Sepulang Menonton Pawai

Hari ini kemeriahan kemerdekaan Kuwait masih berlangsung. Setelah pesta kembang api yang spektakuler pada Jumat malam kemarin, hari ini parade di sepanjang gulf road. Entah kenapa setiap mendengar kata parade, pawai, atau karnaval, ingatan saya selalu melayang ke masa-masa kecil dulu. Saat-saat ketika menunggu pawai agustusan di kota tercinta.

Pawainya sih biasa saja, dari tahun ke tahun selalu sama, rasanya tak ada yang luarrr biasaa. Barisan orang dengan baju putih-putih berkopiah hitam dan berdasi merah putih. Barisan para PNS (pegawai negeri sipil), para pemuda yang membawa bendera merah putih, ibu bapak tani membawa ‘boboko’ dan ketel, dan para sepuh yang bersepeda kumbang. Dibelakangnya biasanya ada iring-iringan mobil hias. Ada yang dihias menjadi mobil tank, kapal terbang, atau ditempeli berbagai macam hasil panen seperti padi, jagung, dan aneka buah-buahan yang jadi unggulan desa masing-masing.

Dan bila iringan pawai itu sampai di podium kehormatan yang ditempati bupati dan jajarannya, mereka akan berhenti sebentar, kemudian menunjukkan atraksinya masing-masing. Ada yang main pencak silat, akrobatik, main musik, nari, dan lainnya. Seperti itulah kemeriahan pawai yang lekat di benak saya. Hingga sekarang telah mempunyai anak dua, tetap selalu antusias untuk menontonnya. Bela-belain nunggu dari pagi dan panas-panasan dipanggang terik matahari.

Saat pulang pasti misuh-misuh.. uh pawainya gitu-gitu aja gak ada yang aneh, nyesel deh nonton, dapat capainya aja, tahun depan gak mau nonton lagi. Tapi janji itu ya tinggal janji doang, tahun depannya tetap nonton lagi,hehehe…. Capainya dan kesalnya itu hanya saat nontonnya saja, esok harinya pasti sudah lupa. Tapi kesan dan kepuasan menontonnya itu terus melekat di ingatan, menjadi sebuah kenangan indah dari masa kanak-kanak. Betul begitu bukan kawan?

Bahkan, ketika itu, seneng banget nonton acara parade bunga Pasadena yang disiarin TVRI. Jadi acara favorit deh. Selain nonton sirkus tentunya:) Betah berjam-jam nongkrong di depan tv, sambil mengkhayal kapan ya bisa nonton langsung tak hanya sekedar nonton di televisi. Sayang sampai sekarang belum kesampaian dua cita-cita itu, nonton parade bunga dan nonton sirkus, sirkus yang di dalam tenda besar itu lhoo:), semoga suatu hari nanti ya. amiin…

Selain pawai, pasar malam juga menjadi kenangan tersendiri dari masa kecil dulu . Hanya saja pasar malam ini tak selalu mampir di kampung saya, bahkan setahun sekali pun tidak. Hingga kedatangannya selalu ditunggu-tunggu. Naik ontang-anting, kincir raksasa, ‘ombak banyu’, dan permainan lainnya. Aneka jajanan tumpah ruah. Lalu lalang orang yang tertawa dan berteriak histeris. Sebut saya gila, tapi entahlah sampai usia tua begini, tiap melihat pasar malam, rasanya seperti melihat sesuatu yang waah. Membangkitkan semua jiwa kanak-kanak, beban hidup rasanya seperti menguap begitu saja, hehehe…

Terkadang, saya juga merindukan suasana nonton layar tancap. Kemeriahannya sama dengan pasar malam. Hanya saja tak ada aneka permainan. Yang ada layar besar di tengah lapangan, biasanya menayangkan film komedi warkop atau film silat. Ramai-ramai nonton berkerudung kain sarung, duduk di tikar, atau duduk begitu saja di atas rumput. Sambil menikmati gurihnya serabi, kacang rebus, dan hangatnya bajigur. Ahh… sayang masa itu tak mungkin terulang, mana ada sekarang layar tancap. Sudah berganti organ tunggal atau dangdutan. Lagipula stasiun televisi pun sudah banyak menayangkan film, cd bajakan juga banyakJ, atau yang keren dikit nonton di bioskop.

Oya, kemeriahan bulan puasa Ramadhan juga menjadi saat-saat yang ditunggu. Malam-malam setelah shalat tarawih dilanjut dengan tadarus yang riuh rendah, lantas berpindah ke lapangan, menyalakan kembang api dan ‘percon’. Dan bila sahur tiba, suasan dini hari yang sepi pun pecah oleh aneka bunyi kentongan dan teriakan sahur bersahutan. Sayang sekarang sudah diganti oleh organ tunggal yang nyanyi dangdutanL Bila malam Ied tiba, biasanya ada pawai obor yang meriah dengan takbir yang tak henti. Rindu..selalu rindu suasana Ramadhan itu walau terkadang suka lelah dengan shalat tarawihnya yang lama dan banyak, hahahaha….

Itulah kenangan-kenangan kecil yang terus melekat di ingatan dan sepertinya ingin terus diulang. Lantas tak ada salahnya bukan, bila kemudian ingin membagi kenangan-kenangan itu dengan anak-anak tercinta. Ingin memperlihatkan pada mereka kemeriahan suasana pawai, spektakulernya kembang api, atau meriahnya suasana Ramadhan. Ingin mereka juga punya memori indah yang tak lekang dari ingatan. Tak sekedar hanya menonton kartun atau main game dan komputer. Ingin mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lebih indah dari sekedar terpaku di depan komputer atau televisi. Bahwa berkumpul dengan orang banyak di alam terbuka, lebih indah dan menyenangkan daripada bergelut sendirian dengan benda matiJ

Memang benar akan terasa melelahkan. Capai harus terjebak kemacetan karena orang ramai berkumpul di suatu tempat. Bahkan tak jarang harus jalan kaki ke tempat acara, karena kendaraan tak boleh lewat. Kesal karena harus berdesak-desakan dengan orang banyak. Belum lagi rasa was-was takut terjadi rusuh atau keributan. Tapi percaya deh, capai dan kesalnya hanya saat itu saja. Semua rasa lelah itu akan terbayar tuntas dengan kegembiraan yang spontanitas. Akan menguap dengan melihat ketakjuban di wajah anak-anak, yang melihat sesuatu yang lain dari biasanya mereka lihat. Yakinlah juga, mereka pasti akan mengingatnya terus, menyimpannya rapi di ingatan, menjadi suatu kenangan yang tak terlupakan bagi mereka.

Jadi jangan heran – ketika dalam menyambut kemerdekan 50 tahun ini, Kuwait mengadakan pesta kembang api dan pawai – saya paling semangat mengajak anak-anak buat menontonnya. Tugas terberat sih sebenarnya membujuk bapaknya anak-anak untuk mau mengantar nonton, hahaha… Sayangnya semua momen itu terlewat, bahkan ketika hari ini sudah semangat 98 buat menonton pawai, sudah dapat spot yang strategis, eh pawainya terlewat karena keasyikan makan siang. Hanya dapat iring-iringan mobil biasa dengan anak-anak yang menyemprotkan water gun… dan helikopter yang melintas di atas kepala. Itu saja! Aaragghhhh….

Kesimpulannya, tulisan ini adalah terapi dari kekecewaan karena tak jadi nonton pawai kemerdekaan Kuwait. Kecewaaa sekali, karena sepanjang jalan, Faiz terus saja bertanya, pawai itu apa bunda? Jadi kita mau lihat apa tadi? Duh.. makin sedih deh. Pedih, perih, kesal, sakit hati, pokoknya pengen nangis meraung-raung dehJ Buat kawan-kawan yang tadi nonton pawai, dan yang sebelumnya udah nonton kembang api, selamat ya Anda beruntung, hohoho…

Sabar ya nak, nanti liburan ke Indonesia, kita puas-puasin nonton pawai agustusan, nonton kembang api, ikut pawai obor, berburu belalang di sawah, mandi di sungai, nangkap ikan di kolam… lo..lo..dari pawai kok jadi ke sawah, kumaha ieu teh? Pokoknya judulnya kita back to nature lah, no game, no tv, no komputer, ya..ya..mau kan?! Tapi kalo bundanya sih boleh main komputer buat update status di fesbuk sama twiter, jangan protes yaaa kan bunda udah puas main itu waktu kecil, ocreeee, hahahhaaa….. Ahhh.. sudahlah saya sudahi saja tulisan ini sebelum benar-benar jadi streessss.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *