Category Archives: Blog Contest

“Menjadi Perempuan Kaya”

Menjadi perempuan kaya adalah resolusi keuangan saya di momen Idul Fitri tahun ini. Bukan tanpa alasan saya mencanangkan resolusi ini. Juga bukan ujug-ujug terjadi begitu saja, tapi ini sudah jadi pemikiran atau tepatnya cita-cita sejak lama. Hanya bagaimana mewujudkannya saja mungkin yang masih meraba-raba selama ini, hehehe… Jadi momen lebaran ini sepertinya tepat sekali untuk menjadikan ini sebagai resolusi.

Perempuan kaya yang saya cita-citakan adalah perempuan yang bisa berdikari secara ekonomi atau finansial. Tak masalah berapa banyak materi yang dihasilkan, walau mungkin hanya seribu perak, yang penting saya tahu bagaimana mencari uang. Apa sumber uang yang bisa saya hasilkan. Apa potensi saya yang bisa menghasilkan materi.

mandiri_cermati

Berikut beberapa alasan kenapa saya harus jadi perempuan kaya:

  1. Sudah menjadi kekhawatiran semua istri yang menggantungkan sumber keuangan keluarganya pada suami, bagaimana bila kepala keluarga itu pergi? Baik karena alasan perceraian atau meninggal dunia. Bukan berarti mengharapkan hal jelek terjadi, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan bukan? Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila itu terjadi, saya ingin sudah siap terutama secara materi dalam artian saya tahu bagaimana caranya mencari uang, karena life must go on bukan, apalagi dengan empat anak yang menjadi tanggungan, hehehe….
  2. Perempuan itu banyak sekali kebutuhan pribadinya, mulai dari perawatan badan dan make up, baju, tas, sepatu, buku, dan lainnya. Alhamdulillah selama ini suami tidak pelit mengeluarkan uang untuk kebutuhan itu, tapiii kadang suka ada perasaan bersalah ketika membelanjakannya? Aduh boros nggak ya ini? Perlu gak ya ini? Bener gak bu ibu? Nah, kalau belanja dengan uang sendiri tentu perasaan bersalah itu akan sedikit berkurang, hehehe….
  3. Setelah menikah, seorang anak perempuan tidak punya kewajiban membantu orang tuanya dalam hal finansial. Bila selama ini suami kita berbaik hati mengirimkan uang bulanan ke ortu, itu adalah tanda cintanya pada kita. Itu pun setelah suami memenuhi kebutuhan rumah tangga kita dan mendahulukan ortunya terutama ibunya. Dengan punya uang sendiri, kita bisa membantu ortu atau saudara-saudara yang membutuhkan walau tetap harus dengan sepengetahuan suami.

Ide_Lomba Cermati

Setelah mencanangkan resolusi menjadi Perempuan Kaya, saya mulai mencari-cari informasi dan peluang, apa sih yang bisa dilakukan ibu rumah tangga seperti saya untuk menghasilkan uang? Tanpa sengaja saya membaca artikel dari Cermati tentang 7 Jenis Pekerjaan Freelance Terpopuler”. Ketujuh pekerjaan itu adalah 1) penulis, 2) pemandu wisata, 3) guru les privat, 4) reporter atau contributor, 5) proofreader, 6) barista, 7) fotografer.

Begitu membaca itu, langsung seperti ada lampu menyala di atas kepala saya seperti di komik atau film-film kartun. Ada beberapa pekerjaan yang bisa saya tekuni dan bila diseriusi bisa menghasilkan materi. Belakangan ini saya lagi mencoba serius menulis dan mengirimkannya ke media, beberapa dimuat dan mendapatkan honor. Girangnya bukan main, namun belum terlalu diseriusi, masih moody, mungkin karena belum kepepet ya, ihhh jangan sampai deh.

 

Sampai kemudian saya baca artikel ini “5 Cara Sukses Menjadi Mompreneur” . Salah satu poinnya mengena banget yaitu pilihlah usaha yang sesuai dengan passion. Dan passion saya selama ini membaca dan menulis. Baiklah, saya pun mulai serius menekuni dunia tulis menulis ini.

mompreneur_cermati

Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mewujudkan usaha menjadi Penulis:

  1. Mengikuti kelas-kelas menulis online. Sadar diri suka moody, saya memilih kelas menulis yang intens dan langsung praktek agar bisa langsung menghasilkan karya tulisan yang bisa dikirim ke media. Kenapa online? Karena bisa diikuti di rumah sambil momong anak dan melakukan pekerjaan saya sebagai ibu RT.
  2. Mengikuti lomba-lomba menulis, untuk mengasah kemampuan menulis juga menepati jadwal deadline.
  3. Membuat blog dan mengikuti lomba-lomba menulisnya. Dengan mempunyai blog, saya seperti mempunyai majalah sendiri, setiap hari dituntut berpikir nulis tema apa ya yang menarik biar blog dikunjungi pembaca, hehehee… Dan itu melatih kemampuan mencari ide tulisan dan menuliskannya.
  4. Bergabung dengan beberapa komunitas penulis dan blogger. Tujuannya selain untuk menambah relasi atau networking, juga untuk ‘mencuri’ ilmu dari para penulis dan blogger senior.
  5. Melamar menjadi reporter atau kontributor media. Sebelum full jadi ibu RT, saya adalah seorang reporter di majalah remaja. Selain itu saya juga lagi mencoba membuat video-video reportase, kan sekarang lagi ngetren citizen journalism.
  6. Menulis buku atau novel. Ini obsesi terbesar saya, Insya Allah bisa terwujud. Aamiin

Walaupun penghasilan dari menulis belum seberapa, kan baru memulai serius ya, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk mengelola kebutuhan keuangan “pribadi”. Saya mencoba menerapkan tips mengelola kebutuhan  keuangan “si bunda” dari perencana keuangan Prita Ghozie. Katanya ada lima hal yang harus kita para ibu perhatikan dan siapkan dalam mengelola keuangan agar bisa jadi Perempuan Kaya:

  1. Sumber dana pos Bunda. Bila kita ibu bekerja, tentukan berapa persen dari penghasilan yang masuk ke pos khusus ini. Bila sumber dana bergantung dari pasangan, pastikan pengeluaran pribadi tidak lebih dari 10% dari uang yang diberikan.
  2. Buat anggaran terpisah. Pisahkan anggaran pribadi kita dari anggaran rumah tangga yang dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
  3. Miliki wish-list. Pisahkan kebutuhan dan keinginan. Sesekali memenuhi keinginan tentu sah saja, tapi pastikan kita sudah mempersiapkan dananya terlebih dahulu.
  4. Punya dana darurat untuk kebutuhan pribadi kita, terlepas dari dana darurat keluarga. Jumlah idealnya antara 1-2 kali pengeluaran pribadi kita.
  5. Bayar kartu kredit sendiri. Katanya kesalahan terbesar para ibu adalah pandai menggesek kartu kredit, tetapi menyerahkan semua urusan pembayaran kepada pasangannya (ini mah nyindiri saya, hahaha….)

Selain itu dianjurkan kita para ibu punya rekening terpisah juga dan belajar untuk berinvestasi sedikit demi sedikit. Karena itulah, belakangan saya jadi rajin ngintip CERMATI, baca berbagai artikelnya dari mulai tips keuangan, gaya hidup dan karir, bisnis dan investasi sampai ke produk perbankan. Salah satu pendorong saya mencetuskan resolusi ini juga karena membaca artikel di website ini.

Saya juga lagi getol lihat produk perbankan syariahnya, bercita-cita suatu hari bila royalti menulis saya sudah besar bisa disimpan di salah salah satu deposito perbankan syariah biar cepat jadi Perempuan Kaya, hehehe…. Boleh dong bermimpi, harus malah yaaaa!

Yuuuk jadi Perempuan Kaya yang berkah dan bermanfaat 🙂

<center>
<a href=”https://www.cermati.com/pages/lomba-blog-resolusi-lebaranku” target=”_blank”><img alt=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” src=”http://s2.postimg.org/eagumify1/resolusi_lebaran.jpg” title=”Lomba Blog Resolusi Lebaran” /></a></center>

 

*picture taken from internet

 


Lomba Blog Resolusi Lebaran

Bang Bing Bung…Yuk Kita Nabung!

Bing beng bang

Yok kita ke bank

Bang bing bung

Yok kita nabung

Tang ting tung hey

jangan dihitung

Tau tau kita nanti dapat untung

Lagu tentang menabung ciptaan Titik Puspa yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Saskia dan Geofanny ini sangat populer tahun 90-an. Emak-emak angkatan 90-an pasti hapal ya, hehehe….

Walaupun sekarang ada yang bilang menabung di bank itu bukannya untung tapi malah buntung karena banyak potongannya, saya masih tetap berkeyakinan bahwa menabung itu penting. Dan sedikit-sedikit sedang mengajarkan pada anak-anak tentang nilai uang dan manfaat menabung.

Sebenarnya yang paling penting itu adalah kita tahu cara menabung yang tepat seperti apa. Dan apa tujuan dari kita menabung. Maka jargon menabung akan untung itu benar-benar akan kita dapatkan.

Saya pribadi sebagai seorang ibu rumah tangga tulen (emang ada yang boongan ya, hihihi…) mengandalkan pendapatan suami. Ada sih honor dari menulis tapi belum seberapa, paling habis untuk jajan bakso atau beli buku, hehehe…. Praktis sumber keuangan keluarga kami adalah gaji bulanan suami.

Dulu ketika masih tinggal di Indonesia dan saya bekerja, kami sepakat mengalokasikan gaji saya untuk keperluan biaya rumah tangga. Sementara gaji suami dipegangnya sendiri digunakan untuk mencicil membangun rumah idaman kami.

Setelah tinggal di luar negeri, gaji suami masih beliau yang pegang. Namun pengelolaannya kami diskusikan bersama. Berapa gaji dan bonus yang doi terima, saya pasti tahu, walau suka lupa berapa tepatnya, hehehe…. Begitu juga dipakai untuk apa saja atas persetujuan kami berdua. Sebenarnya sih saya yang enak karena pengen apa-apa tinggal tunjuk saja, nanti pak suami yang bayarin, hahaha….

Kiat menabung ala kami sederhana saja, setiap bulannya kami punya target minimal menabung. Berapa jumlahnya? Para ahli keuangan bilang minimal 10% dari jumlah pendapatan. Tapi karena tingkat inflasi di Indonesia lumayan tinggi, maka dinaikkan minimal untuk tabungan itu 15% dari pendapatan.

