Merayakan Idul Adha di Doha bersama Sinbad

Idul Adha di Qatar (dan negara-negara lainnya di Timur Tengah) artinya libur panjang. Yihaaa! *doradancing*. Di Qatar sendiri liburnya 5 hari. Daripada di rumah saja bengong cantik dan anak-anak main game melulu, Akang suami lalu memberikan daftar acara-acara perayaan Idul Adha di Qatar yang bisa kita tonton. Dan mengajak untuk melihatnya! Pakai tanda seru soalnya ini penting sekali karena tumben-tumbenan si akang berinisiatif ngajak jalan, biasanya istrinya yang fakir jalan ini yang selalu bujuk-bujuk sampai setengah maksa buat keluar rumah, hihihi….

Festival Idul Adha di Katara 

Katara adalah daftar pertama di liburan Idul Adha kami. Katara ini adalah kawasan yang menjadi pusat seni dan kebudayaan di Qatar, tepatnya di daerah West Bay-Doha. Tempatnya keren sekali ada amphitheater dan masjid yang megah, galeri-galeri seni yang hampir tiap hari selalu penuh dengan kegiatan, dan terletak di pinggir pantai dengan kafe-kafe yang menawarkan aneka makanan khas. Sound romantic, ya? ?Kapan-kapan saya akan tulis tentang Katara ini ya (entah kapannya itu-nunggu wangsit dulu-lalu bengong ?)

Festival Idul Adha di Katara ini akan berlangsung empat hari (12-15 September) berupa pertunjukan teater Sinbad dan kembang api.

Begitu mendengar kata teater, bayangan saya pasti bayar nih, pasti mahal deh, aduh sayang, tapi pengen nonton, gimana dong? Dan langsung bersorak ketika akang suami bilang kalau acaranya gratis. Tapi lalu pesimis, emmm kalau gratis kayaknya acaranya biasa aja, gak seru. Rasa pesimis ini saya simpan di hati, kalau dibilangin ke akang suami, nanti dia jadi punya alasan buat batalin pergi (kan doi orang rumahan banget), hihihi….

Ada 3 kali pertunjukan tiap malamnya, pukul 7, 8.15, dan 9.30, yang satu kali pertunjukan lamanya 45 menit. Lalu ditutup dengan pertunjukan kembang api.

Kami memutuskan untuk melihat pertunjukan yang terakhir biar sekalian melihat kembang api. Agak khawatir juga sih anak-anak akan ngantuk dan tidak semangat menonton. Apalagi kami juga jarang melakukan kegiatan di luar sampai malam.

Dan benar saja, sehabis makan malam, aroma kasur dan bantal kuat sekali melanda keluarga Mulyo, walaupun masing-masing sudah rapi dengan pakaian pergi. Si ayah terusan-terusan melihat komputernya, mantengin google maps kayaknya, soalnya komentarnya, “waduh macet banget jalan ke Katara, antre masuk ke gerbangnya panjang nih.” Nada-nadanya sih minta persetujuan, ya udah kita gak jadi pergi ya. Si emak diam saja, wong pengen pergi. Untung didukung sama anak gadisnya yang terus-terusan ngomong kapan perginya, ayo cepetan pergi! Kalau dua anak cowok sih santai banget, kayaknya pergi atau nggak pergi gak masalah? Walaupun nanya terus, kita mau kemana sih? Katara itu apa? Mau ngapain ke sana? Dijelasin berkali-kali sampai bosan.

Suasana di mobil selama perjalanan pun tidak mendukung; anak gadis langsung tidur, begitu juga Abang F2 tidur setelah mengeluh pusing, kakak F1 menggurendel setengah mengancam yang intinya pertunjukannya harus benar-benar bagus bukan hanya bagus saja (istilah dia extraordinary) karena dia sudah ninggalin kenyamanan rumah. Sigh! Akang suami juga terus bergumam tentang parkiran yang penuh. Si emak sibuk berdoa; sabarkan, tabahkan, tetap semangat dan maju pantang mundur☺️.

Akhirnya kami masuk ke kawasan pantai dan parkir di depan hotel St. Regis (yang terkenal itu). Hanya saja kami harus jalan cukup jauh ke lokasi pertunjukan. Bayangkan kami parkir di ujung pantai (sektor 1) sementara lokasi pertunjukan di tengah-tengah (sektor 16). Untung saja anak-anak yang tidur gak susah dibangunkan dan mau jalan. Hanya saja akang suami kebelet pipis. Si emak juga sih, hihihi…. Jadi kami jalan sekitar 10 menit, mampir kios kecil pinggi pantai untuk membeli air mineral (lupa bawa minum) dan mampir ke Gelateria (kafe ice cream), tepatnya sih ke belakang Gelateria buat pipis ? Di sana ada toilet pria dan wanita yang bersih. Eh, anak-anak juga sempat beli ice cream. Lumayan menghibur mereka yang kegerahan dan kelelahan jalan.

Antrean Perempuan dan Eidyah

Ternyata tempat pertunjukan itu berada di depan amphitheater berupa panggung terbuka. Ketika kami sampai di sana, pertunjukan kedua sedang berlangsung dan kami melihat antrean yang cukup panjang ke arena pertunjukan. Sempat heran juga karena itu pertunjukan gratis kenapa harus ada antrean masuk. Kami pun langsung masuk ke dalam barisan. Wajah Akang suami sudah getir saja, kebayang harus berdiri lama di udara yang bersuhu 30an derajat. Hangat-hangat kuku sih tapi cukup bikin keringat bercucuran. Ditambah lagi Abang F2 ngeluh lapar, dia terus-terusan bilang tentang bau makanan yang enak dari deretan kafe-kafe.

Di tengah-tengah asyik eh kegerahan mengantre, tiba-tiba seorang pria berdishdasa (pakaian laki-laki Arab) menghampiri kami dan berbicara dengan Akang suami. Katanya saya tidak boleh antre di barisan itu. Dia menunjuk dua barisan di samping kanan kami, yang ternyata antrean perempuan. Jadi barisan perempuan dan laki-laki berbeda. Akang suami menerangkan kalau kami keluarga, intinya keberatan kalau harus dipisah. Si petugas terdiam dan menghela napas, kayaknya artinya yaelah bro terpisah sebentar aja, gak apa-apa kok. Saya memahami kebingungan suami, pikiran kami sama, nanti di dalam pasti duduknya akan terpisah juga.

“Gimana, kita pulang saja?”

“Hah? Sayang dong udah jauh-jauh ke sini. Oke… Oke Bunda antri di sana,” kata saya dengan nada gagah. Tapi tetep berdiri di barisan, apalagi ketika ada perempuan lain yang ikut antre di barisan yang sama, serasa ada teman. Sok berani padahal ketar-ketir juga harus terpisah, hehehe….

Antrean pelan-pelan maju dan tiba-tiba sedikit ribut, ketika beberapa petugas menyuruh laki-laki dan perempuan di barisannya masing-masing, tidak boleh campur. Saya pun buru-buru masuk ke barisan perempuan. Ternyata antrean perempuan lebih cepat masuknya, sepertinya memang diprioritaskan.

pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis
pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis

Begitu sampai depan, barulah saya melihat tumpukan hadiah yang dibagi-bagikan ke anak-anak. Tangan anak-anak distempel lalu mereka diberi bingkisan yang besarnya beda-beda. Saya yang gendong baby, dapat satu bungkusan panjang (tiga anak lainnya ikut ayahnya). Begitu masuk ke lokasi pertunjukan, bengonglah si emak cantik dan baik hati ini. Ternyata begitu di dalam perempuan dan laki-laki kembali berbaur. Arena di depan panggung penuh dengan kursi-kursi. Dan orang lalu-lalang di kiri-kanan gerbang masuk. Jadi tanpa antre pun, sebenarnya kita bisa masuk bebas ke lokasi pertunjukan. Jadi what for atuh antre panjang-panjang? Jawabannya baru ketahuan belakangan, kalau antrean itu buat mengambil  “Eidyah”. Bingkisan hari raya buat anak-anak yang diberikan secara cuma-cuma. So, kalau gak mau bingkisan itu, kita bisa langsung masuk ke arena pertunjukan secara bebas. Teteh F3 dapat bingkisan skipping rope yang dia inginkan.

Teteh F3 dan Eidyahnya
Teteh F3 dan Eidyahnya

 

Sambil menunggu Akang suami dan anak-anak masuk, saya pun antre membeli makanan di gerai-gerai yang berjejer sepanjang pantai. Ingat sama Abang F2 yang ngeluh lapar (makan malamnya memang cuma sedikit). Antreannya mengular bo! Setelah cari-cari yang barisannya pendek, dapatlah chips and fish, setelah bayar pastinya?. Sempat terjadi drama panik, ketika mencari-cari henpon di tas tidak ketemu. Saat itu sudah pasrah saja, kebayang ‘murkanya’ Akang suami karena sudah teledor. Lalu tersadar kalau yang tadi dipegang di tangan kiri itu ya si henpon. Tepok jidat! Dasar emak pelupa.

 

 

Sinbad yang Spektakuler

Saya tak punya bayangan sama sekali akan seperti apa pertunjukannya. Surprise juga ketika sadar bahwa itu pertunjukan sirkus yang dikemas dalam sebuah cerita utuh (teatrikal). Sejak dulu memimpikan melihat sirkus secara langsung. Pertunjukan dibuka dengan narasi berbahasa Arab tentang Sinbad dari dongeng 1001 malam yang mendapat peta harta karun untuk mencari pearl (langsung teringat Qatar yang salah satu simbolnya adalah pearl). Bagi yang tidak mengerti bahasa Arab (seperti saya) tidak usah khawatir, di sebelah kanan panggung ada layar lebar yang menerjemahkan narasi cerita dalam bahasa Inggris.

beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor
beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor

Atraksi yang menjadi pembuka adalah sand art. Mengagumkan sekali melihat dengan media pasir bisa tercipta gambar-gambar yang bercerita. Sand art ini menjadi pembuka petualangan Sinbad yang penuh misteri. Setelah itu diceritakan Sinbad sampai di pulau yang penuh burung-burung ajaib. Lalu muncullah pesulap yang mendemonstrasikan triknya dengan burung-burung merpati.

Setelah itu muncul 2 penari yang menari-nari di ketinggian dengan bantuan tali-tali (aerial). Keren banget, paling banyak mendapat tepuk tangan penonton. Lalu Sinbad dan salah satu temannya berakrobatik. Kemudian muncul tokoh berkostum putih menutupi seluruh badan membawa ‘pearl‘ yang dicari Sinbad. Sosok putih ini ditemani beberapa penari yang memegang obor api dan mereka melakukan tarian api yang ngeri-ngeri sedap. Ada juga tarian LED yang kece. Jadi diceritakan, setelah melalui berbagai petualangan, akhirnya Sinbad sampai ke pulau Qatar dan menemukan pearl yang dicarinya. Sayangnya mutiara itu kemudian dicuri oleh kawanan bandit. Lalu terjadilah perkelahian yang ‘lucu’ di antara mereka. Penonton anak-anak riuh bersorak. Kata Abang F2, dia juga paling suka bagian yang ini. At the end Sinbad dapat kembali mutiaranya. Lalu mereka pun menari Happy Time-nya Pharrel Williams.

Secara keseluruhan, pertunjukan Sinbad ini keren banget, tata lampu dan suaranya bagus sekali. Saya melihat dapat ulasan yang bagus di koran-koran hari ini.

Kembang Api yang Megah
Saya pun mendesah puas dan berbenah diri untuk pulang ketika tiba-tiba suasana berubah gempita. Rupanya pertunjukan kembang api sudah dimulai. Dentuman suara kembang api dan semburan cahayanya yang menari-nari di langit sontak membuat orang-orang mengangkat henpon dan kameranya mengabadikan momen itu. Saya pun tak ketinggalan merekamnya dengan henpon.

aslinya lebih megah dan spektakuler
aslinya lebih megah dan spektakuler

Namun kemudian segera mematikan henpon dan memilih untuk menikmati pertunjukan kembang api dengan mata sendiri bukan melalui kamera henpon. Dan ternyata itu jauh lebih menggetarkan. Tempat duduk kami sangat strategis, kembang api itu seolah-olah muncul di hadapan kami dan menari-nari dengan indahnya. Apalagi musik pengiringnya sangat mendukung sekali. Tak henti saya bertakbir padaNya yang telah memberikan akal pada manusia sehingga bisa menciptakan pertunjukan seindah itu. Tak terasa kedua mata saya mengembun. Emang sentimental emak satu ini. Selama 10 menit kami dimanjakan dengan kemegahan atraksi kembang api walau agak terganggu dengan aksi wefie sebuah keluarga kecil persis di depan saya ?

Alhamdulilah, malam Ied yang sangat mengesankan walau pulangnya terjebak macet, hampir setengah jam baru bisa keluar dari kawasan Katara. Lumayan bisa bocan di mobil sementara pak supir berjibaku cari jalan. Maaf ya sayang, salahkan mata ini yang tak bisa diajak kompromi.

Bila foto tak cukup mewakili kemegahan atraksi kembang api itu, mungkin rekaman saya ini bisa:

 

 

Berikut beberapa tips biar menontonnya nyaman dan aman.

1. Bila tidak mau kelamaan di Katara disaat udara masih panas, berangkat sehabis maghrib. Makan malam dulu yang kenyang (karena makan di kafe Katara mahal bo!)

2. Bawa minuman yang banyak dan makanan ringan. Udara yang panas bikin cepat haus. Dan bau makanan yang menguar dari kafe-kafe bikin cacing-cacing ngambek. Jadi makanan ringan itu buat mendamaikan para cacing. Selain itu antrean pembeli di kios makanan cukup panjang.

3. Pakai pakaian yang menyerap keringat dan nyaman. Begitu juga dengan sepatu atau sandalnya karena kalau dapat parkiran jauh dari lokasi acara, harus jalan kaki.

4. Bila tidak berminat dengan Eidyah tidak perlu ikutan antre, langsung masuk saja ke lokasi pertunjukan. Bila mau ikutan antre, suruh emaknya sama anak-anaknya yang antre karena barisan perempuan lebih cepat masuknya. Bapaknya bertugas cari tempat duduk yang strategis.

5. Cari kursi yang depan panggung persis, biar bisa jelas melihat pertunjukannya. Ada layar di belakang panggung yang menerjemahkan narasi cerita ke dalam bahasa Inggris.

6. Lebih baik nonton yang pertunjukan terakhir biar langsung melihat kembang api. Agar anak-anak juga tidak terlalu lelah menunggu.

Happy Eid Al-Adha 1437H

*picture Eidyah and Sinbad show taken from IG katara @kataraqatar

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

6 thoughts on “Merayakan Idul Adha di Doha bersama Sinbad”

  1. Ihhh seruuu yaaa.. aku paling suka nih pertunjukan begini mbak.. apalagi kalo ada tema ceritanya kyk 1001 mlm..Aku punya bnyk teman yg kerja di qatar gas, dan mereka udh sampe bosan nawarin kpn dtg k qatar :D. Iya nih… Udh kepengin sih, tp slalu aja batal krn planni g traveling yg lain..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *