dari mobil yang menghantam tembok alun-alun terdengar menggelegar. Itu suara terakhir yang didengar pria itu. Dan setelah itu semua terjadi begitu cepat. Suara sirene ambulance. Raungan sirene polisi. Tangisan orang-orang. Seorang pria berpakain putih-putih menghampirinya. Memeriksa kaki dan tangannya yang berdarah-darah karena terinjak puluhan orang. Sakit yang dirasakannya terobati ketika melihat gadis teman satu busnya tidak terluka sedikit pun. Hanya tangannya yang lecet-lecet karena jatuh terjengkang. Gadis itu menatapnya dengan berurai air mata. Sorot matanya memancarkan rasa terima kasih yang tak terucap. Tatapan mata yang begitu tulus itu menghangat hatinya.

“Selamat Tahun Baru. Jangan menangis!” katanya tersenyum mengusap air mata di pipi si gadis.

“Terima kasih… terima kasih sudah menyelamatkanku,” tersendar suara si gadis sambil memegang tangan penyelamatnya.

“Andra… namaku Andra, kita belum berkenalan,” Andra membalik tangan si gadis sehingga posisi tangan mereka bersalaman.

“Terima kasih Andra, panggil aku Mira, namaku Namira!” Namira menggemgam erat tangan Andra. Keduanya tersenyum penuh syukur. Mungkin perkenalan yang aneh. Namun yang pasti tak akan pernah terlupakan. Ketika maut sudah begitu dekat menghampiri mereka. Tuhan masih memberikan mereka kesempatan. Untuk menyambut tahun yang baru. Untuk lebih saling mengenal. Untuk mengetahui apakah getaran kasih yang terpancar dari kedua tangan yang bertaut itu hanyalah sementara atau bisa kekal sampai selamanya. Tak ada yang tahu!