Saya dan suami tidak serta merta manut pada 10%-15%, lah kalau bisa lebih dari itu kenapa nggak? Betul nggak? (nyengir jumawa).

Berikut yang kami lakukan sebelum menentukan target tabungan per bulan:

  1. Menghitung Pendapatan

Termasuk di dalamnya bonus tahunan yang jumlahnya bisa besar bisa juga kecil, tapi yang pasti bisa diprediksi kira-kira berapa besarannya. Dan tidak seperti di Indonesia, di sini tidak ada THR, hiks. Sementara honor menulis saya tidak dimasukkan ke pendapatan, mungkin saking kecil dan tidak menentunya ya, huhuhu….

  1. Menghitung Pengeluaran

Ada beberapa pengeluaran rutin kami perbulannya:

  • Zakat penghasilan sebesar 2,5% dari pendapatan.
  • Hutang (kalau ada), untuk hutang ini kami usahakan hutang yang produktif, artinya untuk keperluan investasi yang mengharuskan kami berhutang dulu karena tidak adanya kecukupan uang cash saat itu. Itu pun setelah kami berhitung bahwa tabungan kami nanti akan cukup untuk membayar hutang ini. Jadi ada target kapan hutang itu harus sudah lunas.
  • Biaya hidup, terbagi untuk biaya sewa aparteman (sudah termasuk biaya listrik, internet, dan pemeliharaannya) dan biaya hidup primer (makan, pakaian, buku). Biaya sewa apartemen ini sudah pasti besarannya perbulan. Sementa biaya hidup primer kami menetapkan target minimal dan maksimal. Jadi dari komponen ini bisa dihemat kalau ingin tabungannya lebih besar, hehehe….

Taraaa… ketemu deh berapa minimal kami harus menabung tiap bulannya, dari menghitung pendapatan dan pengeluaran ini secara cermat. Setelah itu disiplin untuk tidak menjawil atau mengkilik-kiliknya, hehehe…..

Oya untuk mengontrol pengeluaran ini kami punya dua alat penangkal boros, yaitu:

  1. Target keuangan tahunan yang diupdate perbulan. Ini pak suami yang pegang.
  2. Jurnal harian, berisi catatan belanja sehari-hari. Kalau ini saya yang pegang bedanya pak suami pake excel yang canggih, saya mah cukup coret-coret di notes hp, hahaha….

Khusus untuk jurnal harian ini, saya berpatokan pada target biaya hidup primer yang sudah disepakati kami berdua.  Alokasinya untuk belanja bulanan, acara makan di luar, beli baju, buku, dan mainan anak-anak. Dari jurnal ini saya bisa berhitung, kalau misal tengah bulan anggarannya sudah menipis, maka saya menahan diri untuk tidak mengajak keluarga jajan di luar, masak aja deh biar hemat, hehehe… Begitu juga kalau ingin beli-beli sesuatu, bulan ini beli buku banyak, bulan berikutnya gantian beli baju.

Ada cara jadul bin tradisional yang saya lakukan untuk menabung dari biaya hidup primer ini. Biasanya saya mengumpulkan uang pecahan tertentu, yaitu lembaran 5QR atau 10QR. Tiap kali menemukan uang pecahan itu, saya segera menyimpannya di tempat khusus yang tersembunyi. Walau ujung-ujungnya tetap diambil juga bila ada keperluan mendadak di rumah dan isi dompet sedang kosong, hahaha…. Tapi cara ini manjur juga loh, bener kata pepatah sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.

Di mana kami menyimpan tabungan ini? Di rekening tabungan biasa pak suami. Nanti setelah terkumpul, kami alokasikan sesuai dengan keperluannya.

Berikut alokasi Tabungan kami:

  • Dana darurat, untuk dana ini kami menyimpan tabungan dalam bentuk emas batangan. Dan terbukti beberapa kali cukup menolong kami ketika dalam situasi darurat walaupun sedikit merugi, karena harga jualnya lebih rendah dari harga beli. Pendapat saya, sepertinya emas batangan ini cocoknya untuk jangka panjang, baru berasa untungnya. Makanya sekarang ini kami sedang berpikir untuk menyimpan dana darurat ini dalam bentuk deposito. Lagi larak-lirik deposito yang tepat dan sesuai bagi kami. Untung ada cermati.com, hingga kami yang tidak tinggal di Indonesia bisa mudah menyeleksi produk-produk keuangan perbankan Indonesia. Berharap ada produk keuangan syariah di cermati.

Fyi, cermati perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi finansial. Cermati didirikan oleh para teknologis dari Silicon Valley dengan tim yang sudah berpengalaman di perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka seperti Google, LinkedIn, Microsoft dan Oracle. Tim Cermati memiliki pengalaman total lebih dari 12 tahun dalam mengerjakan aplikasi dan situs web yang digunakan lebih dari ratusan juta user di seluruh dunia.

  • Dana jangka menengah; dana ini untuk keperluan sekolah, jalan-jalan, atau renovasi rumah. Kami memilihnya dalam bentuk reksadana. Masih maju-mundur untuk terjun ke saham.
  • Dana jangka panjang; digunakan untuk kuliah anak-anak dan dana pensiun. Kami menyimpannya dalam bentuk aset yang produktif, yang terbeli setelah nabung berbulan-bulan dengan disiplin, hehehe….

So, intinya menabung itu penting untuk masa depan kita dan anak-anak. Lakukan menabung dengan konsisten dan disiplin. Dan cermatlah memilih produk tabungan yang sesuai dengan kondisi keuangan kita dan tepat dengan keperluan atau tujuan dari menabung kita.

Menabung untuk investasi itu untung!

Yok kita nabung

Tang ting tung hey

jangan dihitung

Tau tau kita nanti dapat untung

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati”

Sumber foto: google

Ketika Sepasang Bidadari Mengepakkan Sayap

Andaikan aku punya sayap

Ku kan terbang jauh mengelilingi angkasa

Kan kuajak ayah bundaku terbang bersamaku

Melihat indahnya dunia

Setiap kali mendengar lagu itu, ingatan saya pasti tertuju pada kedua orangtua. Betapa inginnya saya membawa mereka berkeliling melihat keindahan dunia. Membawa mereka ke tempat-tempat yang indah. Mengenalkan mereka pada berbagai makanan dan adat istiadat yang berbeda. Namun yang utama adalah memenuhi impian terbesar mereka melihat rumah-Nya.

Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Allah menitipkan rejekinya pada suami dan saya hingga mampu mewujudkan impian terbesar orangtua dan mertua. Walau saat itu ada seorang sahabat yang bilang harusnya kami—saya dan suami—dulu yang berhaji baru memberangkatkan orangtua. Mungkin seharusnya memang begitu. Tapi, saat itu saya tidak perduli. Mimpi kedua pasang bidadari kami itu lebih penting bagi saya dan suami saat itu. Kami takut bila menundanya, tak ada lagi waktu bagi mereka yang sudah lanjut usia. Walau kematian tak mengenal usia. Mungkin saja saat itu kami yang duluan menghadap-Nya. Siapa tahu bukan? Karena kematian adalah rahasia Illahi.

Setelah kewajiban itu terpenuhi, saya dan suami menganggapnya sebagai kewajiban, saya pikir sudah cukup apa yang kami berikan pada orangtua. Ternyata tidak, keinginan untuk memberi dan membahagiakan mereka bagai candu. Rasanya ingin dan ingin terus membawa mereka terbang, meninggalkan sejenak kampung halaman yang telah mereka tempati dari lahir.

Kesempatan itu datang lagi. Saat itu saya hamil anak ketiga dan suami bertugas ke Australia dalam waktu lama, hampir setahun. Otomatis dia tidak bisa mendampingi saya selama kehamilan bahkan saat melahirkan. Kebetulan waktu itu kami sedang tinggal di Kuwait. Akhirnya diputuskan orangtua saya datang ke Kuwait menemani saya ketika melahirkan, tiga bulan lamanya.

Saya tahu bukan hal yang mudah bagi Mamah dan Apa pergi ke luar negeri, apalagi mereka tak fasih berbahasa Inggris. Apalagi harus transit dulu di bandara Dubai yang luas. Terbayang bingungnya mereka nanti. Namun keinginan kuat mereka untuk naik pesawat dan pergi ke luar negeri juga melihat cucu-cucunya begitu besar, mengalahkan segala ketakutan mereka. Katanya satu kampung heboh ketika tahu orangtua saya mau pergi ke Kuwait hanya berdua saja dan dalam waktu yang lama, hehehe….

Betapa bahagia dan terharunya saya ketika menjemput mereka di bandara. Walau terlihat lelah karena perjalanan panjang, saya tahu Mamah dan Apa sangat menikmati perjalanan itu. Celoteh tentang pengalaman di perjalanan pun tak henti keluar dari mulut mereka. Tentang kebaikan seseorang yang menolong mereka check in di bandara Soekarno-Hatta. Tentang kebingungan mereka ketika mencari gate pada saat transit di bandara Dubai. Dan juga tentang kelucuan ketika mereka ditawari makan oleh pramugari di pesawat.

“Waktu pramugari nawarin minum, Apa bilang aja white water. Bener, kan, air putih itu Bahasa Inggrisnya white water?” cerita bapak saya bangga dan saya pun tergelak.

“Mamah gak makan di pesawat. Rasa makanannya aneh, gak enak,” kata Mamah saya dengan wajah meringis.

Hari pertama di Kuwait, bapak saya seperti kebiasaan di kampung, sehabis shalat Subuh jalan-jalan menyusuri jalanan Kuwait. Saya dan suami kaget, karena biasanya suka ada razia polisi memeriksa pendatang yang kedapatan berkeliaran di jalan. Dan bapak saya tentu saja jalan-jalan santai tanpa membawa paspor. Dipikirnya sama saja kayak jalan-jalan pagi di kampung. Ketika diberitahu pucat-pasi wajah bapak dan sejak itu tidak berani lagi ke luar rumah sendiri. Ah bapak, hahaha….

Minggu-minggu pertama mereka berjalan-jalan mengelilingi Kuwait. Mereka tampak takjub melihat jalanan tol Kuwait yang luas dan gratis. Deretan mobil mewah yang diparkir begitu saja di depan rumah atau apartemen, tanpa dimasukkan ke dalam garasi. Bapak saya pun terkaget-kaget dengan gaya bicara orang Arab yang seperti membentak juga temperamen mereka yang tak sabaran bila menyetir. Awalnya bapak saya akan menyetir di Kuwait, sampai buat SIM Internasional sebelum berangkat, sampai tidak berani menyetir.

Saya pun mengajak mereka pergi ke Kuwait Tower, landmark kebanggaan orang Kuwait. Pergi ke pasar tradisional yang bersih dan luas, mencicipi makanan Arab yang mungkin terasa aneh di lidah mereka. Jalan-jalan di tepi pantai yang bersih, indah dan gratis. Pergi ke mal-mal di Kuwait yang mewah.

“Luas banget Teh, ini kayaknya seluas kampung kita,” kata bapak saya takjub ketika dibawa ke Grand Avenues, mal terbesar di Kuwait.

“Mamah harusnya pakai kursi roda nih, gak kuat jalannya,” kata Mamah saya dengan muka lelah namun sorot matanya gembira dan antusias.

Hal yang paling menyenangkan adalah ketika membawa mereka mencicipi makanan-makanan yang baru bagi mereka. Mulai dari makan es krim di restoran es krim yang terkenal. Mereka tampak takjub ketika mencicipi es krim dengan waffle atau crepe yang disajikan di piring yang cantik. Ketika menemukan nasi goreng di sebuah restorn,  mereka terperangah.

“Masa nasi goreng segini harganya ratusan ribu? Gak enak lagi, enakan buatan Apa dan Mamah” tanya bapak saya sambil geleng-geleng kepala. Kurs Kuwait Dinar memang cukup tinggi terhadap Rupiah. Satu Dinar Kuwait bisa mencapai 40 ribu rupiah.

Namun yang paling berkesan bagi saya adalah ketika mereka mencicipi pizza. Ya pizza dari brand ternama yang di Indonesia juga banyak. Di Indonesia, mereka selalu menolak ketika saya tawari makan pizza. “Enakan sorabi Teh.” Begitu selalu alasan mereka, hanya satu gigitan mencoba setelah itu ditinggalkan.

Nah, entah kenapa ketika di Kuwait mereka ketagihan makan pizza ini. Katanya pizzanya enak. Mereka sangat menyukai pinggiran pizza yang full keju. Apalagi ketika dipanasin di microwave, kejunya meleleh dan lumer di mulut. Dan pizza ini pun jadi makanan favorit mereka terutama bapak saya sampai sekarang.

Sekembalinya mereka ke Indonesia, adik-adik saya cerita kalau tiap kali mengunjungi adik saya yang tinggal di Depok, Apa pasti minta dibelikan pizza. Begitu juga ketika salah satu adik saya pergi ke luar kota, pasti oleh-olehnya pizza, karena di kota kami belum ada kedai pizza, hehehe….

“Tapi pizzanya masih lebih enak yang di Kuwait Teh,” lapor mamah saya. Entahlah betul atau tidak. Namun satu hal yang pasti kedua orangtua saya sekarang tidak lagi ‘alergi’ pada keju. Dulunya mereka selalu bilang kalau keju itu tidak enak, bikin eneg. Mungkin karena belum terbiasa saja.
Untuk pilihan keju ini mereka terutama mamah saya tahu apa yang harus dipilih. Ketika saya mudik dan mengatakan perlu keju untuk membuat cheese stick dan macaroni schotel, mamah saya langsung menunjuk keju Kraft di sebuah supermarket. Untuk urusan keju, Kraft ini memang juaranya, di kota-kota kecil pun mudah didapati.

Saya pun begitu, walau di Kuwait bejibun keju, tapi tetap kalau butuh keju pasti yang dicari keju Kraft. Awal-awal tinggal di Kuwait, saya sangat kaget ketika melihat etalase keju dalam bentuk bongkahan dipajang di supermarket-supermarket. Saya tadinya pikir itu tahu, sudah senang dan bangga saja mendapati tahu dipajang di etalase sepanjang itu, heheheh…. Orang-orang Arab memang sangat menggilai keju. Sayang sampai sekarang saya belum pernah mencoba keju-keju itu. Ya, karena setiap teringat keju pasti pilihanya keju Kraft.

Anak-anak pun sangat menyukai keju Kraft ini. Makanya keju ini selalu tersedia di dalam kulkas, baik yang berupa cheddar cheese maupun slice. Keju cheddar biasanya saya pakai untuk membuat roti bakar, martabak manis, pisang bakar, macaroni schotel. Sementara yang slice untuk sandwich atau dicemil begitu saja. Biasanya anak ketiga saya yang suka mengemil keju slice ini, tak heran kalau berat adannya cukup lumayan, karena salah satu manfaat dari keju ini bisa untuk menambah berat badan. Selain itu keju Kraft mengandung protein susu yang tinggi, vitamin dan mineral yang bagus buat kesehatan gigi dan tulang.

Oya kembali ke cerita orang tua saya ketika di Kuwait, mereka hanya bertahan satu bulan di Kuwait. Setelah itu memohon minta pulang. Katanya ingat sama kebun, sawah, dan mushala. Apalagi melihat saya dan cucu mereka yang baru lahir tampak sehat dan dikelilingi sahabat-sahabat yang baik dan ringan serta sigap menolong. Saya pun tak kuasa menahan mereka lama-lama. Saya tahu mereka tak betah terpenjara di dalam apartemen, tak banyak melakukan kegiatan. Sudah terbayang mereka yang tiap hari pergi ke sawah atau kebun pasti dilanda bosan yang teramat sangat. Akhirnya dengan berat hati saya pun mengizinkan mereka pulang lebih cepat.

Setidaknya mereka sudah sangat bahagia pernah pergi naik pesawat ke luar negeri. Kata adik saya, tak henti-hentinya bapak saya cerita ke teman-temannya tentang kehidupan di Kuwait yang modern. Dan saya pun bertekad, suatu hari ya suatu hari nanti akan mmbawa mereka lagi terbang ke tempat lain, khusus buat jalan-jalan, bukan untuk dikerjai sebagai baby sitter, hehehe….

Suatu hal yang saya sadari sekarang, memberi pada orang tua sejatinya adalah memberi pada diri kita sendiri. Membahagiakan mereka adalah kebahagian buat kita sendiri. Tidak pernah ada kata cukup dan selesai untuk terus memberikan yang terbaik dan membahagiakan mereka. Bahkan bila suatu saat mereka lebih dulu dipanggil oleh-Nya, kita masih harus terus memberikan bakti pada mereka, dalam bentuk doa dan amalan soleh.

Salah satu bentuk memberi lain yang saya lakukan adalah berusaha mudik setahun sekali tiap kali anak-anak liburan summer sekolah. Bila teman-teman lain memilih untuk liburan ke pelbagai tempat wisata di luar negeri, maka saya memilih menghabiskan 3 bulan liburan sekolah itu untuk pulang kampung. Menemui orangtua tercinta, melepaskan rindu, dan berusaha berbakti sebaiknya. Karena orangtua sendiri sudah tahu kapan biasanya liburan sekolah anak-anak, mereka akan sibuk menelpon bertanya kapan mudik, kapan pulang? Pertanyaan yang dilontarkan dengan suara yang penuh kerinduaan.

Apalagi beberapa tahun ini liburan sekolah bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri, maka semakin kuat saja alasan saya untuk mudik. Hanya tahun ini untuk pertama kalinya saya absen pulang karena kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk naik pesawat. Jangan ditanya betapa sedihnya. Hanya  menelpon yang bisa saya lakukan menanyakan kabar, mengobrol apa saja untuk melepaskan rindu.

Mungkin sekotak atau beberapa kotak pizza full keju bisa jadi wakil saya dan keluarga di saat lebaran nanti:) Ya, saya terpikir untuk meminta adik saya memesan beberapa kotak pizza sebagai bingkisan lebaran nanti bagi orang tua saya. Pizza kesukaan Apa dan Mamah. Semoga bisa mengingatkan mereka pada momen ketika mereka di Kuwait. Mengingatkan mereka pada anak cucu dan menantu yang di perantauan. Betapa kami sangat merindukan mereka. Betapa kami maengashi dan mencintai mereka sepenuh hati.
Saya pun jadi tertarik untuk bisa membuat pizza sendiri. Tentu akan jadi kejutan tersendiri kalau saat mudik nanti bisa membuatkan pizza buat orangtua saya. Setelah melihat-lihat resep di www.kejumoo.com, sepertinya gampang saja membuat pizza ini 🙂 Nggak percaya? Ini saya copas ya resepnya:

Mini Pizza Quick Melt


Bahan-bahan:

10 buah mini pizza kecil (instan)

270 gr tomat kupas (kaleng)

300 gr daging cincang

6 butir telur rebus (iris)

120 gr Kraft Quick Melt (parut kasar)

1 gr daun oregano

20 gr bawang putih

50 gr bawang bombay

Cara Memasak:

  1. Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum lalu masukkan daging cincang, masak sampai matang. Tambahkan tomat dan daun oregano, masak sampai tomat halus mendidih. Angkat dari api.
  2. Lumuri mini pizza dengan adonan daging cincang lalu telur iris. Kemudian taburkan Kraft Quick Melt parut.
  3. Panggang dengan suhu 160 derajat C selama 10 menit. Hias dengan peterseli atau daun oregano segar.

So, bila kasih ibu dan bapak sepanjang jalan, maka kasih anak pun bisa sepanjang jalan, walau tak akan pernah menyamai kasih dan cinta mereka.

Senja di The Bay Bali

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 

Apakah bahagia itu? Ketika jalan sunyi ini serasa tak berujung, maka bahagia adalah hadirmu yang menjelma dalam untaian kata.

“Semoga kamu mau membalas suratku ini ya biar kita bisa saling tahu kabar masing-masing. Kita buktikan siapa yang nilainya paling bagus. Sekolah siapa yang paling keren.”

Paragraf terakhir dari surat pertamamu. Aku tertawa membacanya. Tak menyangka kamu berani berkirim surat padaku. Ketika itu kita kelas 2 SMP. Di sekolah yang berbeda. Setelah enam tahun kita bersaing di sekolah dasar. Saling ejek. Saling unjuk gigi. Siapa yang paling pintar. Siapa yang paling banyak pengikut. Ketika itu aku selalu satu langkah di depanmu. Kamu kesal. Aku tertawa jumawa. Namun saat itu kamu pantas berbangga hati karena terpilih sebagai ketua Osis di sekolahmu. Sementara aku sebagai pengurus kerohanian. Emm.. persaingan kita pun terus berlanjut.

Apakah bahagia itu? Ketika di depan kaca ruangan piket guru terpampang amplop bertulis namaku. Berkop surat sebuah sekolah ternama di Bandung. Darimu. Itulah bahagia.

“Selamat ya akhirnya kamu diterima di sekolah impianmu. Dengan beasiswa full. Wow keren! Aku akui kali ini kamu menang. Semoga kamu mau balas suratku ya biar kita bisa saling cerita sekolah masing-masing.”

Sepenggal paragraf dari berlembar-lembar suratku padamu. Kali ini aku yang pertama berkirim surat. Setelah aku tahu kamu menerima beasiswa di salah satu sekolah favorit di Bandung. Sekolah impianmu. Impianku juga. Namun sayang aku gagal. Sepupumu yang memberikan alamatmu itu. Dan kamu membalasnya dengan begitu cepat. Kantor pos pun menjadi saksi berpuluh surat yang terkirim atas namaku dan namamu.

Tak ada lagi sekat hati antara kita. Aku begitu bebas menumpahkan semua gejolak masa mudaku. Ketika ujianku jelek. Kamu menjadi motivatorku. Ketika aku berselisih dengan gengku. Kamu menjadi penasehatku. Begitu pun sebaliknya. Ketika kamu berkeluh kesah, bersedih, aku selalu mendukungmu. Satu sama lain selalu hadir menemani. Walau dalam bentuk surat.

Dan entah kapan mulainya. Kita pun saling menceritakan rahasia hati masing-masing. Tentang cinta pertama kita. Walau ada perasaan aneh menyelinap ketika aku membaca kekaguman dan simpatimu pada adik kelas yang kau taksir. Perasaan tak nyaman yang selalu cepat ku tepis. Hingga akhirnya aku menangis dalam suratku padamu. Pahat hatiku yang pertama. Ketika cinta pertamaku memilih yang lain. Perasaan tertolak itu begitu menyakitkan. Karena aku merasa dia memberiku perhatian istimewa. Tapi kenapa dia memilih yang lain? Kenapa bukan aku?

Kamu pun dengan gagah mendukungku. Lewat surat. Tentu saja. Kamu mencaci maki dia yang tak memilihku. Kamu mencela dia yang dipilih cinta pertamaku. Dan saat itulah aku menyadarinya. Suratmu saja tak cukup. Aku butuh hadirmu. Nyata di depanku. Yang bisa kubanggakan di depan temanku. Bahwa ada orang yang menyukaiku. Menyayangiku. Selalu memujiku. Dan berbagi rahasia denganku. Tampan, cerdas, jago basket dan main musik. Idola di sekolahnya. Sekolah favorit di seluruh Jawa barat.

Namun saat bersamaan itu pula aku menyadari. Kamu tak nyata! Kamu mungkin hanya khayalanku. Kamu adalah Pangeran Kegelapan di komik yang kubaca. Kamu tak pernah ingin bertemu denganku. Walau setiap libur sekolah aku dengar kamu pulang kampung. Kampung kita. Tapi kamu tak pernah muncul di depan rumahku. Berbagai alasan kucari agar bisa lewat di depan rumah orang tuamu. Tiap kali kudengar kabar kepulanganmu. Dengan hati berdebar bertalu-talu. Tapi kau tak pernah nampak. Bahkan selintas bayangmu di balik tirai pun tak terlihat. Dan aku pun tak pernah bertanya di surat tentang itu. Aku begitu takut mendapat penolakan. Aku bahagia hanya dengan suratmu. Cukup bahagia!

Hingga suatu hari, di tahun pertama kuliah kita. Kamu di Bandung. Aku di Bogor. Suratmu datang. Penuh amarah dan dendam. Surat terakhirmu! Yang tak pernah aku balas. Dan kamu pun menghilang dari hidupku. Sesekali ingatan tentangmu menyelinap dalam bunga tidurku. Seringkali terbangun di pagi buta dan kau hadir pertama dalam pikirku. Mereka-reka apa jadinya kita andai surat terakhirmu kubalas.,Hingga enam tahun kemudian, tiba-tiba kamu muncul. Begitu tak terduga. Memantik harap dan asa dalam hidupku.

Apakah bahagia itu? Ketika angin membisikkan tentangmu. Suksesmu. Sukamu. Bahagiamu. Itulah bahagia.

Semilir angin menerbangkan helain rambutku. Wangi bunga dari shampo yang kupakai mendamaikan resahku. Pandangku liar ke sekeliling, melihat deretan rumah pohon yang berdiri anggun dan gagah. Tampak bantal warni warni di dalamnya, sangat mengundang merebahkan badan, melepas penat. Ada pula meja panjang rendah dari kayu dikelilingi tunggul-tunggul kayu berbantal ungu yang berfungsi sebagai kursi. Berbinar mataku melihatnya. Ungu warna favoritku. Dan kamu tahu itu.

Langkah kakiku terendam pasir yang lembut. Rimbunnya daun menguarkan kesejukan. Debur ombak Nusa Dua membelai gendang telingaku. Tenda terbuka dengan bantalan empuk untuk lesehan tampak menggoda. Di ujung pandang, kulihat kapal bekas yang disulap untuk tempat bersantai. Sebentar lagi kapal itu akan ramai dengan celotehan anak-anak dan orang tuanya yang bermain peran bajak laut. Seperti yang aku lihat di video teaser-nya. Video yang kamu kirimkan padaku via whatsapp.

“Namanya The Bay Bali. Kawasan elit di sepanjang pantai Nusa Dua Bali. Banyak restoran-restoran keren di situ. Recommended! Temanku baru melamar pacarnya di salah satu restoran di situ. Lihat videonya romantis banget deh.”

“Emm…..”

“Lihat Resto Pirates Bay. Itu kamu banget deh. Tree house!!! Your child dream kan?”

“Dan Bumbu Nusantara itu kamu banget. Musik etnik, kayaknya musik sunda ya? Ontel, becak, gerobak jajanan, rendang favoritmu, street food citarasa hotel, pasti kamu betah.”

“Hahahaa… betul… betul…you know me so well yaa.”

“Jadi kamu akan melamar cewekmu di situ? Atau jangan-jangan nikah dan bulan madu sekalian di Bali ya?”

“Emm… bisa jadi, sepertinya sih dia suka juga tuh The BayBali.

Dan sekarang di sinilah aku. The Bay Bali. Tepatnya di Pirates Bay. Melihat rumah pohon impianku. Setelah tadi makan siang di Bumbu Nusantara. Melahap semua makanan kesukaanmu. Semuanya terasa hambar. Bukan karena makanannya tak lezat. Tapi karena kepedihan melumpuhkan indera pengecapku. Kepedihan yang kubuat sendiri. Mendatangi tempat yang ingin kunikmati berdua denganmu. Naik ontel menyusuri pantai Nusa Dua. Seperti impianmu. Menatap sedih becak yang ingin kunaiki dengan dirimu yang mengayuh pedalnya. Hari ini aku melakukan semuanya. Sendirian. Karena bersamamu adalah mustahil.

Setitik air bergulir membasahi pipiku. Kutengadahkan muka menepis butiran kesedihanku. Bambu berayun di bawah rumah pohon yang kududuki mengayun lembut tubuhku yang sarat dengan keletihan. Kudekap erat kotak kayu kesayanganku. Kotak ajaibku. Berisi semua surat darimu. Berisi semua kenangan tentang kita. Yang hari ini ingin aku lupakan. Di sebelahku terbuka surat terakhirmu. Surat yang telah memisahkan kita sembilan tahun lamanya. Akankah berbeda jadinya hari ini kalau saja aku tak pernah mengirimkan surat yang membuatmu marah itu?

Surat yang kubuat karena aku panik. Takut. Dengan perasaanku sendiri. Karena kamu berjanji akan datang ke Bogor. Menemuiku setelah hampir tujuh tahun kita tak bertemu. Di hari istimewaku. Untuk memberiku kejutan. Katamu ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku. Kamu janji setelah itu kita akan semakin dekat. Apakah kamu ingin aku menjadi pacarmu? Aku tak siap. Aku tak ingin diantara kita berubah. Aku pun membalas suratmu dengan panjang lebar, mengeluarkan teori, beropini, berdalil, bahwa pacaran tak boleh. Pacaran tak berguna. Aku tak ingin pacaran. Kamu pun marah. Marah besar. Entah kenapa. Dan aku pun tak berusaha meredakan marahmu. Lantas waktu bergulir, menghapus semua kenangan masa remaja kita. Begitu saja.

Sampai kemudian, sebuah email dari nama tak dikenal menyapaku. Aku begitu tak percaya ketika akhirnya kutahu itu adalah dirimu.

From: kinanti

To: arya99

“Bagaimana kamu tahu ini emailku? Kamu kemana saja selama ini?”

From: arya99

To: kinanti

Nona Kinan, emailmu ini aku yang bikin. Dan kamu ceroboh sekali, as usual password-nya tidak diganti. Jangan salahkan aku ya kalo emailmu sudah aku obok-obok:))”

Dan aku terbahak membacanya. Bertahun lalu, ketika internet pertama kali marak, kamu membuatkan aku email, katamu biar tak perlu lagi ke kantor pos. Ah padahal aku sangat suka dengan tulisan tanganmu yang rapi. Lebih rapi dari tulisan tanganku sendiri. Aku yang gaptek hanya setuju saja. Tapi email itu tak pernah kita pakai. Sembilan tahun lamanya. Dan entah kenapa selama itu aku tak pernah mengganti password-nya. Padahal hanya itu email satu-satunya yang aku punya. Email dengan namamu sebagai password-nya. Katamu biar aku selalu ingat denganmu.

Sembilan tahun. Bukan waktu yang sebentar. Ketika kita tak lagi remaja. Ketika aku berpikir kamu sudah dikelilingi anak-anak yang lucu dan istri cantik, tentu saja. Ketika aku sedang menikmati karirku di sebuah bank. Namun di sisi lain didera resah dari pertanyaan sanak keluarga dan kerabat kapan aku mengakhiri masa lajangku. Ketika kamu dengan karir impianmu. Sebuah perusahaan minyak internasional di negara para cowboy sana.

Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak yang berubah di antara kita. Namun kedekatan kita ternyata tak berubah. Aku malah merasakan kita semakin dekat. Ketika aku bebas bercerita tentang  mimpi-mimpiku. Begitu pun dirimu. Salahkah bila kemudian aku berharap lebih? Berharap bahwa kita kan mewujudkan semua mimpi-mimpi itu bersama. Salahkan bila aku mengartikan lain perhatianmu. Kantor pos, email, Facebook, whatsapp, adalah saksi kebersamaan kita. Menyimpan semua rahasia kita. Kenangan kita. Salahkah bila aku menginginkan lebih darimu?

Aku mengerti ketika kamu bilang tak bisa pulang ke Indonesia setiap tahun karena tiket pesawat yang mahal. Aku pun paham ketika kamu bilang ingin membahagiakan orang tua dan adik-adikmu sebelum kamu mencari kebahagianmu sendiri. Yang aku tak mengerti adalah konsep mapan dalam hidupmu. Kamu bilang baru akan menikah setelah kamu mapan. Setelah tugasmu berbakti pada keluarga selesai. Sampai kapan? Sampai lima tahun setelah email pertamamu padaku, kita hanyalah sahabat. Sahabat maya. Sungguh ironis. Aku tak ingin lagi menunggu. Lima tahun sudah terlalu lama bagiku.

Ah, mungkin aku yang terlalu besar kepala. Mengartikan ada sesuatu di antara kita. Ada yang istimewa. Bahkan 15 tahun lalu ketika kamu marah besar padaku, mungkin itu juga aku yang terlalu percaya diri. Bahwa kamu ingin jadi pacarku. Ternyata semua hanyalah ilusiku. Ilusi perawan tua. Sungguh menyedihkan.

Topik tentang Pernikahan selalu membuat kita bersitegang. Kamu marah besar ketika kubilang pengecut. Aku tahu kata-kataku kasar. Tapi aku tak akan menarik kata-kataku. Dengan karir yang gemilang. Dengan gaji dolar. Apa yang kau takutkan? Banyak laki-laki yang seperdelapan gajimu dengan gagah berani memasuki bahtera rumah tangga. Kamu berlindung dibalik mapan hanya untuk menutupi ketakutanmu berkomitmen. Ketaksanggupanmu dalam mengambil tanggung jawab.

Kamu pun balas mencelaku. Bahwa aku perempuan pemilih. Sampai usia kepala tiga terlewati tak jua menikah karena sibuk membuktikan diri bisa lebih dari lelaki. Bisa mengalahkan para pria. Aku egois. Begitu katamu. Dan kita pun berbalas melempar cela. Penuh emosi. Begitu kekanakkan. Hingga aku pun menyadari. Kita memang tak bisa bersama. Semua hanya khayalanku. Apalagi ketika kamu bilang kalau calon istrimu tak keberatan menunggumu. Aku kalah. Telak!

Akhirnya aku pun menyambut perjodohan yang ditawarkan sepupuku. Bukan karena aku sakit hati padamu. Bukan pula pelarian darimu. Bukan juga balas dendam padamu. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku. Berbagi hidup dengan laki-laki yang memang peduli padaku. Yang akan bersama-sama menghadapi semua liku kehidupan. Tak hanya senang. Tapi juga duka dan susah. Aku pun mengucapkan selamat tinggal padamu.

Senja perlahan mulai turun di langit Nusa Dua Bali. Aku melangkahkan kaki ke arah pantai. Meninggalkan gelak tawa anak-anak dan orang tuanya yang berbahagia. Senja membuat sekelilingku berwarna kuning emas. Air mata mengaburkan pandangku. Aku harus mengubur kotak ajaibku sebelum matahari terbenam. Entah bagaimana caranya semua kenangan tentangmu harus segera terkubur. Agar aku bisa membuka lembaran baru.

Apakah bahagia itu? KAMU!!!

Aku sangat suka fairy tale. Karena kisahnya selalu happy ending. Namun belakangan ini aku belajar untuk menerima kalau kisah kita, aku dan kamu, tak akan berakhir bahagia. Walau sosokmu kini berdiri di depanku. Di Bali. The Bay Bali. Dengan napas terengah. Rasanya tak percaya ketika tadi mendengar namaku dipanggil. Puluhan tahun tak melihatmu. Aku langsung mengenalimu. Sosokmu di Facebook telah melekat di benakku.

“Sahabatku bercerai. Terpisah dari anak-anaknya. Hanya karena istrinya tak suka dia membantu keluarganya. Aku tak ingin seperti dia, Kinan. Harus memilih seperti itu. Makanya aku bertekad untuk membahagiakan dulu keluargaku. Baru aku memikirkan untuk menikah. Itulah ketakutanku yang tak pernah kuceritakan padamu. Aku malu. Dan kamu benar. Membahagiakan orang tua tidak akan pernah selesai sampai kapan pun. Kini aku sudah siap untuk berkomitmen membina keluargaku sendiri.”

“Aku tahu. Selamat Arya, untukmu dan calon istrimu. Aku sudah melihat-lihat The Bay Bali. Sangat cocok untuk honey moon. Mungkin kita bisa double honeymoon, hahahaha….,” tawaku tersembur. Perih. Perih.

“Tapi kini aku tak punya apa-apa, Kinan,” Arya tak mempedulikan kata-kataku. “Mungkin aku pun akan kehilangan pekerjaanku karena meninggalkan proyek untuk terbang ke sini. Aku begitu kalut ketika mendengar kamu akan menikah. Aku takut kehilanganmu. Aku tak punya rumah. Mobil juga tidak ada. Bahkan tabungan pun ludes dipinjam adik iparku untuk investasi yang ternyata investasi bodong. Tapi aku masih punya semangat dan tekad untuk memulai lagi dari nol. Mau kah kamu menemaniku dalam keadaan seperti ini, Kinan?”

“Mak-sud-mu apaa?” Kataku terbata tak mengerti arah pertanyan Arya.

“Sejak 20 tahun lalu kamu lah yang aku harapkan, Kinan. Tapi aku tak punya keberanian menemui.  Kamu terlalu tinggi bagiku. Aku hanya berani menyapamu lewat surat. Makanya aku begitu terpukul ketika dulu kuliah kamu menolakku secara tidak langsung. Seluruh harga diriku rontok. Benar katamu aku memang pengecut.”

Mataku terbelalak mendengar pengakuan Arya. Rasanya seperti mimpi. Dan aku takut itu memang hanya mimpi saja.

“Ini adalah cincin yang aku beli dari gaji pertamaku. Untukmu, Kinanti. Karena memang dari dulu sampai sekarang hanya ada dirimu dalam hidupku. Tak ada perempuan lain.” Arya berjalan menghampirku sambil membuka sebuah kotak cincin. Matahari yang sempurna tenggelam mengaburkan sosok lelaki yang telah kukenal lebih dari separuh hidupku.

“Aku mencintaimu Kinanti. Dulu-kini- dan nanti. Maukah kamu menjadi istriku? Please marry me?!” Pinta Arya dengan suara bergetar.

Air mata tumpah mengaburkan pandangku. Namun aku bisa melihat jelas sosok di depanku. Matanya. Hidungnya. Mulutnya. Rambutnya. Yang dulu ku kenal ketika masih berseragam merah putih. Kini menjelma jadi sosok tegap dan tampan. Sosok yang telah menemani hari-hariku. Sosok yang aku dambakan selama ini. Yang menjadi alasanku datang ke The Bay Bali. Untuk melupakannya. Tapi kini dia dating jauh-jauh dari negeri paman sam untuk melamarku. Tentu saja aku menganggukkan kepala, mengiyakan. Urusan perjodohan biar nanti kubereskan dengan sepupuku. Arya tersenyum senang melihat anggukan kepalaku. Tangan kami pun terpaut erat. Tiba-tiba aku lupa kalau tadi sudah memesan makanan di Pirates Bay. Semoga para pegawai Pirates Bay tidak memarahiku karena pergi begitu saja. Senja di The Bay Bali menjadi saksi kebahagian kami. Aku dan Kamu.

 

Sepanjang Pantai Utara

 



Tepat seperti rencananya, taksi yang dipesannya datang pukul 5 sore, setelah dia menyelesaikan semua pekerjaannya. Perjalanan ini telah direncanakannya jauh-jauh hari, bagaimana ia ingin melewatkan pergantian tahun. Bukan perjalanan nyaman dengan kereta eksketutif seperti biasanya kalau dia pulang. Tapi menyusuri pantai utara dengan bus ekonomi. Napak tilas. Begitu dia menamakan perjalanan ini. Perjalanan dengan sebuah misi. Ketika dia merasa semakin hari hatinya semakin tumpul.

Sebenarnya perjalanan ini Akan lebih sempurna seandainya ia naik angkutan umum ke terminal pulo gadung. Tapi otak analisisnya memperkirakan kalau di penghujung tahun, jalanan ibu kota akan penuh sesak. Bukan pilihan bijak mrnghabiskan waktu dan energi di kemacetan ibu Kota. Dia harus dalam kondisi fit karena jalanan pantura akan banyak menguras Kesadaran dan kesabarannya. Dia cukup tahu diri setelah sekian tahun berada dalam segala kenyamanan, bukan hal mudah terjun bebas ke jalanan pantura.

Dia bukan tak menyadari supir taksi yang terus meliriknya dari kaca spion tengsh Mobil. Di juga menyadari betul ketika supir taksi itu pertama kali melihatnya keluar dari kantornya yang Megan Dan mentereng. Celana jeans belel dan kaus buluk yang kini dipakainya adalah peninggalan jaman kuliahnya dulu yang tersimpan rapi di dasar lemarinya.  Agak kekecilan di badannya yang sudah naik berkilo2, tapi cukup nyaman dipakai, karena dulu dia adalah remaja kukus yang selalu memakai baju atau Celana satu nomor bahkan dua nomor lebih besar. Alasan ekonomis. Biar terpakai lama. Biar tidak sering membeli baju atau celana. Sebuah topi butut dibenamkannya dalam2 di kepalanya, hingga tak dikenali satpam, petugas kebersihan gedung yang sehari2 cukup akrab dengannya. Setelan jasnya tersimpan rapi di tas ransel, teman setianya ketika kuliah.

Setelah menghadiahkan uang kembalisn yang cukup banyak ke si supir taksi, kakinya melangkah mantap memasuki terminal pulo gadung. Jangan terlihat ragu. Jhang an berhrnti di gerbang terminal, kalau tak ingin disergap kawanan Calo yang agresif. Itulah aturan main yang dipegagnnya  dari jaman kuliah ketika dia begitu akrab dengan terminal ini. Bila terlihat keraguan sedikit saja, maka nasibnya akan berakhir seperti gadis yang dari dia turun taksi, cukup menarik perhatiannya.

Blus bunga2 dibalut kardigan biru langit. Sebuah ikat pinggang kecil melilit di pinggangnya yang ramping. Rambutnya di ekor kuda. Tas ransel mungil nan feminin dipeluknya erat di depan dada. Profil wajahnya tak terlihat jelas. Bahasa tubuhnya yang membuatnya memberi perhatian. Terlihat jelas ragu2 seperti baru pertama kali datang ke pulo gadung. Tepat seperti perkiraannya, sang gadis langsung diserbu para calo.

“Ke mana, Neng? Cirebon, Kuningan?”
“Cirebon? Ayo sini sama saya!”
“Kuningan katanya, sini naik yang ini!”
“Eh, aduh… Nanti dulu, jangan tarik-tarik dong. Bentar dong…  Aduuh!!”

Ada dorongan hati untuk menolong si gadis bunga2. Tapi dia harus segera mencari mushala karena waktu mahgrib hampir habis. Jalanan pantura yg tak bisa diprediksi, membuatnya tak yakin bisa sampai ke rumah trngsh malam. Apalagi ini malam tahun baru bung! Mungkin baru subuh dia sampai ke rumah orang tuanya. Mendadak hatinya gentar meneruskan perjalanannya. Apa yang ku cari sebenarnya? Begitu batinnya. Lintasan apartemennya yang nyaman menggodanya. Berbaring di sofa sambil menonton film dr home theaternya yang changing ditemani hot coklat jelas lebih nyaman dari pada berada di hiruk pikuk terminal pulo gadung untuk kemudian terjebak di bus ekonomi menyusuri pantura yang kejam.

Sementara si gadis yg dikerumuni para calo tampaknys telah memutuskan memilih calo yang mana. Bus Cirebon atau Kuningan tak masalah. Begitu batin si gadis. Karena rencananya dia akan turun di kota Palimanan, kemudian melanjutkan perjalanan ke kotanya dengan menaiki angkot atau elf. Mungkin dia akan sampai ke Palimanan pukul 10 atau 11 malam. Sudah larut malam memang. Tapi elf jurusan Cirebon-Bandung setahu dia biasanya beroperasi 24 jam. Apalagi ini malam tahun baru pasti akan ramai, jadi dia tidak terlalu khawatir. Setelah sampai di kotanya, dia akan menelpon ayahnya tersayang. Sudah pasti dimarahin karena pulang malam dan tak mengabari. Tak mengapa, yang penting dia bisa berjumpa dengan orang tua dan adik-adiknya. Ide menghabiskan malam dan liburan tahun baru di kamar kost-annya yang sepi dan sempit, membuatnya nekad pulang di malam tahun baru ini.

Ide pulang ini terlintas begitu saja di benaknya ketika dia berdiri di depan Atrium Senen, menanti bus kopaja seperti sore-sore sebelumnya sepulang kerja. Hanya saja sore itu kesibukan di sekelilingnya tampak berbeda. Suara terompet yang ditiup para pedagang terompet riuh bersahutan. Pita warna warni di topi berbentuk kerucut melambai-lambai riang. Suara tawa ceria bercampur dengan obrolan seru tentang rencana melewatkan pergantian tahun nanti malam. Dia sendirian. Tanpa teman. Terlihat menyedihkan. 

Dengan terpaksa dia menolak ajakan teman-temannya kantornya bermalam tahun baru di puncak. Bukan tak ingin bergabung. Dia hanya tak ingin menjadi kambing congek, satu-satunya yang single diantara pasangan-pasangan yang kasmaran. Oh betapa menyedihkan, lebih menyedihkan daripada bermalam tahun baru sendirian di kamarnya yang sempit. Karena hampir semua teman kost-annya juga pergi keluar merayakan tahun baru.

Dan tiba-tiba ide itu muncul di kepalanya. Pasti seru merayakan tahun baru di jalanan, melintasi beberapa kota melihat kesibukan warganya menyambut tahun baru. Pasti akan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Begitu tekadnya ketika dengan penuh semangat dia melompat ke metromini yang membawanya ke terminal Pulo Gadung. Walau kemudian ketika sampai di terminal itu dia tampak gentar. Selalu tak siap dengan serbuan para calo.  Ini ketiga kalinya dia pulang ke kampung halamannya naik bus dari Pulo Gadung. Seringnya dia naik kereta api ke Cirebon, lanjut naik elf ke kotanya atau minta dijemput oleh orang tuanya sekalian mereka jalan-jalan ke Cirebon.

Namun kini dia gelisah bercampur was-was. Sudah hampir 2 jam bus yang ditumpanginya berhenti di depan pintu tol. Bukan karena mogok atau macet. Tapi karena mencari penumpang demi memenuhi bus yang masih kosong seperempatnya. Bila sebelumnya dia antuasis melihat kesibukan orang-orang yang akan merayakan tahun baru dari jendela busnya, kini dia mulai resah. Ibu gemuk yang dari terminal duduk di sebelahnya, sudah dari tadi turun. Ketika dia berdiri untuk meluruskan punggungnya yang pegal, matanya menyapu ke seluruh bus. Semua penumpangnya laki-laki! Dan kini mata-mata itu menatap ke arahnya antusias. Segera dia melorotkan nyaris menjatuhkan diri ke bangku bus. Jantugnya berdegup kencang. Menyesali tindakan spontannya berdiri tadi. Ya Allah, aku satu-satunya penumpang di bus ini! Batinnya ketakutan. Semoga nanti ada penumpang perempuan yang naik dan duduk di sebelahku, Doanya penuh harap.

Namun sosok yang menghampiri tempat duduknya dan kemudian duduk di sebelahnya, bukanlah perempuan seperti pintanya. Tapi seorang lelaki, masih muda tampaknya, tapi dia tak bisa melihat mukanya dengan jelas karena tertutup topi yang dibenamkan dalam kepalanya hingga menutupi muka. Lagipula dia tak berani menatap muka lelaki itu. Yang tampak olehnya hanya celana jeans yang dikenakan oleh lelaki itu. Tampak sudah tua dan usang. Begitu juga kaus yang dikenakannya. Tampak sudah pudar warnanya. Tapi anehnya bau yang menguar dari lelaki ini terasa wangi dan segar. Untunglah, hela dia lega, karena seingat dia penumpang bus ekonomi jurusan pantura biasanya selalu bau keringat tak sedap.

Sang gadis semakin merasa lega karena tampaknya sang pria tidak tertarik padanya, tidak berusaha mengajaknya kenalan atau ngobrol. Malah dia semakin membenamkan topinya menutupi seluruh mukanya dan memposisikan tubuhnya dalam posisi tidur. Perasaannya semakin lega ketika perlahan bus bergerak dan melaju membelah jalanan Pantura.

Sudah beberapa pengamen tarling koplo yang naik ke atas bus. Kebanyakan adalah para perempuan dengan alis tebal hasil lukisan. Beberapa penjaja makanan ringan dan minuman pun sudah beberapa yang naik turun bus. Tapi sepertinya bus tak juga sampai ke kota tujuan si gadis. Beberapa kali bus berhenti karena kemacetan yang parah. Raungan sepeda motor, jeritan klakson, bercampur dengan bunyi terompet yang tak bernada. Awalnya dia menikmati semua keramaian itu. Karena bukankah itu yang diharapkannya. Merayakan tahun baru di jalanan. Namun kini pikirannya kalut karena bila sampai tengah malam dia belum sampai kota tujuannya, bagaimana nanti dia akan sampai ke rumahnya yang berada di pedesaan. Orang tuanya tak tahu kalau dia pulang malam ini. Telpon selulernya sudah mati kehabisan batere dari tadi. Itu berarti dia tak bisa memberi kabar pada orang rumah untuk menunggu dan menjemputnya.

“Maaf, boleh tahu jam berapa sekarang ya?” tanya si gadis pada pria di sebelahnya yang sedang membenahi posisi duduknya agar lebih nyaman. Jam tangan di tangan si pria, membuatnya memberanikan dia bertanya pada pria tanpa suara yang telah menjadi teman perjalanannya dari Jakarta.

“11.45” jawab si pria malas. Dia tampak sedikit terkejut ditanya oleh teman duduknya. Tanpa sadar si gadis menghela napas berat mendengar jawabannya. Wajahnya terlihat was-was dan bingung.

“Kenapa? Sebentar lagi jam 12, sepertinya Anda harus merayakan tahun baru di dalam bus,” kata si pria sinis. Si gadis menolehkan kepalanya cepat ke arah si pria, mukanya tampak tak senang dengan nada sinis si pria.

“Saya tak merayakan tahun baru!” kata si gadis ketus. Mukanya dipalingkan cepat ke arah jendela. 

“Ahh..makanya sekarang Anda di sini ya, tengah malam di dalam bus yang semua penumpangnya laki-laki, di jalanan pantura yang ganas, harusnya Anda sudah tidur nyenyak di kamar yang nyaman.”

“Ihh.. apa perduli Anda? Own your business!” sembur si gadis kesal. Matanya mendelik dan menatap tajam ke si pria, yang kini telah mengangkat topi dari mukanya hingga tampak wajah yang dari tadi ditutupinya.

Emmm… ganteng juga. Batin si gadis. Tapi usil dan sok sekali, kenal juga tidak sudah sinis dan mengkritik dirinya. Kekesalan si gadis semakin berlipat-lipat. Kesal pada jalanan yang macet luar biasa. Kesal pada teman duduknya yang rese. ber-Anda-Anda lagi, sok resmi banget. Sementara si pria juga tampak kesal dan.. marah! 

Kekesalannya berawal dari Pulo Gadung, ketika dia mendapati tidak ada bus yang menuju ke Cirebon. Sudah habis begitu kata para calo. Dengan terpaksa dia harus naik bus ke Kuningan, yang sama sekali di luar rencananya. Karena itu berarti dia harus mencari kendaraan lain menuju Cirebon yang pastinya akan susah pada malam tahun baru begini. Dia tak terbiasa dengan serba yang tidak pasti. Biasanya dia sudah mempersiapkan rencana alternatif. Dia menyalahkan diri sendiri yang tak memperhitungkan kemungkinan ini.

Dan betapa dia terkejut ketika mendapati sosok gadis yang menarik perhatiannya ketika di terminal ada di dalam bus yang sama dengan dirinya. Berdiri dari tempat duduknya dan dengan penuh rasa ingin tahu mengedarkan pandangannya ke seluruh penumpang bus. Oh My God, apa dia tidak menyadari kalau bus malam sebagian besar penumpangnya adalah laki-laki. Dan para penumpang laki-laki itu seperti juga dirinya menatapnya dengan penuh antusias. Dia di seberang gadis itu, dua kursi di belakangnya, bisa menatap jelas mukanya yang tak sekedar manis, tapi benar-benar cantik. Pantas saja tadi para calo mengerubunginya dengan agresif. Apa gadis itu tak menyadari kecantikannya? Apa dia tak sadar kalau kini semua pria di bus sedang berancang-ancang untuk mengambil tempat duduk di sebelahnya yan kosong.

Sebelum dia menyadari tindakannya, dia sudah duduk di sebelah gadis itu. Entah dorongan kuat apa yang membuatnya berbuat nekad begitu. Dia seorang perencana. Dia bukan pria yang dengan spontan akan mendekati seorang gadis betapaun cantiknya gadis itu. Yang pasit begitu menatap gadis itu tampak kebingungan berdiri di dalam bus, dia teringat dengan adik perempuannya satu-satunya. Naluri melindunginya begitu kuat dan menggerakkan kaki-kakinya ke arah si gadis. Malu dan kesal dengan tindakan spontannya, yang seperti bukan dirinya, sepanjang perjalanan dia membenamkan diri di kursinya, topi menutupi seluuruh mukanya. Namun diam-diam dia memperhatikan gadis di sebelahnya. Yang tampak antuasis melihat ke jalanan, mukanya yang berseri ketika grup tarling koplo naik ke bus, suaranya yang renyah ketika membeli makanan dan minuman ringan yang dijajakan di bus.

Sejujurnya dia terkejut namum senang ketika si gadis menanyakan waktu padanya. Namun entah kenapa, kecemasan di wajah gadis itu malah menyulut kekesalannya. Salah sendiri kenapa melakukan perjalanan malam hari sendirian. Begitu rutuknya dalam hati. Dan dia tak menyangka ketika gadis itu malah balik menyemprotnya. Emm… punya nyali juga gadis cantik ini.

Duaaaarrrrr….!!! Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan bus pun oleng. Terdengar jeritan dari luar karena bus keluar dari jalur ke arah kerumunan orang di pinggir jalan. Bus berhenti mendadak. Semua penumpangnya terlonjak ke depan. Dan seperti dikomando mereka berebut ke luar bus. Rupanya salah satu ban bus meletus, yang menyebabkannya oleng ke pinggir jalan. Untungnya tak ada korban yang terlindas mobil padahal di suasana pinggir jalan sangat ramai dengan orang yang sedang menanti detik-detik pergantian tahun.

Bus berhenti tak jauh dari sebuah alun-alun kota yang sedang ada perayaan tahun baru. Dari speaker terdengar pengumuman kalo sebentar lagi kembang api akan dinyalakan sebagai tanda pergantian tahun. Beberapa penumpang bus turut dalam arus ke arah alun-alun kota untuk melihat kembang api, setelah supir bus mengumumgkan kalau mereka butuh waktu paling lama setengah jam untuk mengganti ban mobil. Tampak si gadis cantik dalam arus itu.

“Hei, mau ke mana? Jangan pergi jauh-jauh nanti ketinggalan bus,” sebuah tangan menghela tangan si gadis.

“Mau melihat kembang api. Aku tadi sudah bilang sama supir busnya kok dan katanya boleh,” jelas si gadis panjang lebar sambil melangkahkan kakinya.

“Kamu tahu nggak, kalau mau lihat kembang api dari sini pun terlihat,” kata si pria menjejeri langkah si gadis.

“Aku mau lihat dari dekat.Kenapa sih Anda ini dari tadi usil terus dan melarang-larang segala,” semprot si gadis kesal. Tadi di bus ber-Anda-Anda sekarang ber-Kamu-Kamu. Rutuknya kesal dalam hati. Langkahnya semakin cepat setengah berlari ke arah alun-alun kota. Hitungan mundur terdengar lantang dari speaker. Di belakangnya si pria mengekor dengan wajah kesal.

“…. 7, 6, 5, 4, 3, 2. 1….Happy New Year semuanyaaaa… Selamat Tahun Baru 2014.. Hip..Hip..Huraaay!!!” 

Seketika teriakan dan sorak sorai membahana bersamaan dengan suara ledakan kembang api. Langit yang gelap pun seketika benderang dengan cahaya kembang api. Tak hanya sekali. Berkali ledakan. Berkali berkas-berkas api terlontar ke atas. Langit pun semarak dengan cahaya. 

Seorang gadis tertegun dalam takjub, wajahnya mendongak ke atas langit. Dua tangannya terkatup di bawah dagu. Matanya berbinar indah. Mukanya berseri-seri. Si pria di sebelahnya mengamatinya dengan seksama. Dia tak tertarik dengan kemeriahan kembang api di atas langit, Dia lebih takjub dengan pesona gadis di sebelahnya. Gadis yang baru dikenalnya di dalam bus. Keceriaan di muka gadis itu menular ke dirinya, membuat senyum di mukanya. Ketakjuban yang memancar tulus di muka gadis itu menghangatkan hatinya. Ahh.. dia pernah melihat kembang api yang lebih megah memancar dari gedung tertinggi di dunia. Dia juga pernah melihat kembang api yang paling spektakuler dan memecahkan rekor dunia. Dia tahu kalau kembang api di alun-alun kota kecil ini belumlah seberapa. Namun gadis di sebelahnya menikmatinya dengan penuh ketakjuban seakan-akan itu adalah keajaiban dunia.

“Aku belum pernah melihat kembang api sebesar dan sebagus ini. Dari kecil aku suka kembang api tapi belum pernah melihat yang sebagus ini,” katanya melihat ke si pria sambil tersenyum bahagia. “Sayang hp-ku mati jadi tidak bisa video-in kembang api pertamaku ini,” lanjutnya dengan muka sedih. Si pria hanya tersenyum melihat berbagai emosi terpancar dari wajah gadis cantik di sampingnya yang namanya saja dia belum tahu.

Tiba-tiba sebuah emosi menghantamnya. Sebuah keinginan yang datang seketika bagai kilatan kembang api. Keinginan untuk menunjukkan kembang api yang lebih megah pada gadis itu. Hanya untuk melihat kebahagian tulus yang terpancar dari mukanya. Begitu murni. Ketulusan yang kini sepertinya telah menjauh dari hidupnya yang seperti robot dan penuh kepura-puraan.

Sesaaat dia tertegun tak percaya dengan perasaan yang tiba-tiba melandanya itu. Namun jeritan-jeritan di sekelilingnya menyedot kesadarannya. Semuanya terjadi begitu cepat. Seperti kilatan kembang api. Matanya ngeri melihat sebuah mobil bergerak tak terkendali ke arah kerumunan di dekatnya. Orang-orang berhamburan dan berteriak-teriak ketakutan. Sesosok tubuh besar menghantam gadis di sebelahnya hingga jatuh terjengkang. Reflek dia menjatuhkan diri melindungi tubuh si gadis dengan tubuhnya. Suasana seketika chaos, orang-orang berlarian di sekelilingnya, menginjak kakinya, menyenggol kepalanya keras, membentur badannya. Susah baginya untuk berdiri dan melarikan diri dari semua kekacauan itu. Karena ada sesosok tubuh yang dilindunginya. Tak mungkin dia meninggalkan gadis itu. Gadis yang telah mengacaukan emosinya dari awal melihatnya. Kesal, marah, kagum, bahagia, dan yang paling mengejutkan dia ingin menunjukan kembang api yang paling indah pada gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya. Gadis yang namanya pun bahkan dia tidak tahu.

Suara benturan dari mobil yang menghantam tembok alun-alun terdengar menggelegar. Itu suara terakhir yang didengar pria itu. Dan setelah itu semua terjadi begitu cepat. Suara sirene ambulance. Raungan sirene polisi. Tangisan orang-orang. Seorang pria berpakain putih-putih menghampirinya. Memeriksa kaki dan tangannya yang berdarah-darah karena terinjak puluhan orang. Sakit yang dirasakannya terobati ketika melihat gadis teman satu busnya tidak terluka sedikit pun. Hanya tangannya yang lecet-lecet karena jatuh terjengkang. Gadis itu menatapnya dengan berurai air mata. Sorot matanya memancarkan rasa terima kasih yang tak terucap. Tatapan mata yang begitu tulus itu menghangat hatinya.

“Selamat Tahun Baru. Jangan menangis!” katanya tersenyum mengusap air mata di pipi si gadis.

“Terima kasih… terima kasih sudah menyelamatkanku,” tersendar suara si gadis sambil memegang tangan penyelamatnya.

“Andra… namaku Andra, kita belum berkenalan,” Andra membalik tangan si gadis sehingga posisi tangan mereka bersalaman.

“Terima kasih Andra, panggil aku Mira, namaku Namira!” Namira menggemgam erat tangan Andra. Keduanya tersenyum penuh syukur. Mungkin perkenalan yang aneh. Namun yang pasti tak akan pernah terlupakan. Ketika maut sudah begitu dekat menghampiri mereka. Tuhan masih memberikan mereka kesempatan. Untuk menyambut tahun yang baru. Untuk lebih saling mengenal. Untuk mengetahui apakah getaran kasih yang terpancar dari kedua tangan yang bertaut itu hanyalah sementara atau bisa kekal sampai selamanya. Tak ada yang tahu! 

Let Your Passion Lead You

Orang bijak bilang tak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala hal yang terjadi pasti ada alasannya. Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Maka aku sangat yakin, ketika suatu malam terdampar di sebuah blog dengan nama unik “Bibi Titi Teliti” bukan suatu hal kebetulan belaka. Memang betul aku sampai ke sana karena tak sengaja sedang blog walking. Namun itu adalah cara unik dari semesta untuk menuntunku menemukan semua jawab dari segala resah dan tanyaku. Aiih..lebay banget ya bahasanya,hehehee… Tapi baiklah akan ku ceritakan bagaimana sebuah blog telah membuatku menuliskan kalimat dahsyat itu.

Usiaku tepat 34 tahun pada 27 Desember kemarin. Sudah terlalu tua, untuk seseorang yang masih mencari apa sih yang aku inginkan? Sangat tua malah. Harusnya bukan masanya lagi di usiaku itu masih galau dan mencari-cari jati diri. Tapi itulah aku. Begitu banyak mauku. Hingga terkadang aku sendiri tak tahu apa sih yang aku inginkan sebenarnya. Ketika melihat kawan yang piawai memotret makanan, serta merta aku tertarik jadi food photographer. Ketika melihat teman yang pintar baking, mendadak aku rajin koleksi buku-buku masakan. Pun ketika teman ada yang tergila-gila pada scrapbooking, aku pun ikutan menjadi kolektor berbagai bahan scrapbook. Berganti jadi hobi knitting, menjahit, dan sebagainya. Tapi sayangnya hanya sampai ke tahap pengumpul bahan-bahannya, tak bergerak menjadi ahli atau minimal bisa seperti teman-teman yang ku kagumi itu.

