Tag Archives: qatar

Mengintip Kehidupan Qatari di Taman

Musim panas di Qatar sudah hampir usai, namun menyisakan lembab yang tinggi. Membuat malas berkegiatan di luar rumah karena pasti banjir keringat. Padahal liburan Idul Adha tahun ini banyak sekali acara-acara menarik yang diadakan outdoor.

Perayaan Idul Adha 2016 mengusung tema #CaptureJoy, kebanyakan adalah acara-acara untuk keluarga (anak-anak). Salah satunya acara yang diadakan di sebuah taman dekat rumah kami, Dahl Al-Hamam Park. Taman ini luas sekali dan asri (kalau lagi musim dingin ya☺️). Ada 2 buah playground pasir dan satu yang pakai rubber, ada lapangan basket, ada area skateboard, ada mushala yang lumayan besar, toiletnya juga bersih. Dan ada guanya, ya beneran gua, lorong di dalam tanah, makanya taman ini dinamakan ‘Dahl‘ yang artinya gua atau cave. Untungnya area gua ini sekelilingnya di pagar dan pintu masuknya digembok, jadi gak khawatir anak-anak masuk ke sana. Masuk ke taman ini gratis… tis! Dan yang paling penting free wifi, yipieee! Bisa bebas berselancar di dunia maya.

salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park
salah satu akhir pekan kami di Dahl al-Hamam Park

Mengenai internetan di taman ini ada pengalaman menarik sekaligus bikin malu dan keki bagi kami. Jadi ceritanya suatu pagi di satu akhir pekan kami main ke taman ini, bawa tikar, aneka cemilan dan makanan. Setelah puas lari-larian, kami leyeh-leyehan di tikar yang digelar di lapangan rumput hijau nan empuk. Mulai tuh masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Si emak pakir wifi hepi dong bisa pamer-pamer di sosmed. Nah, tiba-tiba ada bapak-bapak berjenggot lebat dan bermuka Arab (masih muda sih seumur Akang suami) menghampiri kami. Menyapa ramah dan mengajak Akang suami dan anak-anak main bola. Katanya ngapain ke taman kalau hanya untuk main gadget (sambil tersenyum dan melirik gadget di tangan kami). Makjleb! Speechless! Malu! Rasanya pengen nutupin muka pakai panci atau kuali atau pintu kulkas ??. Begitulah kenangan tak terlupakan kami di taman ini.

Pameran Kebudayaan Qatari
Liburan hari kedua Idul Adha, kami pergi ke taman ini selepas Maghrib. Baca di berita, katanya selama libur Idul Adha ada acara dari pukul 6.30 sampai 11 malam. Ditulisnya permainan dan tari-tarian tradisional Qatari. Penasaran dong pengen tahu kayak gimana sih kehidupan para Qatari itu.

Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara
Teteh F3 di depan pintu masuk lokasi acara

Sesampainya di lokasi, parkiran sudah penuh, cukup lama kami menunggu salah satu mobil yang mau keluar tapi kok gak keluar-keluar?.  Walaupun parkiran penuh, suasana taman tidak terlalu ramai, sepertinya pengunjung terpencar di berbagai area taman. Ada yang hanya duduk-duduk di lapangan rumput. Ada yang main di playground. Walaupu malam hari, tamannya cukup terang dari lampu-lampu yang benderang. Nah, acaranya ada di sebuah lapangan yang berpagar tinggi. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Olahraga.

Lagu-lagu Arab yang diiringi rebana menyambut kedatangan kami. Musik itu berasal dari sebuah panggung yang di depannya berjejer kursi-kursi. Para lelaki Arab duduk di atas panggung memukul alat rebana. Rasanya seperti masuk ke negeri asing, negeri 1001 malam. Wanita-wanita berabaya hitam dan bercadar, para lelakinya berdishdasa, dan anak-anak yang berceloteh dengan bahasa Arab. Agak ragu juga kami untuk masuk ke sana karena sepertinya hanya kami yang berwajah Asia. Tapi perhatian saya yang sudah tersedot ke area di sebelah kiri pintu, membuat Akang suami dan anak-anak mengikuti emaknya masuk.

dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)
dulunya qatari adalah nelayan (pencari mutiara)

Di sana, terhampar karpet yang diduduki para lelaki Arab setengah baya dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang membuat miniatur kapal tradisional, ada juga yang membuat jaring ikan, keranjang, dan membuat tikar. Rupanya itu pameran kerajinan tradisional Qatari. Dulu, sebelum ditemukan minyak bumi, mata pencaharian Qatari adalah nelayan tepatnya pencari mutiara. Cukup lama saya merekam aktivitas mereka, sebenarnya ingin menyapa dan bertanya-tanya namun sayang saya tidak bisa bahasa Arab ?.

kerajinan tradisional qatari
kerajinan tradisional qatari

Selain pameran kerajinan, ada pameran makanan tradisional Qatar juga. Baru beberapa saat saya merekam, dua orang wanita bercadar di depan meja pameran, mengangkat tangannya dengan gerakan menolak. Saya pun terkejut dan segera minta maaf. Rupanya mereka keberatan untuk difoto/ direkam. Saya pun jadi segan untuk melihat-lihat karena terlanjur malu dan takut dimarahi, hehehe….

