Menebar Kebaikan

Perkara hati dan rasa itu adalah sebuah misteri. Betul adanya Allah yang membolak-balik hati kita. Tapi pasti ada pemicu yang menggerakkan dan membuka pintu hati kita agar lebih berempati. 
Berita tentang dampak ekonomi dan sosial wabah Corana di Indonesia memang memprihatinkan. Tenaga medis yang kekurangan APD, para pekerja yang harus dirumahkan tanpa gaji alias PHK, para pekerja harian yang berebut bantuan sembako dan makanan. Cukup membuat saya yang tinggal jauh di luar Indonesia bersedih. Donasi pun diberikan sekadar untuk menutupi nurani dari rasa bersalah, masa sih tidak ikutan nyumbang. Mungkin karena adik-adik saya yang berprofesi sebagai PNS tidak terkena dampak yang parah. Keluarga mereka baik-baik saja karena masih menerima gaji tiap bulan. Saya pun merasa “jauh” dengan mereka yang terlilit kesulitan ekonomi selama wabah Covid-19 ini.Hingga suatu pagi, saya membuka aplikasi Whastapp (WA) dan menjawab pertanyaan teman dekat dengan nada bercanda. Balasan dari teman itu membuat saya terhenyak. Tangan saya gemetaran, dada saya sesak. Berulang kali saya membaca kalimat yang dia tulis. Memastikan bahwa dia tidak salah tulis dan saya tidak salah baca. Namun kalimat itu tidak berubah, mata saya pun mengembun.
“Maaf aku lagi sensi, suamiku baru kena PHK dan aku harus cari duit.”
Kalimat itu ibarat bom yang meledakkan kerasnya hati saya. Ternyata mereka yang kesulitan itu nyata di depan mata saya, bukan lagi sekadar berita di dunia maya. Teman dekat saya dalam kesulitan walau dia bilang dia masih bisa bertahan dan belum perlu bantuan. Namun saat itu juga saya tersadar, keadaan tidak baik-baik saja! Saya terlalu buta untuk melihat sekeliling saya. Saya tidak peka dengan kondisi teman-teman saya.
Saat itu juga, saya meluangkan waktu beberapa jam untuk membaca status teman-teman saya di sosial media. Membuka hati untuk melihat pesan tersirat dari status-status yang mereka buat. Untuk melihat apakah mereka perlu bantuan atau tidak.

  • Sebuah status WA dari tetangga di kampung saya hanya berupa emoji wajah menangis. Saya pun bertanya ada apakah? Ceritanya pun mengalir tentang persaingan jualan takjil yang semakin ketat. Lalu ide itu terbersit untuk membeli takjilnya beberapa bungkus dan minta dibagikan ke tetangga. Responnya sungguh tidak terduga, dia sangat berterima kasih karena saya yang jauh mau membeli jualannya. Terima kasih untuk teknologi komunikasi yang semakin canggih hingga bisa mendekatkan walaupun terpisah jarak ribuan kilometer.

Lalu saya pun melakukan hal yang sama pada teman-teman yang berbisnis makanan. Ketika restoran dan cafe-Cafe ditutup selama wabah ini, otomatis pemasukan mereka akan berkurang. Maka membeli nasi box dari mereka untuk dibagikan ke pekerja jalanan, anak-anak yatim ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga puluh terlampaui. Niat bersedekah sambil membantu usaha teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *