Tag Archives: doha

Mengintip Kehidupan Qatari di Taman

Musim panas di Qatar sudah hampir usai, namun menyisakan lembab yang tinggi. Membuat malas berkegiatan di luar rumah karena pasti banjir keringat. Padahal liburan Idul Adha tahun ini banyak sekali acara-acara menarik yang diadakan outdoor.

Perayaan Idul Adha 2016 mengusung tema #CaptureJoy, kebanyakan adalah acara-acara untuk keluarga (anak-anak). Salah satunya acara yang diadakan di sebuah taman dekat rumah kami, Dahl Al-Hamam Park. Taman ini luas sekali dan asri (kalau lagi musim dingin ya☺️). Ada 2 buah playground pasir dan satu yang pakai rubber, ada lapangan basket, ada area skateboard, ada mushala yang lumayan besar, toiletnya juga bersih. Dan ada guanya, ya beneran gua, lorong di dalam tanah, makanya taman ini dinamakan ‘Dahl‘ yang artinya gua atau cave. Untungnya area gua ini sekelilingnya di pagar dan pintu masuknya digembok, jadi gak khawatir anak-anak masuk ke sana. Masuk ke taman ini gratis… tis! Dan yang paling penting free wifi, yipieee! Bisa bebas berselancar di dunia maya.

salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park
salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park

Mengenai internetan di taman ini ada pengalaman menarik sekaligus bikin malu dan keki bagi kami. Jadi ceritanya suatu pagi di satu akhir pekan kami main ke taman ini, bawa tikar, aneka cemilan dan makanan. Setelah puas lari-larian, kami leyeh-leyehan di tikar yang digelar di lapangan rumput hijau nan empuk. Mulai tuh masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Si emak pakir wifi hepi dong bisa pamer-pamer di sosmed. Nah, tiba-tiba ada bapak-bapak berjenggot lebat dan bermuka Arab (masih muda sih seumur Akang suami) menghampiri kami. Menyapa ramah dan mengajak Akang suami dan anak-anak main bola. Katanya ngapain ke taman kalau hanya untuk main gadget (sambil tersenyum dan melirik gadget di tangan kami). Makjleb! Speechless! Malu! Rasanya pengen nutupin muka pakai panci atau kuali atau pintu kulkas ??. Begitulah kenangan tak terlupakan kami di taman ini.

Pameran Kebudayaan Qatari
Liburan hari kedua Idul Adha, kami pergi ke taman ini selepas Maghrib. Baca di berita, katanya selama libur Idul Adha ada acara dari pukul 6.30 sampai 11 malam. Ditulisnya permainan dan tari-tarian tradisional Qatari. Penasaran dong pengen tahu kayak gimana sih kehidupan para Qatari itu.

Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara
Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara

Sesampainya di lokasi, parkiran sudah penuh, cukup lama kami menunggu salah satu mobil yang mau keluar tapi kok gak keluar-keluar?.  Walaupun parkiran penuh, suasana taman tidak terlalu ramai, sepertinya pengunjung terpencar di berbagai area taman. Ada yang hanya duduk-duduk di lapangan rumput. Ada yang main di playground. Walaupu malam hari, tamannya cukup terang dari lampu-lampu yang benderang. Nah, acaranya ada di sebuah lapangan yang berpagar tinggi. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Olahraga.

Lagu-lagu Arab yang diiringi rebana menyambut kedatangan kami. Musik itu berasal dari sebuah panggung yang di depannya berjejer kursi-kursi. Para lelaki Arab duduk di atas panggung memukul alat rebana. Rasanya seperti masuk ke negeri asing, negeri 1001 malam. Wanita-wanita berabaya hitam dan bercadar, para lelakinya berdishdasa, dan anak-anak yang berceloteh dengan bahasa Arab. Agak ragu juga kami untuk masuk ke sana karena sepertinya hanya kami yang berwajah Asia. Tapi perhatian saya yang sudah tersedot ke area di sebelah kiri pintu, membuat Akang suami dan anak-anak mengikuti emaknya masuk.

dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)
dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)

Di sana, terhampar karpet yang diduduki para lelaki Arab setengah baya dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang membuat miniatur kapal tradisional, ada juga yang membuat jaring ikan, keranjang, dan membuat tikar. Rupanya itu pameran kerajinan tradisional Qatari. Dulu, sebelum ditemukan minyak bumi, mata pencaharian Qatari adalah nelayan tepatnya pencari mutiara. Cukup lama saya merekam aktivitas mereka, sebenarnya ingin menyapa dan bertanya-tanya namun sayang saya tidak bisa bahasa Arab ?.

kerajinan tradisional qatari
kerajinan tradisional qatari

Selain pameran kerajinan, ada pameran makanan tradisional Qatar juga. Baru beberapa saat saya merekam, dua orang wanita bercadar di depan meja pameran, mengangkat tangannya dengan gerakan menolak. Saya pun terkejut dan segera minta maaf. Rupanya mereka keberatan untuk difoto/ direkam. Saya pun jadi segan untuk melihat-lihat karena terlanjur malu dan takut dimarahi, hehehe….

Soalnya Akang suami pernah punya pengalaman dimarahi bahkan nyaris dikejar salah satu perempuan Arab ketika sedang memotret, padahal yang dipotret bukan perempuan itu, dia kebetulan saja ada di depan Akang suami. Dikiranya si akang motret dia ?. Sejak saat itu Akang suami agak trauma motret di tempat umum yang banyak orang Arabnya.

Processed with Snapseed.
Para gadis Qatari

Namun saya benar-benar tak tahan untuk motret ketika bertemu sekumpulan anak-anak gadis Qatari yang memakai pakaian tradisional. Cantik sekali. Mereka sedang duduk melingkar, entah sedang membahas apa. Saya pun minta izin untuk motret mereka dan mereka tidak keberatan. Horeee! Segeralah saya memotret mereka sambil larak-lirik takut ada emaknya mereka menghampiri dan marah anaknya difoto?. Untunglah gak ada dan Teteh F3 pun bisa berpose dengan mereka. Saya gak bisa nanya-nanya karena anak-anak cowok terutama Abang F2 sudah ribut ngajak pulang.

wajah-wajah ngantuk dan lelah
wajah-wajah ngantuk dan lelah

 

 

Setelah bermain sebentar di playground dan jajan pop corn kami pun pulang ke rumah. Walaupun hati dan pikiran saya masih tertinggal di sana (harusnya bisa wawancara para baba itu, harusnya bisa menyapa umi-uminya juga) tapi udara yang lembab memupus keinginan itu. Kasihan sama anak-anak yang sudah kegerahan. Berharap suatu hari nanti masih bisa mengulik kehidupan Qatari ini.

 

 

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

Sensasi Mandi Arab: “Dibakar dan Dikubur di Tanah”

Afghan Bro4
takjub dengan porsi nasi mandi

Mandi ini adalah makanan atau nasi khas Arab, makanya orang lebih sering menyebutnya dengan Nasi Mandi. Makanan tradisional Arab ini terbuat dari basmati (beras khas India) dan daging – bisa berupa kambing atau ayam – yang diolah dengan menggunakan aneka rempah-rempah. Kambing yang digunakan biasanya kambing muda ukuran kecil.

Makanan yang sangat populer di semenanjung Arab ini berasal dari negara Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut, daerah lembah hijau di Yaman yang sebagian besar wilayahnya berupa padang pasir. Sebagian besar warga keturunan Arab di Indonesia berasal dari Yaman. Itu sebabnya di Indonesia ada nasi kebuli yang mirip dengan nasi mandi ini.

Mandi ini sering juga disangka nasi briyani. Padahal ketiganya berbeda. Perbedaan utama terletak pada cara memasaknya. Nasi mandi atau disebut juga Haneeth dimasak pada sebuah tandoor, yaitu oven khusus yang dibuat di dalam tanah. Jadi dibuat lubang di dalam tanah semacam sumur yang dalamnya dilapisi dengan tanah liat.

Kemudian ditaruh kayu bakar yang dibakar sampai menjadi arang. Di atas arang tersebut diletakkan panci berisi nasi . Baru daging dimasukkan, bisa digantung atau diletakkan di rak. Selanjutnya tandoori ditutup rapat-rapat sehingga asap akan terperangkap di dalamnya, yang menjadikan makanan beraroma dan bercita rasa khas.

