Artikel Gado-Gado Femina: “Balada Si Kutu Buku”

Gado2_Kutu Buku

Artikel ini saya kirim pada 27 Mei 2014. Entah apa yang mendorong nulis dan mengirimkannya saat itu, tiba-tiba saja pengen nulis dan kirim ke media. Waktu itu memang sudah mulai ikutan kelas menulis online tapi tak terlalu intens. Ketika menulis ini saya membayangkan beberapa sahabat di Kuwait yang sama hobi membaca.

Memasuki September, saya ikut kelas menulis Merah Jambu besutan mbak Nurhayati Pujiastuti yang sukses membangkitkan semangat menulis saya. Kelasnya sih kelas menulis cerita anak, tapi kami juga ditantang untuk menulis artikel, saat itu targetnya rubrik Gado-Gado majalah Femina.

Satu artikel Gado-Gado berhasil saya tulis ketika itu. Ketika mengirimkan ke redaksi via email pada 7 Oktober 2014, saya menyertakan juga “Balada Si Kutu Buku” yang belum ada kabar juga setelah 4 bulan dikirim.

Lalu kabar gembira itu datang, 5 Desember 2014, harinya saya ingat sekali – Jumat — karena di Doha, Jumat itu awal weekend. Pagi-pagi ketika sedang menyiapkan sarapan saya iseng cek email, ternyata ada email dari Femina yang menginformasikan kalau artikel Gado-Gado yang saya kirim akan dimuat. Saya diminta mengisi formulir konfirmasi bertanda-tangan di atas materai. Wow… tak terkira girangnya, saya teriak histeris sambil lompat-lompat, maklum tulisan pertama yang dimuat di media, hahaha….

Saya sampaikan kabar gembira itu di grup Merah Jambu, ternyata teman sekelas pun mendapat kabar gembira yang sama. Lantas dia bertanya apakah artikel saya itu judulnya  Kutu Buku, karena sekretaris Femina salah menyebutkan judul tulisannya. Bersamaan dengan itu saya mendapat email susulan dari Femina kalau artikel saya yang lain, ya si kutu buku itu juga akan dimuat.

Masya Allah, Alhamdulillah, rasanya saya mau pingsan karena bahagia sekali. Dua kabar gembira tak terduga. Dan rasanya tak percaya ketika tulisan saya itu benar-benar diterbitkan di Femina No. 50, 20-25 Desember 2014. Walaupun agak kecewa karena nama yang ditulis tidak lengkap, tapi yang penting, namaku masuk majalah maaaak, Femina lagi! Hahaha….

Untuk konfirmasi pemuatan ini, mba Ratna sekretaris Femina mengabarkan via SMS. Saya pinjam no telepon adik saya di Indonesia. Sementara itu untuk surat konfirmasi keaslian naskah saya diperbolehkan tidak pakai materai ketika saya informasikan ke mbak Ratna kalau posisi saya sedang di Doha, dan susah mendapatkan materai.

Namun yang paling membahagiakan itu ketika mendapati honor masuk ke rekening, sekitar dua minggu setelah tulisan tayang. Yuhuuu… honor pertamaku, uang pertamaku gitu loh, hahaha…. Honornya 500 ribu rupiah potong pajak, lumayan banget kan, bisa beli bakso beberapa mangkuk, hehehe….

Selain honornya besar, bila kirim ke Femina kita pun dapat kepastian soal dimuat atau tidaknya naskah kita. Jadi enak, gak di PHP-in atau bertanya-tanya gimana nasib naskah kita. Bahkan ada pemberitahuan naskah kita diterima mereka atau tidak. Untuk kasus saya tidak ada pemberitahuan penerimaan naskah tapi langsung konfirmasi kalau naskah akan dimuat.

Teman-teman yang tertarik kirim, yuk ya yuk segera tulis dan kirimkan.

Ini Ketentuan Naskah Gado-Gado:

  1. Naskah orisinil karya asli dari penulis yang bersangkutan, dan bukan terjemahan.
  2. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online.
  3. Kisah human interest (bisa pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain) tentang berbagai hal menyangkut kehidupan sehari-hari. Diceritakan secara ringan. Bisa lucu, sedih, yang pasti ada hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah tersebut.
  4. Ditulis dengan Arial size 122. 4500 karakter
  5. Dikirimkan melalui: Email : kontak@femina.co.id, Subject: [Rubrik Gado Gado] atau kirim Pos: Majalah Femina Gedung Femina, Lantai 5 Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B 32-33, Kuningan Jakarta 12910, Subject di pojok kiri atas amplop: [Rubrik Gado Gado].

Berikut naskah asli yang saya kirimkan:

Balada Si Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait. Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa semua isi rumah kami di Indonesia termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan saya. Hanya saja saya lupa memborong buku-buku baru sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya pun kehabisan bahan bacaan. Padahal buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Di Kuwait, kami para perempuan tidak bisa bebas keluar rumah.

Kekecewaan itu terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat di Kuwait. Saya pun mulai berkenalan dengan dunia maya. Portal-portal berita dan tabloid online hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda. Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan kita ini, Femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerbungnya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi. Yang paling menjengkelkan ketika cerbung baru terbit, setiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan, rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh ….

Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor si majalah tercinta itu dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Pada beliaulah kami membeli si cantik Femina. Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar majalah kesayangan itu, kami harus membayar sebesar Rp100.000,00 lebih, tergantung kursnya, kadang bisa sampai Rp150.000,00. Demi majalah tercinta, kami para pencintanya tak keberatan merogoh kocek sebesar itu. Dan setelah itu dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha…ha…ha…..

Selain itu setiap teman yang kebetulan liburan ke Indonesia, biasanya suka diminta tolong titip beli buku terbaru, tapi tentu saja tidak bisa menitip banyak-banyak, paling satu atau dua buah buku. Kalau nitip satu koper kebangetan namanya, bisa dikenakan ongkos kirim nanti, hahaha…. Jangankan nitip, saya sendiri kalau mudik dan membawa buku banyak suka diprotes sama suami, alhasil harus perang batin dulu mana buku-buku baru yang bisa dibawa ke gurun pasir tahun itu–terutama berperang antara buku anak-anak dan novel–selebihnya harus menunggu dibawa tahun depan. Kadang sebelum mudik suami sudah wanti-wanti jangan terlalu banyak membawa buku terutama novel. Buku anak-anak lebih prioritas, he…he…he….

Dan kebiasaan membawa buku ini mulai saya kurangi ketika istrinya teman suami yang back for good ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata kalau kembali ke Indonesia tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu sekali betapa berat hati teman itu melelang buku-buku kesayangannya yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Nanti bisa mengumpulkan lagi yang baru di Indonesia.” Begitu jawabnya ketika saya tanya perasaannya berpisah dengan koleksi bukunya. Ah, saya tahu dia sedih sekali.

Saya yang tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, mulai mencicil mengembalikan buku-buku di Kuwait yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua. Bahkan ketika tahu ada cargo murah ke Indonesia, saya mulai mengepak buku-buku kesayangan itu dan mengirimnya balik ke Indonesia melalui cargo tersebut. Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Lantas saya pun beralasan kalau ingin membaca kembali buku tersebut makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha…ha…ha….

Dan saya kaget sekali ketika mendapat kabar cargo yang saya pakai untuk mengirimkan buku-buku kesayangan itu gudangnya di Kuwait habis terbakar. Walaupun buku-buku saya telah selamat sampai di Indonesia, saya kaget dan berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk sahabat saya sesama kutu buku yang seluruh koleksi bukunya ikut terbakar di gudang tersebut. Bukan hanya buku, tapi juga koleksi cd film-film Koreanya dan juga peralatan elektronik milik suaminya. Tambah sedih lagi ketika mendengar pihak cargo yang telah berjanji untuk mengganti rugi sampai saat ini belum juga membayar kerugian tersebut.

Tapi dua tahun belakang ini saya gembira sekali nyaris berteriak-teriak kegirangan ketika ebook-ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan Femina pun sudah hadir emagazine-nya, wow setiap minggu saya tidak lagi ketinggalan tiap edisinya, bahkan saya masih bisa mengunduh edisi-edisi sebelumnya yang terlewat. Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan simpan menyimpannya. Walaupun saya suka dikelilingi buku-buku dan suka sekali dengan bau lembaran buku baru, tapi bagi kami yang tinggalnya mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila pindah harus membawa-bawa berkardus buku.

Cukup punya satu tablet! Dan saya pun bisa membawanya ke mana saja, membacanya di mana saja, kapan saja saya inginkan. Ho…ho…ho… benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. Rasa-rasanya saya ingin mencium Steve Jobs atau siapapun itu yang telah menciptakan smartphone dan tablet. Kini koper dari Indonesia pun bisa diisi dengan makanan-makanan Indonesia favorit. Atau sepatu, tas, baju-baju etnik hasil hunting selama liburan di Indonesia. Dan saya pun bisa berbangga sedikit telah ikut menyelamatkan lingkungan dengan membeli buku atau majalah digital yang paperless. Ahh.. welcome to digital world, he…he…he…. (Irra Fachriyanthi-Doha Qatar)

Ketika dimuat di Femina, redaktur mengedit beberapa bagian dari tulisan termasuk judul tulisan.

Naskah setelah diedit Femina:

Kutu Buku

Hal paling berat bagi si kutu buku ketika merantau ke luar negeri adalah berpisah dengan buku-buku dan majalah kesayangannya. Itu juga yang saya rasakan ketika delapan tahun lalu mengikuti suami pindah ke Kuwait.

Untungnya kantor suami menyediakan fasilitas container 20 feet sehingga saya bisa membawa isi rumah kami di Indonesia, termasuk koleksi buku dan majalah kesayangan. Ini memang berkah luar biasa. Hanya, saya lupa memborong buku baru, sehingga baru beberapa bulan di Kuwait, saya sudah kehabisan bahan bacaan!

Padahal, buku-buku itu adalah teman yang sangat dibutuhkan pada masa adaptasi di gurun pasir yang terasa sangat berat dan membosankan. Saat itu di Kuwait, kami, kaum wanita, tidak bisa bebas keluar rumah. Terbayang bosannya, bukan?

Kekecewaan itu cukup terobati dengan koneksi internet yang sangat cepat. Portal-portal berita dan tabloid online Indonesia hampir tiap hari dikunjungi. Selain memantau perkembangan di tanah air, juga sebagai bahan bacaan di kala suntuk dan rindu membaca melanda.

Salah satu yang kerap dikunjungi adalah website majalah kesayangan, femina. Hampir seluruh isinya terutama bagian cerber-nya, saya lalap habis. Bahkan berulang-ulang dibaca karena saya sangat suka membaca fiksi.

Yang agak menjengkelkan ketika cerber baru terbit, tiap minggu saya menanti-nanti kapan lanjutannya diunduh. Dan tidak selalu tepat satu minggu, kadang harus menunggu sampai dua minggu. Huh! Itu sangat menjengkelkan dan bikin gregetan. Rasanya seperti cinta yang digantung, arrghhh…. Ha… ha… ha….

Beberapa teman Indonesia ternyata mengalami hal yang sama, sehingga memutuskan untuk mengimpor majalah tercinta ini dari tanah air. Kebetulan ada teman Indonesia yang memang berjualan barang-barang dari Indonesia. Kepada beliaulah kami membeli femina.

Tentu saja harganya harga impor. Untuk satu eksemplar, kami harus membayar sebesar Rp100.000 lebih, tergantung kursnya. Bahkan terkadang bisa sampai Rp150.000. Tapi, kami sungguh tak keberatan. Dan setelah itu, bisa dipastikan si majalah akan beredar dari satu ibu ke ibu-ibu yang lain, ha… ha… ha….

Kebiasaan membawa buku-buku ini mulai saya kurangi ketika saya tahu seorang istri teman suami yang kembali pulang ke Indonesia harus melelang semua koleksi bukunya yang dibawa dari Indonesia. Karena ternyata, tidak ada fasilitas container seperti kalau pindah ke Kuwait. Saya tahu ia sedih sekali.

Tidak ingin kejadian serupa menimpa diri sendiri, saya mulai melakukan aksi balik. Tiap mudik ke Indonesia, saya mencicil mengembalikan buku-buku yang telah dibaca. Bisa satu koper isinya buku semua.

Suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Terutama ketika mendapati satu tas berisi buku dari Indonesia yang dia tahu persis tahun sebelumnya buku itu sudah saya bawa balik ke Indonesia. Saya pun beralasan kalau ingin baca-baca lagi, makanya dibawa lagi ke Kuwait, ha… ha… ha….

Dua tahun belakang ini saya gembira sekali dan nyaris teriak-teriak kegirangan ketika ebook Indonesia bermunculan. Saya bisa puas membeli novel-novel yang saya inginkan. Bahkan, femina pun sudah hadir emagazine-nya.

Dan bagian yang paling menyenangkannya, saya tidak perlu lagi ribet dengan urusan penyimpanan. Walaupun suka sekali pada bau lembaran buku baru, bagi kami yang tinggal mobile—sekarang kami tinggal di Qatar– rasanya ribet juga bila berpindah-pindah dengan menenteng-nenteng berkardus buku.

Rasanya saya ingin mencium Steve Jobs! (Fachriyanthi-Doha Qatar)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *