Kisah Sukses Ayam Bakar Mas Mono: Gerobak Dagangan Ambruk Ketika Jualan

mas monoNama lengkapnya adalah A. Pramono, namun lebih akrab disapa Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang sudah punya cabang di mana-mana. Profilnya sudah mejeng di pelbagai koran dan majalah kenamaan di Indonesia. Beberapa kali menjadi bintang iklan juga. Dan belakangan ini sibuk berkeliling menjadi mentor wirausaha.

Lelaki kelahiran Madiun ini hanya menamatkan pendidikannya sampai SMA. Kemudian merantau ke Jakarta, bekerja sebagai office boy. Pekerjaan yang membanggakan baginya, saat itu! Orang tua dan para tetangga kampung tahunya dia bekerja di kantor yang mentereng, ber-AC, ada banyak komputer, dan tentunya nyaman. Namun kebanggaan itu luntur seketika, ketika bapaknya terbaring di rumah sakit, dan Mas Mono tak punya uang untuk membantu membiayai pengobatannya. Tamparan yang sangat keras baginya, sebagai seorang anak, tak mampu membantu ketika orang tuanya sedang sakit.

Akhirnya Mas Mono pun mengambil keputusan yang berani. Memajukan dirinya, keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. “Saya tak pernah pakai kata mengundurkan diri ya, karena bagi saya dengan keluar dari pekerjaan itu, berarti saya sedang memajukan diri saya,” katanya tegas. Berjualan gorengan menjadi pilihannya mencari nafkah selepas keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. Mas Mono pun keliling dari satu sekolah ke sekolah lain menjajakan gorengannya. Sehari hanya bisa mengantongi uang antara 15 ribu-20 ribu rupiah. Masa-masa yang sulit baginya.

Mas Mono pun mulai meragukan keputusannya berjualan gorengan, ketika ibunya dari Madiun datang mengunjunginya ke Jakarta. Ibunya sedih melihat putra kesayangannya menjadi penjaja gorengan, keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari pagi sampai sore hari, hanya mendapatkan uang 20 ribu rupiah. Ibunya lebih suka kalau Mas Mono kerja di kantoran saja, walau hanya sekedar menjadi office boy.

Kesedihan ibunya, menjadi tamparan kedua baginya. Mas Mono pun memutuskan untuk beralih usaha, menjual ayam bakar. Berjualan di kaki lima, tepatnya di jalan Soepomo, seberang kampus Universitas Sahid, Pancoran. Awal berjualan ayam bakar, modalnya 500 ribu rupiah untuk membeli gerobak, dan lima ekor ayam. Malang nian, pertama berjualan, gerobaknya ambruk, ayam-ayamnya pun jatuh.

“Rupanya gerobak untuk jualan ayam bakar itu lain dengan gerobak gorengan, harus lebih kokoh karena membawa tempat nasi yang berat,” jelas Mas Mono menganalisa gerobaknya yang ambruk diawal dia berjualan ayam bakar.

“Saya lap ayam-ayam yang jatuh itu satu persatu, biar bisa dijual,” lanjut mas Mono mengenang kisah awalnya berjualan. Waakss.. jorok dong?! “Nggak apa-apa, yang penting kan yang beli nggak tahu kalau ayamnya sudah jatuh,” jawab Mas Mono santai setengah bercanda. Yang pasti, sekarang ayam bakarnya tak lagi di jual di gerobak, tapi di restoran yang Insya Allah terjamin kebersihannya, hehehe…

Lanjut ke cerita Mas Mono, jualan ayam bakar itu dijalaninya dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Jangan berprasangka baik bahwa ayam bakarnya habis setiap jam 2 siang ya, ternyata itu karena jualan di kaki lima itu ada shift-nya. Tiap jam 2 harus gantian dengan penjual lainnya. Jadi laku nggak laku, jam 2 siang itu, Mas Mono harus menutup jualan ayam bakarnya.

Seiring waktu, jualan ayam bakarnya semakin berkembang. Ayam Bakar Mas Mono mulai melayani katering di pelbagai kantor. Dua stasiun televisi swasta menjadi langganan tetap kateringnya. Belum lagi melayani katering dari perusahan-perusahaan besar yang mengadakan acara. Sekali order bisa sampai 4000 boks harus dia sedikan. Ayam Bakar Mas Mono pun mulai buka cabang di mana-mana. Karyawannya pun bertambah seiring semakin meluas jaringan usahanya.

“Selama bertahun-tahun saya pakai sistem manajemen laci. Uang hasil jualan saya simpan di laci, begitu mau belanja tinggal buka laci,” jelas Mas Mono ketika ditanya manajemen usahanya.

Namun seiring semakin besar usahanya ditambah lagi setelah Mas Mono bergabung dengan Entrepreneur University, maka Ayam Bakar Mas Mono pun memperbaiki sistem manajemennya. Hasilnya tahun 2010, Ayam Bakar Mas Mono sudah bisa mem-franchise-kan usahanya. Suatu prestasi yang besar karena tidak setiap usaha bisa menjadi franchisee.

Walau kini sudah bisa dibilang sebagai pengusaha yang sukses; sudah bisa membangunkan rumah orang tua di kampung, membawa ibunya naik haji bersama, mempunyai mobil mewah, dan tabungan yang mencapai milyar, masih ada yang meragukan tentang usahanya.

“Orang-orang kampung itu bilang, masa sih Mono jualan ayam bakar aja bisa kaya begitu?” katanya mengutip omongan tetangganya di kampung.

“Mereka nggak tahu kalau saya tak hanya jualan ayam bakar, tapi juga membuka katering,” lanjutnya gemas.

“Orang-orang juga nggak tahu, ketika memulai usaha ini saya harus bangun jam 3 dini hari untuk belanja ke pasar. Jam 4 subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Mas Mono menjelaskan kalau kesuksesan yang diraihnya sekarang tidak diperolehnya dengan instan. Tapi diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras. Butuh hampir 10 tahun untuk membesarkan Ayam Bakar Mas Mono, dari pertama dia membukanya tahun 2001.

mas mono di kuwait
Mas Mono beserta ibu-ibu komunitas pengajian Khairunnisa Kuwait

Note:

Tulisan ini saya buat ketika Mas Mono berkunjung ke pengajian ibu-ibu di Kuwait, ketika itu beliau diundang suatu organisasi untuk memberikan training wirausaha.

foto-foto diambil dari FB Mas Mono

“Menjadi Perempuan Kaya”

Menjadi perempuan kaya adalah resolusi keuangan saya di momen Idul Fitri tahun ini. Bukan tanpa alasan saya mencanangkan resolusi ini. Juga bukan ujug-ujug terjadi begitu saja, tapi ini sudah jadi pemikiran atau tepatnya cita-cita sejak lama. Hanya bagaimana mewujudkannya saja mungkin yang masih meraba-raba selama ini, hehehe… Jadi momen lebaran ini sepertinya tepat sekali untuk menjadikan ini sebagai resolusi.

Perempuan kaya yang saya cita-citakan adalah perempuan yang bisa berdikari secara ekonomi atau finansial. Tak masalah berapa banyak materi yang dihasilkan, walau mungkin hanya seribu perak, yang penting saya tahu bagaimana mencari uang. Apa sumber uang yang bisa saya hasilkan. Apa potensi saya yang bisa menghasilkan materi.

mandiri_cermati

Berikut beberapa alasan kenapa saya harus jadi perempuan kaya:

  1. Sudah menjadi kekhawatiran semua istri yang menggantungkan sumber keuangan keluarganya pada suami, bagaimana bila kepala keluarga itu pergi? Baik karena alasan perceraian atau meninggal dunia. Bukan berarti mengharapkan hal jelek terjadi, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan bukan? Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila itu terjadi, saya ingin sudah siap terutama secara materi dalam artian saya tahu bagaimana caranya mencari uang, karena life must go on bukan, apalagi dengan empat anak yang menjadi tanggungan, hehehe….
  2. Perempuan itu banyak sekali kebutuhan pribadinya, mulai dari perawatan badan dan make up, baju, tas, sepatu, buku, dan lainnya. Alhamdulillah selama ini suami tidak pelit mengeluarkan uang untuk kebutuhan itu, tapiii kadang suka ada perasaan bersalah ketika membelanjakannya? Aduh boros nggak ya ini? Perlu gak ya ini? Bener gak bu ibu? Nah, kalau belanja dengan uang sendiri tentu perasaan bersalah itu akan sedikit berkurang, hehehe….
  3. Setelah menikah, seorang anak perempuan tidak punya kewajiban membantu orang tuanya dalam hal finansial. Bila selama ini suami kita berbaik hati mengirimkan uang bulanan ke ortu, itu adalah tanda cintanya pada kita. Itu pun setelah suami memenuhi kebutuhan rumah tangga kita dan mendahulukan ortunya terutama ibunya. Dengan punya uang sendiri, kita bisa membantu ortu atau saudara-saudara yang membutuhkan walau tetap harus dengan sepengetahuan suami.

Ide_Lomba Cermati

Setelah mencanangkan resolusi menjadi Perempuan Kaya, saya mulai mencari-cari informasi dan peluang, apa sih yang bisa dilakukan ibu rumah tangga seperti saya untuk menghasilkan uang? Tanpa sengaja saya membaca artikel dari Cermati tentang 7 Jenis Pekerjaan Freelance Terpopuler”. Ketujuh pekerjaan itu adalah 1) penulis, 2) pemandu wisata, 3) guru les privat, 4) reporter atau contributor, 5) proofreader, 6) barista, 7) fotografer.

Begitu membaca itu, langsung seperti ada lampu menyala di atas kepala saya seperti di komik atau film-film kartun. Ada beberapa pekerjaan yang bisa saya tekuni dan bila diseriusi bisa menghasilkan materi. Belakangan ini saya lagi mencoba serius menulis dan mengirimkannya ke media, beberapa dimuat dan mendapatkan honor. Girangnya bukan main, namun belum terlalu diseriusi, masih moody, mungkin karena belum kepepet ya, ihhh jangan sampai deh.

 

Sampai kemudian saya baca artikel ini “5 Cara Sukses Menjadi Mompreneur” . Salah satu poinnya mengena banget yaitu pilihlah usaha yang sesuai dengan passion. Dan passion saya selama ini membaca dan menulis. Baiklah, saya pun mulai serius menekuni dunia tulis menulis ini.

mompreneur_cermati

Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mewujudkan usaha menjadi Penulis:

  1. Mengikuti kelas-kelas menulis online. Sadar diri suka moody, saya memilih kelas menulis yang intens dan langsung praktek agar bisa langsung menghasilkan karya tulisan yang bisa dikirim ke media. Kenapa online? Karena bisa diikuti di rumah sambil momong anak dan melakukan pekerjaan saya sebagai ibu RT.
  2. Mengikuti lomba-lomba menulis, untuk mengasah kemampuan menulis juga menepati jadwal deadline.
  3. Membuat blog dan mengikuti lomba-lomba menulisnya. Dengan mempunyai blog, saya seperti mempunyai majalah sendiri, setiap hari dituntut berpikir nulis tema apa ya yang menarik biar blog dikunjungi pembaca, hehehee… Dan itu melatih kemampuan mencari ide tulisan dan menuliskannya.
  4. Bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Tujuannya selain untuk menambah relasi atau networking, juga untuk ‘mencuri’ ilmu dari para penulis dan blogger senior.
  5. Melamar menjadi reporter atau kontributor media. Sebelum full jadi ibu RT, saya adalah seorang reporter di majalah remaja. Selain itu saya juga lagi mencoba membuat video-video reportase, kan sekarang lagi ngetren citizen journalism.
  6. Menulis buku atau novel. Ini obsesi terbesar saya, Insya Allah bisa terwujud. Aamiin

Walaupun penghasilan dari menulis belum seberapa, kan baru memulai serius ya, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk mengelola kebutuhan keuangan “pribadi”. Saya mencoba menerapkan tips mengelola kebutuhan  keuangan “si bunda” dari perencana keuangan Prita Ghozie. Katanya ada lima hal yang harus kita para ibu perhatikan dan siapkan dalam mengelola keuangan agar bisa jadi Perempuan Kaya:

  1. Sumber dana pos Bunda. Bila kita ibu bekerja, tentukan berapa persen dari penghasilan yang masuk ke pos khusus ini. Bila sumber dana bergantung dari pasangan, pastikan pengeluaran pribadi tidak lebih dari 10% dari uang yang diberikan.
  2. Buat anggaran terpisah. Pisahkan anggaran pribadi kita dari anggaran rumah tangga yang dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
  3. Miliki wish-list. Pisahkan kebutuhan dan keinginan. Sesekali memenuhi keinginan tentu sah saja, tapi pastikan kita sudah mempersiapkan dananya terlebih dahulu.
  4. Punya dana darurat untuk kebutuhan pribadi kita, terlepas dari dana darurat keluarga. Jumlah idealnya antara 1-2 kali pengeluaran pribadi kita.
  5. Bayar kartu kredit sendiri. Katanya kesalahan terbesar para ibu adalah pandai menggesek kartu kredit, tetapi menyerahkan semua urusan pembayaran kepada pasangannya (ini mah nyindiri saya, hahaha….)

Selain itu dianjurkan kita para ibu punya rekening terpisah juga dan belajar untuk berinvestasi sedikit demi sedikit. Karena itulah, belakangan saya jadi rajin ngintip CERMATI, baca berbagai artikelnya dari mulai tips keuangan, gaya hidup dan karir, bisnis dan investasi sampai ke produk perbankan. Salah satu pendorong saya mencetuskan resolusi ini juga karena membaca artikel di website ini.

Saya juga lagi getol lihat produk perbankan syariahnya, bercita-cita suatu hari bila royalti menulis saya sudah besar bisa disimpan di salah salah satu deposito perbankan syariah biar cepat jadi Perempuan Kaya, hehehe…. Boleh dong bermimpi, harus malah yaaaa!

Yuuuk jadi Perempuan Kaya yang berkah dan bermanfaat 🙂

<center>
<a href=”https://www.cermati.com/pages/lomba-blog-resolusi-lebaranku” target=”_blank”><img alt=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” src=”http://s2.postimg.org/eagumify1/resolusi_lebaran.jpg” title=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” /></a></center>

 

*picture taken from internet

 


Lomba Blog Resolusi Lebaran

Artikel Gado-Gado Femina: “Balada Si Kutu Buku”

Gado2_Kutu Buku

Artikel ini saya kirim pada 27 Mei 2014. Entah apa yang mendorong nulis dan mengirimkannya saat itu, tiba-tiba saja pengen nulis dan kirim ke media. Waktu itu memang sudah mulai ikutan kelas menulis online tapi tak terlalu intens. Ketika menulis ini saya membayangkan beberapa sahabat di Kuwait yang sama hobi membaca.

Memasuki September, saya ikut kelas menulis Merah Jambu besutan mbak Nurhayati Pujiastuti yang sukses membangkitkan semangat menulis saya. Kelasnya sih kelas menulis cerita anak, tapi kami juga ditantang untuk menulis artikel, saat itu targetnya rubrik Gado-Gado majalah Femina.

Satu artikel Gado-Gado berhasil saya tulis ketika itu. Ketika mengirimkan ke redaksi via email pada 7 Oktober 2014, saya menyertakan juga “Balada Si Kutu Buku” yang belum ada kabar juga setelah 4 bulan dikirim.

Lalu kabar gembira itu datang, 5 Desember 2014, harinya saya ingat sekali – Jumat — karena di Doha, Jumat itu awal weekend. Pagi-pagi ketika sedang menyiapkan sarapan saya iseng cek email, ternyata ada email dari Femina yang menginformasikan kalau artikel Gado-Gado yang saya kirim akan dimuat. Saya diminta mengisi formulir konfirmasi bertanda-tangan di atas materai. Wow… tak terkira girangnya, saya teriak histeris sambil lompat-lompat, maklum tulisan pertama yang dimuat di media, hahaha….

Saya sampaikan kabar gembira itu di grup Merah Jambu, ternyata teman sekelas pun mendapat kabar gembira yang sama. Lantas dia bertanya apakah artikel saya itu judulnya  Kutu Buku, karena sekretaris Femina salah menyebutkan judul tulisannya. Bersamaan dengan itu saya mendapat email susulan dari Femina kalau artikel saya yang lain, ya si kutu buku itu juga akan dimuat.

Masya Allah, Alhamdulillah, rasanya saya mau pingsan karena bahagia sekali. Dua kabar gembira tak terduga. Dan rasanya tak percaya ketika tulisan saya itu benar-benar diterbitkan di Femina No. 50, 20-25 Desember 2014. Walaupun agak kecewa karena nama yang ditulis tidak lengkap, tapi yang penting, namaku masuk majalah maaaak, Femina lagi! Hahaha….

Untuk konfirmasi pemuatan ini, mba Ratna sekretaris Femina mengabarkan via SMS. Saya pinjam no telepon adik saya di Indonesia. Sementara itu untuk surat konfirmasi keaslian naskah saya diperbolehkan tidak pakai materai ketika saya informasikan ke mbak Ratna kalau posisi saya sedang di Doha, dan susah mendapatkan materai.

Namun yang paling membahagiakan itu ketika mendapati honor masuk ke rekening, sekitar dua minggu setelah tulisan tayang. Yuhuuu… honor pertamaku, uang pertamaku gitu loh, hahaha…. Honornya 500 ribu rupiah potong pajak, lumayan banget kan, bisa beli bakso beberapa mangkuk, hehehe….

Selain honornya besar, bila kirim ke Femina kita pun dapat kepastian soal dimuat atau tidaknya naskah kita. Jadi enak, gak di PHP-in atau bertanya-tanya gimana nasib naskah kita. Bahkan ada pemberitahuan naskah kita diterima mereka atau tidak. Untuk kasus saya tidak ada pemberitahuan penerimaan naskah tapi langsung konfirmasi kalau naskah akan dimuat.

Teman-teman yang tertarik kirim, yuk ya yuk segera tulis dan kirimkan.

Ini Ketentuan Naskah Gado-Gado:

  1. Naskah orisinil karya asli dari penulis yang bersangkutan, dan bukan terjemahan.
  2. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online.
  3. Kisah human interest (bisa pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain) tentang berbagai hal menyangkut kehidupan sehari-hari. Diceritakan secara ringan. Bisa lucu, sedih, yang pasti ada hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah tersebut.
  4. Ditulis dengan Arial size 122. 4500 karakter
  5. Dikirimkan melalui: Email : kontak@femina.co.id, Subject: [Rubrik Gado Gado] atau kirim Pos: Majalah Femina Gedung Femina, Lantai 5 Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B 32-33, Kuningan Jakarta 12910, Subject di pojok kiri atas amplop: [Rubrik Gado Gado].

Berikut naskah asli yang saya kirimkan:

Balada Si Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait. Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa semua isi rumah kami di Indonesia termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan saya. Hanya saja saya lupa memborong buku-buku baru sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya pun kehabisan bahan bacaan. Padahal buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Di Kuwait, kami para perempuan tidak bisa bebas keluar rumah.

Kekecewaan itu terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat di Kuwait. Saya pun mulai berkenalan dengan dunia maya. Portal-portal berita dan tabloid online hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda. Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan kita ini, Femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerbungnya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi. Yang paling menjengkelkan ketika cerbung baru terbit, setiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan, rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh ….

Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor si majalah tercinta itu dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Pada beliaulah kami membeli si cantik Femina. Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar majalah kesayangan itu, kami harus membayar sebesar Rp100.000,00 lebih, tergantung kursnya, kadang bisa sampai Rp150.000,00. Demi majalah tercinta, kami para pencintanya tak keberatan merogoh kocek sebesar itu. Dan setelah itu dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha…ha…ha…..

Selain itu setiap teman yang kebetulan liburan ke Indonesia, biasanya suka diminta tolong titip beli buku terbaru, tapi tentu saja tidak bisa menitip banyak-banyak, paling satu atau dua buah buku. Kalau nitip satu koper kebangetan namanya, bisa dikenakan ongkos kirim nanti, hahaha…. Jangankan nitip, saya sendiri kalau mudik dan membawa buku banyak suka diprotes sama suami, alhasil harus perang batin dulu mana buku-buku baru yang bisa dibawa ke gurun pasir tahun itu–terutama berperang antara buku anak-anak dan novel–selebihnya harus menunggu dibawa tahun depan. Kadang sebelum mudik suami sudah wanti-wanti jangan terlalu banyak membawa buku terutama novel. Buku anak-anak lebih prioritas, he…he…he….

Dan kebiasaan membawa buku ini mulai saya kurangi ketika istrinya teman suami yang back for good ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata kalau kembali ke Indonesia tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu sekali betapa berat hati teman itu melelang buku-buku kesayangannya yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Nanti bisa mengumpulkan lagi yang baru di Indonesia.” Begitu jawabnya ketika saya tanya perasaannya berpisah dengan koleksi bukunya. Ah, saya tahu dia sedih sekali.

Saya yang tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, mulai mencicil mengembalikan buku-buku di Kuwait yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua. Bahkan ketika tahu ada cargo murah ke Indonesia, saya mulai mengepak buku-buku kesayangan itu dan mengirimnya balik ke Indonesia melalui cargo tersebut. Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Lantas saya pun beralasan kalau ingin membaca kembali buku tersebut makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha…ha…ha….

Dan saya kaget sekali ketika mendapat kabar cargo yang saya pakai untuk mengirimkan buku-buku kesayangan itu gudangnya di Kuwait habis terbakar. Walaupun buku-buku saya telah selamat sampai di Indonesia, saya kaget dan berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk sahabat saya sesama kutu buku yang seluruh koleksi bukunya ikut terbakar di gudang tersebut. Bukan hanya buku, tapi juga koleksi cd film-film Koreanya dan juga peralatan elektronik milik suaminya. Tambah sedih lagi ketika mendengar pihak cargo yang telah berjanji untuk mengganti rugi sampai saat ini belum juga membayar kerugian tersebut.

Tapi dua tahun belakang ini saya gembira sekali nyaris berteriak-teriak kegirangan ketika ebook-ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan Femina pun sudah hadir emagazine-nya, wow setiap minggu saya tidak lagi ketinggalan tiap edisinya, bahkan saya masih bisa mengunduh edisi-edisi sebelumnya yang terlewat. Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan simpan menyimpannya. Walaupun saya suka dikelilingi buku-buku dan suka sekali dengan bau lembaran buku baru, tapi bagi kami yang tinggalnya mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila pindah harus membawa-bawa berkardus buku.

Cukup punya satu tablet! Dan saya pun bisa membawanya ke mana saja, membacanya di mana saja, kapan saja saya inginkan. Ho…ho…ho… benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. Rasa-rasanya saya ingin mencium Steve Jobs atau siapapun itu yang telah menciptakan smartphone dan tablet. Kini koper dari Indonesia pun bisa diisi dengan makanan-makanan Indonesia favorit. Atau sepatu, tas, baju-baju etnik hasil hunting selama liburan di Indonesia. Dan saya pun bisa berbangga sedikit telah ikut menyelamatkan lingkungan dengan membeli buku atau majalah digital yang paperless. Ahh.. welcome to digital world, he…he…he…. (Irra Fachriyanthi-Doha Qatar)

Ketika dimuat di Femina, redaktur mengedit beberapa bagian dari tulisan termasuk judul tulisan.

Naskah setelah diedit Femina:

Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu juga yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait.

Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa isi rumah kami di Indonesia, termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan. Ini memang berkah luar biasa. Hanya, saya lupa memborong buku baru, sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya sudah kehabisan bahan bacaan!

Padahal, buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Saat itu di Kuwait, kami, kaum wanita, tidak bisa bebas keluar rumah. Terbayang bosannya, bukan?

Kekecewaan itu cukup terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat. Portal-portal berita dan tabloid online Indonesia hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air, juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda.

Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan, femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerber-nya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi.

Yang agak menjengkelkan ketika cerber baru terbit, tiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Huh! Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan. Rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh…. Ha… ha… ha….

Beberapa teman Indonesia ternyata mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor majalah tercinta ini dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Kepada beliaulah kami membeli femina.

Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar, kami harus membayar sebesar Rp100.000 lebih, tergantung kursnya. Bahkan terkadang bisa sampai Rp150.000. Tapi, kami sungguh tak keberatan. Dan setelah itu, bisa dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha… ha… ha….

Kebiasaan membawa buku-buku ini mulai saya kurangi ketika saya tahu seorang istri teman suami yang kembali pulang ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata, tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu ia sedih sekali.

Tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, saya mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, saya mencicil mengembalikan buku-buku yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua.

Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Saya pun beralasan kalau ingin baca-baca lagi, makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha… ha… ha….

Dua tahun belakang ini saya gembira sekali dan nyaris teriak-teriak kegirangan ketika ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan, femina pun sudah hadir emagazine-nya.

Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan penyimpanan. Walaupun suka sekali pada bau lembaran buku baru, bagi kami yang tinggal mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila berpindah-pindah dengan menenteng-nenteng berkardus buku.

Rasanya saya ingin mencium Steve Jobs! (Fachriyanthi-Doha Qatar)

 

 

Bang Bing Bung…Yuk Kita Nabung!

Bing beng bang

Yok kita ke bank

Bang bing bung

Yok kita nabung

Tang ting tung hey

jangan dihitung

Tau tau kita nanti dapat untung

Lagu tentang menabung ciptaan Titik Puspa yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Saskia dan Geofanny ini sangat populer tahun 90-an. Emak-emak angkatan 90-an pasti hapal ya, hehehe….

Walaupun sekarang ada yang bilang menabung di bank itu bukannya untung tapi malah buntung karena banyak potongannya, saya masih tetap berkeyakinan bahwa menabung itu penting. Dan sedikit-sedikit sedang mengajarkan pada anak-anak tentang nilai uang dan manfaat menabung.

Sebenarnya yang paling penting itu adalah kita tahu cara menabung yang tepat seperti apa. Dan apa tujuan dari kita menabung. Maka jargon menabung akan untung itu benar-benar akan kita dapatkan.

Saya pribadi sebagai seorang ibu rumah tangga tulen (emang ada yang boongan ya, hihihi…) mengandalkan pendapatan suami. Ada sih honor dari menulis tapi belum seberapa, paling habis untuk jajan bakso atau beli buku, hehehe…. Praktis sumber keuangan keluarga kami adalah gaji bulanan suami.

Dulu ketika masih tinggal di Indonesia dan saya bekerja, kami sepakat mengalokasikan gaji saya untuk keperluan biaya rumah tangga. Sementara gaji suami dipegangnya sendiri digunakan untuk mencicil membangun rumah idaman kami.

Setelah tinggal di luar negeri, gaji suami masih beliau yang pegang. Namun pengelolaannya kami diskusikan bersama. Berapa gaji dan bonus yang doi terima, saya pasti tahu, walau suka lupa berapa tepatnya, hehehe…. Begitu juga dipakai untuk apa saja atas persetujuan kami berdua. Sebenarnya sih saya yang enak karena pengen apa-apa tinggal tunjuk saja, nanti pak suami yang bayarin, hahaha….

Kiat menabung ala kami sederhana saja, setiap bulannya kami punya target minimal menabung. Berapa jumlahnya? Para ahli keuangan bilang minimal 10% dari jumlah pendapatan. Tapi karena tingkat inflasi di Indonesia lumayan tinggi, maka dinaikkan minimal untuk tabungan itu 15% dari pendapatan.

Saya dan suami tidak serta merta manut pada 10%-15%, lah kalau bisa lebih dari itu kenapa nggak? Betul nggak? (nyengir jumawa).

Berikut yang kami lakukan sebelum menentukan target tabungan per bulan:

  1. Menghitung Pendapatan

Termasuk di dalamnya bonus tahunan yang jumlahnya bisa besar bisa juga kecil, tapi yang pasti bisa diprediksi kira-kira berapa besarannya. Dan tidak seperti di Indonesia, di sini tidak ada THR, hiks. Sementara honor menulis saya tidak dimasukkan ke pendapatan, mungkin saking kecil dan tidak menentunya ya, huhuhu….

  1. Menghitung Pengeluaran

Ada beberapa pengeluaran rutin kami perbulannya:

  • Zakat penghasilan sebesar 2,5% dari pendapatan.
  • Hutang (kalau ada), untuk hutang ini kami usahakan hutang yang produktif, artinya untuk keperluan investasi yang mengharuskan kami berhutang dulu karena tidak adanya kecukupan uang cash saat itu. Itu pun setelah kami berhitung bahwa tabungan kami nanti akan cukup untuk membayar hutang ini. Jadi ada target kapan hutang itu harus sudah lunas.
  • Biaya hidup, terbagi untuk biaya sewa aparteman (sudah termasuk biaya listrik, internet, dan pemeliharaannya) dan biaya hidup primer (makan, pakaian, buku). Biaya sewa apartemen ini sudah pasti besarannya perbulan. Sementa biaya hidup primer kami menetapkan target minimal dan maksimal. Jadi dari komponen ini bisa dihemat kalau ingin tabungannya lebih besar, hehehe….

Taraaa… ketemu deh berapa minimal kami harus menabung tiap bulannya, dari menghitung pendapatan dan pengeluaran ini secara cermat. Setelah itu disiplin untuk tidak menjawil atau mengkilik-kiliknya, hehehe…..

Oya untuk mengontrol pengeluaran ini kami punya dua alat penangkal boros, yaitu:

  1. Target keuangan tahunan yang diupdate perbulan. Ini pak suami yang pegang.
  2. Jurnal harian, berisi catatan belanja sehari-hari. Kalau ini saya yang pegang bedanya pak suami pake excel yang canggih, saya mah cukup coret-coret di notes hp, hahaha….

Khusus untuk jurnal harian ini, saya berpatokan pada target biaya hidup primer yang sudah disepakati kami berdua.  Alokasinya untuk belanja bulanan, acara makan di luar, beli baju, buku, dan mainan anak-anak. Dari jurnal ini saya bisa berhitung, kalau misal tengah bulan anggarannya sudah menipis, maka saya menahan diri untuk tidak mengajak keluarga jajan di luar, masak aja deh biar hemat, hehehe… Begitu juga kalau ingin beli-beli sesuatu, bulan ini beli buku banyak, bulan berikutnya gantian beli baju.

Ada cara jadul bin tradisional yang saya lakukan untuk menabung dari biaya hidup primer ini. Biasanya saya mengumpulkan uang pecahan tertentu, yaitu lembaran 5QR atau 10QR. Tiap kali menemukan uang pecahan itu, saya segera menyimpannya di tempat khusus yang tersembunyi. Walau ujung-ujungnya tetap diambil juga bila ada keperluan mendadak di rumah dan isi dompet sedang kosong, hahaha…. Tapi cara ini manjur juga loh, bener kata pepatah sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.

Di mana kami menyimpan tabungan ini? Di rekening tabungan biasa pak suami. Nanti setelah terkumpul, kami alokasikan sesuai dengan keperluannya.

Berikut alokasi Tabungan kami:

  • Dana darurat, untuk dana ini kami menyimpan tabungan dalam bentuk emas batangan. Dan terbukti beberapa kali cukup menolong kami ketika dalam situasi darurat walaupun sedikit merugi, karena harga jualnya lebih rendah dari harga beli. Pendapat saya, sepertinya emas batangan ini cocoknya untuk jangka panjang, baru berasa untungnya. Makanya sekarang ini kami sedang berpikir untuk menyimpan dana darurat ini dalam bentuk deposito. Lagi larak-lirik deposito yang tepat dan sesuai bagi kami. Untung ada cermati.com, hingga kami yang tidak tinggal di Indonesia bisa mudah menyeleksi produk-produk keuangan perbankan Indonesia. Berharap ada produk keuangan syariah di cermati.

Fyi, cermati perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi finansial. Cermati didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka seperti Google, LinkedIn, Microsoft dan Oracle. Tim Cermati memiliki pengalaman total lebih dari 12 tahun dalam mengerjakan aplikasi dan situs web yang digunakan lebih dari ratusan juta user di seluruh dunia.

  • Dana jangka menengah; dana ini untuk keperluan sekolah, jalan-jalan, atau renovasi rumah. Kami memilihnya dalam bentuk reksadana. Masih maju-mundur untuk terjun ke saham.
  • Dana jangka panjang; digunakan untuk kuliah anak-anak dan dana pensiun. Kami menyimpannya dalam bentuk aset yang produktif, yang terbeli setelah nabung berbulan-bulan dengan disiplin, hehehe….

So, intinya menabung itu penting untuk masa depan kita dan anak-anak. Lakukan menabung dengan konsisten dan disiplin. Dan cermatlah memilih produk tabungan yang sesuai dengan kondisi keuangan kita dan tepat dengan keperluan atau tujuan dari menabung kita.

Menabung untuk investasi itu untung!

Yok kita nabung

Tang ting tung hey

jangan dihitung

Tau tau kita nanti dapat untung

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati”

Sumber foto: google