Bagi yang  tidak memiliki tandoor tapi ingin membuat nasi mandi yang aroma dan rasanya sama dengan yang dimasak di tandoor, bisa menggunakan arang yang telah dibakar dan dimasukkan ke dalam mangkuk kecil berisi minyak panas. Mangkuk kecil ini diletakkan di atas nasi mandi yang sedang dimasak. Kemudian tutup rapat-rapat panci sehingga tak ada asap yang keluar dari dalam panci.

 

Antri Mandi di Afghan Brothers

Afghan brothers
tampak depan resto afghan brothers

Afghan Brother ini nama restoran di Doha-Qatar yang menu utamanya nasi mandi. Jadi ceritanya Jumat kemarin selepas salat Jumat di masjid Aspire, kami berburu nasi mandi, yang merupakan makanan favorit suami saya. Kalau di Qatar dan negara-negara Arab lainnya, weekend itu tiap Jumat dan Sabtu, kecuali Saudi yang Kamis-Jumat.

Afghan Brother adalah restoran besar berlantai dua. Dari depan tampak megah berdinding bata merah. Gayanya klasik. Agak ketar ketir tidak kebagian tempat karena di depan restoran sudah berjejer mobil hingga kami harus parkir agak jauh dari resto karena parkirannya penuh. Begitu masuk kami langsung diarahkan ke lantai dua. Sepertinya lantai dua khusus family. Dan saya makin terkagum-kagum dengan interiornya. Ciri khas Arab-nya kental sekali.

Begitu sampai ke lantai dua, suasana tampak riuh. Rupanya ada rombongan besar orang India yang sedang lunch di sana. Para pegawai resto tampak sibuk lalu lalang. Salah satu pegawai yang mungkin manajernya malah seolah-olah menolak kehadiran kami. Menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat kami, maksudnya mungkin sudah tak ada tempat lagi. Beruntung kami menemukan satu kamar yang kosong walau masih berantakan dan harus menunggu lama untuk dibersihkan.

Afghan Bro1
interior afghan brothers

Cukup lama kami menanti pesanan tiba. Dari balik jeruji jendela saya melihat banyak laki-laki Arab ber-dishdasha (pakaian khas laki-laki Arab) dan wanita-wanita berabaya hitam, beberapa bercadar, yang lalu lalang masuk ke berbagai kamar di lantai dua Afghan Brothers itu. Yup, salah satu ciri khas restoran Arab adalah adanya ruang-ruang makan terpisah. Sebagian besar berbentuk lesehan memakai diwaniya (tempat duduk khas Arab). Ada juga yang memakai meja kursi, seperti ruangan yang kami pakai. Dan ya, ruangan-ruangan makannya berjendela dan berpintu jeruji sehingga kami masih bisa mengintip ke luar.

Betapa kagetnya kami ketika nasi mandi tiba. Satu nampan besar dengan kambing dan satu ayam yang dibelah dua! Jadi nasi mandi ini disajikan di piring besar, lauknya bisa kambing atau ayam sesuai dengan orderan kita. Kata manajernya satu porsi piring besar itu buat satu orang, hehehe…. Selain nasi mandi, kami juga pesan sish tawook, semacam sate Arab, yang langsung diserbu anak-anak karena mereka sudah kelaparan.

Afghan Bro3
nasi mandi dan teman-temannya

Nasi mandi ini dilengkapi dengan saus tomat dan salad sayur mentah. Juga khubz, roti Arab berbentuk lingkaran tipis, biasanya ukurannya besar. Roti ini sangat enak disantap saat panas. Dimakan bareng dengan sish tawook yang diolesin hummus, emmmhh yummmy! Hummus ini seperti selai berbahan dasar kacang kedelai yang dihaluskan, lentini, tahini, juga minyak olive, air lemon, garam dan juga bawang putih. Tak heran jika aroma dan rasa humus enak, gurih dan segar! Porsi nasi mandi baik kambing atau ayam harganya 40 QR sekitar 100 ribu lebih.