Tag Archives: ayam bakar

Kisah Sukses Ayam Bakar Mas Mono: Gerobak Dagangan Ambruk Ketika Jualan

mas monoNama lengkapnya adalah A. Pramono, namun lebih akrab disapa Mas Mono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, yang sudah punya cabang di mana-mana. Profilnya sudah mejeng di pelbagai koran dan majalah kenamaan di Indonesia. Beberapa kali menjadi bintang iklan juga. Dan belakangan ini sibuk berkeliling menjadi mentor wirausaha.

Lelaki kelahiran Madiun ini hanya menamatkan pendidikannya sampai SMA. Kemudian merantau ke Jakarta, bekerja sebagai office boy. Pekerjaan yang membanggakan baginya, saat itu! Orang tua dan para tetangga kampung tahunya dia bekerja di kantor yang mentereng, ber-AC, ada banyak komputer, dan tentunya nyaman. Namun kebanggaan itu luntur seketika, ketika bapaknya terbaring di rumah sakit, dan Mas Mono tak punya uang untuk membantu membiayai pengobatannya. Tamparan yang sangat keras baginya, sebagai seorang anak, tak mampu membantu ketika orang tuanya sedang sakit.

Akhirnya Mas Mono pun mengambil keputusan yang berani. Memajukan dirinya, keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. “Saya tak pernah pakai kata mengundurkan diri ya, karena bagi saya dengan keluar dari pekerjaan itu, berarti saya sedang memajukan diri saya,” katanya tegas. Berjualan gorengan menjadi pilihannya mencari nafkah selepas keluar dari pekerjaannya sebagai office boy. Mas Mono pun keliling dari satu sekolah ke sekolah lain menjajakan gorengannya. Sehari hanya bisa mengantongi uang antara 15 ribu-20 ribu rupiah. Masa-masa yang sulit baginya.

Mas Mono pun mulai meragukan keputusannya berjualan gorengan, ketika ibunya dari Madiun datang mengunjunginya ke Jakarta. Ibunya sedih melihat putra kesayangannya menjadi penjaja gorengan, keliling dari satu tempat ke tempat lain, dari pagi sampai sore hari, hanya mendapatkan uang 20 ribu rupiah. Ibunya lebih suka kalau Mas Mono kerja di kantoran saja, walau hanya sekedar menjadi office boy.

Kesedihan ibunya, menjadi tamparan kedua baginya. Mas Mono pun memutuskan untuk beralih usaha, menjual ayam bakar. Berjualan di kaki lima, tepatnya di jalan Soepomo, seberang kampus Universitas Sahid, Pancoran. Awal berjualan ayam bakar, modalnya 500 ribu rupiah untuk membeli gerobak, dan lima ekor ayam. Malang nian, pertama berjualan, gerobaknya ambruk, ayam-ayamnya pun jatuh.

“Rupanya gerobak untuk jualan ayam bakar itu lain dengan gerobak gorengan, harus lebih kokoh karena membawa tempat nasi yang berat,” jelas Mas Mono menganalisa gerobaknya yang ambruk diawal dia berjualan ayam bakar.

“Saya lap ayam-ayam yang jatuh itu satu persatu, biar bisa dijual,” lanjut mas Mono mengenang kisah awalnya berjualan. Waakss.. jorok dong?! “Nggak apa-apa, yang penting kan yang beli nggak tahu kalau ayamnya sudah jatuh,” jawab Mas Mono santai setengah bercanda. Yang pasti, sekarang ayam bakarnya tak lagi di jual di gerobak, tapi di restoran yang Insya Allah terjamin kebersihannya, hehehe…

Lanjut ke cerita Mas Mono, jualan ayam bakar itu dijalaninya dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Jangan berprasangka baik bahwa ayam bakarnya habis setiap jam 2 siang ya, ternyata itu karena jualan di kaki lima itu ada shift-nya. Tiap jam 2 harus gantian dengan penjual lainnya. Jadi laku nggak laku, jam 2 siang itu, Mas Mono harus menutup jualan ayam bakarnya.

Seiring waktu, jualan ayam bakarnya semakin berkembang. Ayam Bakar Mas Mono mulai melayani katering di pelbagai kantor. Dua stasiun televisi swasta menjadi langganan tetap kateringnya. Belum lagi melayani katering dari perusahan-perusahaan besar yang mengadakan acara. Sekali order bisa sampai 4000 boks harus dia sedikan. Ayam Bakar Mas Mono pun mulai buka cabang di mana-mana. Karyawannya pun bertambah seiring semakin meluas jaringan usahanya.

“Selama bertahun-tahun saya pakai sistem manajemen laci. Uang hasil jualan saya simpan di laci, begitu mau belanja tinggal buka laci,” jelas Mas Mono ketika ditanya manajemen usahanya.

Namun seiring semakin besar usahanya ditambah lagi setelah Mas Mono bergabung dengan Entrepreneur University, maka Ayam Bakar Mas Mono pun memperbaiki sistem manajemennya. Hasilnya tahun 2010, Ayam Bakar Mas Mono sudah bisa mem-franchise-kan usahanya. Suatu prestasi yang besar karena tidak setiap usaha bisa menjadi franchisee.

Walau kini sudah bisa dibilang sebagai pengusaha yang sukses; sudah bisa membangunkan rumah orang tua di kampung, membawa ibunya naik haji bersama, mempunyai mobil mewah, dan tabungan yang mencapai milyar, masih ada yang meragukan tentang usahanya.

“Orang-orang kampung itu bilang, masa sih Mono jualan ayam bakar aja bisa kaya begitu?” katanya mengutip omongan tetangganya di kampung.

“Mereka nggak tahu kalau saya tak hanya jualan ayam bakar, tapi juga membuka katering,” lanjutnya gemas.

“Orang-orang juga nggak tahu, ketika memulai usaha ini saya harus bangun jam 3 dini hari untuk belanja ke pasar. Jam 4 subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Mas Mono menjelaskan kalau kesuksesan yang diraihnya sekarang tidak diperolehnya dengan instan. Tapi diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras. Butuh hampir 10 tahun untuk membesarkan Ayam Bakar Mas Mono, dari pertama dia membukanya tahun 2001.

mas mono di kuwait
Mas Mono beserta ibu-ibu komunitas pengajian Khairunnisa Kuwait

Note:

Tulisan ini saya buat ketika Mas Mono berkunjung ke pengajian ibu-ibu di Kuwait, ketika itu beliau diundang suatu organisasi untuk memberikan training wirausaha.

foto-foto diambil dari FB Mas Mono