Begitu juga dalam hal mencari isi dompet. Sebagai ibu pekerja yang kemudian  beralih jadi ibu rumah tangga tok karena ikut suami yang pindah kerja ke Kuwait, aku pun terobsesi untuk punya penghasilan. Kepalaku penuh sekali dengan ide-ide bisnis. Namun semuanya hanya berkelebatan di kepala tak pernah jadi nyata. Ada sih beberapa dicoba seperti jualan sprei, pernik-pernik khas Indonesia, mukena, sampai ke baju muslim. Bahkan bisnis MLM pun aku jabani, yang akhirnya kandas juga. Ya, aku adalah tipe orang yang serba ingin tahu namun sayangnya hanya bersemangat di awal, selalu tak mampu mencapai garis finishL

Dan akibatnya, aku selalu resah. Gelisah. Didera perasaan tidak puas. Merasa tidak ada hal berarti yang bisa aku banggakan. Tak ada pencapaian yang ku peroleh. Padahal aku yakin aku bisa seperti mereka yang sukses. Tapi kenapa aku seperti berjalan di tempat, bahkan mungkin tak bergerak sama sekali. Sementara teman-teman yang lain sudah berlari jauh. Aku tertinggal jauh di belakang mereka. Ingin mengejar namun kaki-kakiku seperti dipaku. Mungkin aku sudah terjebak dalam zona nyamanku. Ketika Allah memberiku suami yang begitu memanjakanku. Tinggal sebut apa yang ku inginkan, maka laki-laki tercinta itu akan memenuhinya. Sampai aku terkadang takut untuk meminta. Karena tanpa aku bicara pun, dia seperti sudah tahu apa yang ku inginkan. Dimanjakannya aku dengan gadget-gadget terbaru. Ketika temanku bercurhat ria tentang betapa mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan gadget terbaru, maka aku begitu mudahnya mendapatkannya. Rabbiii… betapa aku tidak bersyukur sepertinya. Tapi entahlah, aku merindukan moment penuh perjuangan itu. Ketika didera rasa lelah luar biasa untuk mendapatkan sesuatu. Ketika tangis, prustasi, putus asa akhirnya berganti menjadi haru, bangga, dan bahagia karena apa yang diperjuangkan berhasil. Ahh…rindu sekali saat-saat seperti.

Maka jangan heran kawan, kalau tontonan dan cerita favoritku adalah semua hal yang berbau kompetisi. Segala macam lomba idol aku suka. Bahkan sampai ke acara perjodohan yang itu pun aku tonton,hehehe… Kompetisi juga kan namanya. Bagaimana para perempuan itu bersaing “menjual” dirinya agar bisa terpilih oleh sang arjunaJ Ya aku seperti kecanduan menyaksikan mereka yang berjuang menjadi yang terbaik. Mengerahkan segenap kemampuannya. Berbuat yang terbaik dan semaksimal mungkin.

So, jadi terjawab kan kenapa aku jatuh cinta dengan blog-nya Erry, si Bibi Titi Teliti ini (nggak manggil mbak ah, kan kita sama-sama a thirty something women, hihihi..). Semua postingannya tentang perjuangannya untuk menang Touch Korea Tour dilalap habis selama berjam-jam malam itu (jadi kalo dirimu menemukan traffic dari Asimah Kuwait, itu adalah diriku ya sayJ). Ikut deg-degan ketika tahap penjurian blog – ngebayangin Erry mabok posting tiap hari dan begadang BG- dan terkekeh ketika membaca jawaban-jawaban Erry pada saat interview. Ah so ErryJ Tapi juga “gue bangeett”, seandainya aku di posisi Erry, mungkin aku juga aku akan seperti dirinya.

Yang membuat terkagum-kagum adalah ketika Erry berjuang agar video tournya di tim Fun Tour menang di vote online, sehingga doi bisa balik lagi ke Korea. Sebuah strategi pemenangan yang oke banget. Bagaimana Erry mendekati fan base-nya 2PM untuk menggalang dukungan. Bagaimana doi koar-koar di socmed. Terbayang deh perjuangannya. Rasanya seperti membaca novel petualangan,hehehee… Tak cukup di situ, aku pun meluncur melihat video-video Erry dan kawan-kawannya dari berbagai negara yang tergabung di Fun Tour selama berpetualang di Korea. Rasanya seperti melihat novel petualangan yang difilm-kan,hihihiii… Puas banget melihat “penampakan” Erry, bener banget deh julukan teman-temannya, Funky Erry. Dan tak bisa ditahan aku pun jatuh cinta sama orangnya, selainnya blognya. Here come, you are my Idol now..Erry!!!

Tapi, gongnya bukan itu kawan! Kalau terkesan pada jiwa kompetitif Erry, sudah banyak aku melihat ajang-ajang idol lain atau membaca cerita-cerita semacam itu. Tapi sejujurnya tak membuatku tergerak untuk berubah. Tidak seperti blog bibi titi teliti ini (ah kau boleh berbangga ErryJ). Perjuangan Erry seperti memberikan jawaban dari sebuah pertanyaan yang belakangan ini sering menggangguku. Pertanyaan tentang PASSION. Sering aku mendengar bahwa bekerjalah sesuai dengan passion-mu, maka kesuksesan akan menghampirimu. Begitu kata para motivator itu.

Makhluk apakah sih si Passion ini? Bila yang mereka katakan passion itu adalah sesuatu yang membuat kita enjoy atau betah berjam-jam mengerjakannnya, maka passion aku adalah membaca novel, nonton drama korea atau film romance. Untuk sebuah novel yang menarik hatiku, setebal apapun bisa aku lahap dalam satu kali baca, tak peduli bila aku harus membacanya dari siang sampai subuh. Untuk sebuah drama korea yang memikat hatiku, aku bisa menamatkan satu serinya  dalam sekali nonton, walau untuk itu harus begadang semalam suntuk dalam beberapa hari. Jadi teringat pengalaman pertama nonton drama korea bertahun lalu, waktu awal tahun baru, bersama teman satu kos, nonton All About Eve dari siang hari sampai subuh, hanya disela makan itu pun sambil nontonJ Esok paginya muntah-muntah karen tak tahan begadang, akhirnya bolos kerja dengan alasan sakit, hahaha…

Lantas bagaimana ceritanya bila passion-ku seperti itu bisa mendatangkan sebuah pencapaian? Sebuah kesuksesan? Karena sebagian teman yang tahu hobi nonton koreaku seringnya mencibir, “ihh tak ada guna itu, buang-buang waktu saja!” Bahkan kadang suamiku juga protes bila aku sudah terlihat lupa waktu nonton drama korea atau baca novel. Akhirnya aku pun memutuskan sudahlah lupakan saja passion-ku itu tak ada gunanya. Daaan…sangaat itulah aku terdampar di blog “Bibi Titi Teliti”. Bahwa ternyata “kegilaan” Erry pada drama Korea telah mampu membawanya tour ke Korea dengan gratis, sampai dua kali loh! Bahwa seorang perempuan thirty something dengan dua anak kecil, yang hobi nonton drama Korea, sampai begadang-begadang, mampu menjadi penulis blog yang produktif, dan pekerjaan utamanya sebagai ibu rumah tangga tetap ke-handle. Mampu menggerakkan puluhan ribu orang yang tak dikenalnya untuk mewujudkan impiannya. Bahkan mungkin puluhan ribu lainnya, ratusan ribu lainnya ikut mendoakan dan mengikuti mimpi-mimpinya. Dan mampu menggerakkan seorang perempuan thirty something lainnya untuk berubah, bersegera menggapai mimpinya juga.

Pencapaian Erry mengingatkan aku pada kisah Mira Lesmana yang dari remaja hobi nonton film, dan akhirnya dari hobinya itu dia sekarang menjadi salah satu produser film terkemuka di Indonesia yang menghasilkan banyak film bermutu. Atau kisah seorang  pemuda yang kecanduan main game online, tapi mengubah candunya itu menjadi produktif dan sekarang dia telah menciptakan banyak game online kreatif. Dan banyak kisah-kisah serupa lainnya, yang membuktikan bahwa sebuah passion bisa menjadi ‘sesuatu’. Benar kata-kata para motivator, “let your passion lead you!”

Terjawab sudah kenapa selama ini aku sering berganti-ganti hobi. Karena aku tak enjoy mengerjakannya. Karena itu bukan bidangku. Huh..ternyata selama ini aku sudah banyak membuang waktu mencoba hal-hal baru lainnya yang sebenarnya aku tak bisa total mengerjakannya, tak happy menjalaninya, dan tak yakin bisa melakukannya. Dan selama itu pula aku sudah menyia-nyiakan passion-ku yang sebenarnya, yang akhirnya menenggelamkan mimpi terbesarku, menjadi penulis novel! Ya keinginan terbesarku ingin membuat novel, seperti novel-novel yang selama ini aku baca, seperti drama-drama korea yang selama ini aku tonton. Dan orang-orang bilang tulisanku cukup bagus, lumayan menyentuh dan menghibur mereka para pembacaJ Hanya saja aku terlalu sibuk mencari-cari yang lain, sehingga tak mengasah passion-ku itu.

Cerita Erry dengan tour korea-nya menyadarkan aku bahwa passion ya hanya tinggal passion, bahwa hobi ya hanya sekedar hobi, kalau kita tidak memperjuangkannya untuk menjadi “sesuatu” yang berarti. Dengan penuh semangat aku pun bercerita pada suamiku tentang perjuangan Erry pergi ke Korea dari passion-nya sebagai drama queen. Bahwa aku pun ingin seperti dia, memperjuangkan passion-ku menjadi sebuah karya. Dan hasilnya, suamiku menghadiahkan aku sebuah meja kerja mungil di sudut kamar kami agar aku bisa menulis dengan tenang dan nyamanJ

Dan akhirnya setelah sekian lama ‘bulukan’ dan penuh debu, aku melongok lagi ‘rumah mayaku’. Bertekad untuk mengisinya sebagai ajang latihan bagiku mewujudkan mimpiku menulis novel. Akhirnya tulisan ini adalah postingan pertamaku di awal tahun baru ini. Yang aku tulis tengah malam setelah mempersiapkan keperluan suami tercintaku yang bertugas ke Perth sampai februari nantiL (belum tidur sama sekali nih). Semoga semangat ini tak padam, terus hidup dari awal sampai garis finish nanti. Aamiin. Terima kasih Erry buat inspirasinya, dan buat Korean Giveaway-nya sehingga aku tergerak untuk membuat tulisan ini. Salam kenal dari Kuwait:)