Soalnya Akang suami pernah punya pengalaman dimarahi bahkan nyaris dikejar salah satu perempuan Arab ketika sedang memotret, padahal yang dipotret bukan perempuan itu, dia kebetulan saja ada di depan Akang suami. Dikiranya si akang motret dia ?. Sejak saat itu Akang suami agak trauma motret di tempat umum yang banyak orang Arabnya.

Processed with Snapseed.
Para gadis Qatari

Namun saya benar-benar tak tahan untuk motret ketika bertemu sekumpulan anak-anak gadis Qatari yang memakai pakaian tradisional. Cantik sekali. Mereka sedang duduk melingkar, entah sedang membahas apa. Saya pun minta izin untuk motret mereka dan mereka tidak keberatan. Horeee! Segeralah saya memotret mereka sambil larak-lirik takut ada emaknya mereka menghampiri dan marah anaknya difoto?. Untunglah gak ada dan Teteh F3 pun bisa berpose dengan mereka. Saya gak bisa nanya-nanya karena anak-anak cowok terutama Abang F2 sudah ribut ngajak pulang.

wajah-wajah ngantuk dan lelah
wajah-wajah ngantuk dan lelah

 

 

Setelah bermain sebentar di playground dan jajan pop corn kami pun pulang ke rumah. Walaupun hati dan pikiran saya masih tertinggal di sana (harusnya bisa wawancara para baba itu, harusnya bisa menyapa umi-uminya juga) tapi udara yang lembab memupus keinginan itu. Kasihan sama anak-anak yang sudah kegerahan. Berharap suatu hari nanti masih bisa mengulik kehidupan Qatari ini.

 

 

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

Merayakan Idul Adha di Doha bersama Sinbad

Idul Adha di Qatar (dan negara-negara lainnya di Timur Tengah) artinya libur panjang. Yihaaa! *doradancing*. Di Qatar sendiri liburnya 5 hari. Daripada di rumah saja bengong cantik dan anak-anak main game melulu, Akang suami lalu memberikan daftar acara-acara perayaan Idul Adha di Qatar yang bisa kita tonton. Dan mengajak untuk melihatnya! Pakai tanda seru soalnya ini penting sekali karena tumben-tumbenan si akang berinisiatif ngajak jalan, biasanya istrinya yang fakir jalan ini yang selalu bujuk-bujuk sampai setengah maksa buat keluar rumah, hihihi….

Festival Idul Adha di Katara 

Katara adalah daftar pertama di liburan Idul Adha kami. Katara ini adalah kawasan yang menjadi pusat seni dan kebudayaan di Qatar, tepatnya di daerah West Bay-Doha. Tempatnya keren sekali ada amphitheater dan masjid yang megah, galeri-galeri seni yang hampir tiap hari selalu penuh dengan kegiatan, dan terletak di pinggir pantai dengan kafe-kafe yang menawarkan aneka makanan khas. Sound romantic, ya? ?Kapan-kapan saya akan tulis tentang Katara ini ya (entah kapannya itu-nunggu wangsit dulu-lalu bengong ?)

Festival Idul Adha di Katara ini akan berlangsung empat hari (12-15 September) berupa pertunjukan teater Sinbad dan kembang api.

Begitu mendengar kata teater, bayangan saya pasti bayar nih, pasti mahal deh, aduh sayang, tapi pengen nonton, gimana dong? Dan langsung bersorak ketika akang suami bilang kalau acaranya gratis. Tapi lalu pesimis, emmm kalau gratis kayaknya acaranya biasa aja, gak seru. Rasa pesimis ini saya simpan di hati, kalau dibilangin ke akang suami, nanti dia jadi punya alasan buat batalin pergi (kan doi orang rumahan banget), hihihi….

Ada 3 kali pertunjukan tiap malamnya, pukul 7, 8.15, dan 9.30, yang satu kali pertunjukan lamanya 45 menit. Lalu ditutup dengan pertunjukan kembang api.

Kami memutuskan untuk melihat pertunjukan yang terakhir biar sekalian melihat kembang api. Agak khawatir juga sih anak-anak akan ngantuk dan tidak semangat menonton. Apalagi kami juga jarang melakukan kegiatan di luar sampai malam.

Dan benar saja, sehabis makan malam, aroma kasur dan bantal kuat sekali melanda keluarga Mulyo, walaupun masing-masing sudah rapi dengan pakaian pergi. Si ayah terusan-terusan melihat komputernya, mantengin google maps kayaknya, soalnya komentarnya, “waduh macet banget jalan ke Katara, antre masuk ke gerbangnya panjang nih.” Nada-nadanya sih minta persetujuan, ya udah kita gak jadi pergi ya. Si emak diam saja, wong pengen pergi. Untung didukung sama anak gadisnya yang terus-terusan ngomong kapan perginya, ayo cepetan pergi! Kalau dua anak cowok sih santai banget, kayaknya pergi atau nggak pergi gak masalah? Walaupun nanya terus, kita mau kemana sih? Katara itu apa? Mau ngapain ke sana? Dijelasin berkali-kali sampai bosan.

Suasana di mobil selama perjalanan pun tidak mendukung; anak gadis langsung tidur, begitu juga Abang F2 tidur setelah mengeluh pusing, kakak F1 menggurendel setengah mengancam yang intinya pertunjukannya harus benar-benar bagus bukan hanya bagus saja (istilah dia extraordinary) karena dia sudah ninggalin kenyamanan rumah. Sigh! Akang suami juga terus bergumam tentang parkiran yang penuh. Si emak sibuk berdoa; sabarkan, tabahkan, tetap semangat dan maju pantang mundur☺️.

Akhirnya kami masuk ke kawasan pantai dan parkir di depan hotel St. Regis (yang terkenal itu). Hanya saja kami harus jalan cukup jauh ke lokasi pertunjukan. Bayangkan kami parkir di ujung pantai (sektor 1) sementara lokasi pertunjukan di tengah-tengah (sektor 16). Untung saja anak-anak yang tidur gak susah dibangunkan dan mau jalan. Hanya saja akang suami kebelet pipis. Si emak juga sih, hihihi…. Jadi kami jalan sekitar 10 menit, mampir kios kecil pinggi pantai untuk membeli air mineral (lupa bawa minum) dan mampir ke Gelateria (kafe ice cream), tepatnya sih ke belakang Gelateria buat pipis ? Di sana ada toilet pria dan wanita yang bersih. Eh, anak-anak juga sempat beli ice cream. Lumayan menghibur mereka yang kegerahan dan kelelahan jalan.

Antrean Perempuan dan Eidyah

Ternyata tempat pertunjukan itu berada di depan amphitheater berupa panggung terbuka. Ketika kami sampai di sana, pertunjukan kedua sedang berlangsung dan kami melihat antrean yang cukup panjang ke arena pertunjukan. Sempat heran juga karena itu pertunjukan gratis kenapa harus ada antrean masuk. Kami pun langsung masuk ke dalam barisan. Wajah Akang suami sudah getir saja, kebayang harus berdiri lama di udara yang bersuhu 30an derajat. Hangat-hangat kuku sih tapi cukup bikin keringat bercucuran. Ditambah lagi Abang F2 ngeluh lapar, dia terus-terusan bilang tentang bau makanan yang enak dari deretan kafe-kafe.

Di tengah-tengah asyik eh kegerahan mengantre, tiba-tiba seorang pria berdishdasa (pakaian laki-laki Arab) menghampiri kami dan berbicara dengan Akang suami. Katanya saya tidak boleh antre di barisan itu. Dia menunjuk dua barisan di samping kanan kami, yang ternyata antrean perempuan. Jadi barisan perempuan dan laki-laki berbeda. Akang suami menerangkan kalau kami keluarga, intinya keberatan kalau harus dipisah. Si petugas terdiam dan menghela napas, kayaknya artinya yaelah bro terpisah sebentar aja, gak apa-apa kok. Saya memahami kebingungan suami, pikiran kami sama, nanti di dalam pasti duduknya akan terpisah juga.

“Gimana, kita pulang saja?”

“Hah? Sayang dong udah jauh-jauh ke sini. Oke… Oke Bunda antri di sana,” kata saya dengan nada gagah. Tapi tetep berdiri di barisan, apalagi ketika ada perempuan lain yang ikut antre di barisan yang sama, serasa ada teman. Sok berani padahal ketar-ketir juga harus terpisah, hehehe….

Antrean pelan-pelan maju dan tiba-tiba sedikit ribut, ketika beberapa petugas menyuruh laki-laki dan perempuan di barisannya masing-masing, tidak boleh campur. Saya pun buru-buru masuk ke barisan perempuan. Ternyata antrean perempuan lebih cepat masuknya, sepertinya memang diprioritaskan.

pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis
pembagian eidyah (bingkisan hari raya) gratis

Begitu sampai depan, barulah saya melihat tumpukan hadiah yang dibagi-bagikan ke anak-anak. Tangan anak-anak distempel lalu mereka diberi bingkisan yang besarnya beda-beda. Saya yang gendong baby, dapat satu bungkusan panjang (tiga anak lainnya ikut ayahnya). Begitu masuk ke lokasi pertunjukan, bengonglah si emak cantik dan baik hati ini. Ternyata begitu di dalam perempuan dan laki-laki kembali berbaur. Arena di depan panggung penuh dengan kursi-kursi. Dan orang lalu-lalang di kiri-kanan gerbang masuk. Jadi tanpa antre pun, sebenarnya kita bisa masuk bebas ke lokasi pertunjukan. Jadi what for atuh antre panjang-panjang? Jawabannya baru ketahuan belakangan, kalau antrean itu buat mengambil  “Eidyah”. Bingkisan hari raya buat anak-anak yang diberikan secara cuma-cuma. So, kalau gak mau bingkisan itu, kita bisa langsung masuk ke arena pertunjukan secara bebas. Teteh F3 dapat bingkisan skipping rope yang dia inginkan.

Teteh F3 dan Eidyahnya
Teteh F3 dan Eidyahnya

 

Sambil menunggu Akang suami dan anak-anak masuk, saya pun antre membeli makanan di gerai-gerai yang berjejer sepanjang pantai. Ingat sama Abang F2 yang ngeluh lapar (makan malamnya memang cuma sedikit). Antreannya mengular bo! Setelah cari-cari yang barisannya pendek, dapatlah chips and fish, setelah bayar pastinya?. Sempat terjadi drama panik, ketika mencari-cari henpon di tas tidak ketemu. Saat itu sudah pasrah saja, kebayang ‘murkanya’ Akang suami karena sudah teledor. Lalu tersadar kalau yang tadi dipegang di tangan kiri itu ya si henpon. Tepok jidat! Dasar emak pelupa.

 

 

Sinbad yang Spektakuler

Saya tak punya bayangan sama sekali akan seperti apa pertunjukannya. Surprise juga ketika sadar bahwa itu pertunjukan sirkus yang dikemas dalam sebuah cerita utuh (teatrikal). Sejak dulu memimpikan melihat sirkus secara langsung. Pertunjukan dibuka dengan narasi berbahasa Arab tentang Sinbad dari dongeng 1001 malam yang mendapat peta harta karun untuk mencari pearl (langsung teringat Qatar yang salah satu simbolnya adalah pearl). Bagi yang tidak mengerti bahasa Arab (seperti saya) tidak usah khawatir, di sebelah kanan panggung ada layar lebar yang menerjemahkan narasi cerita dalam bahasa Inggris.

beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor
beberapa atraksi di teater Sinbad, The Sailor

Atraksi yang menjadi pembuka adalah sand art. Mengagumkan sekali melihat dengan media pasir bisa tercipta gambar-gambar yang bercerita. Sand art ini menjadi pembuka petualangan Sinbad yang penuh misteri. Setelah itu diceritakan Sinbad sampai di pulau yang penuh burung-burung ajaib. Lalu muncullah pesulap yang mendemonstrasikan triknya dengan burung-burung merpati.

Setelah itu muncul 2 penari yang menari-nari di ketinggian dengan bantuan tali-tali (aerial). Keren banget, paling banyak mendapat tepuk tangan penonton. Lalu Sinbad dan salah satu temannya berakrobatik. Kemudian muncul tokoh berkostum putih menutupi seluruh badan membawa ‘pearl‘ yang dicari Sinbad. Sosok putih ini ditemani beberapa penari yang memegang obor api dan mereka melakukan tarian api yang ngeri-ngeri sedap. Ada juga tarian LED yang kece. Jadi diceritakan, setelah melalui berbagai petualangan, akhirnya Sinbad sampai ke pulau Qatar dan menemukan pearl yang dicarinya. Sayangnya mutiara itu kemudian dicuri oleh kawanan bandit. Lalu terjadilah perkelahian yang ‘lucu’ di antara mereka. Penonton anak-anak riuh bersorak. Kata Abang F2, dia juga paling suka bagian yang ini. At the end Sinbad dapat kembali mutiaranya. Lalu mereka pun menari Happy Time-nya Pharrel Williams.

Secara keseluruhan, pertunjukan Sinbad ini keren banget, tata lampu dan suaranya bagus sekali. Saya melihat dapat ulasan yang bagus di koran-koran hari ini.

Kembang Api yang Megah
Saya pun mendesah puas dan berbenah diri untuk pulang ketika tiba-tiba suasana berubah gempita. Rupanya pertunjukan kembang api sudah dimulai. Dentuman suara kembang api dan semburan cahayanya yang menari-nari di langit sontak membuat orang-orang mengangkat henpon dan kameranya mengabadikan momen itu. Saya pun tak ketinggalan merekamnya dengan henpon.

aslinya lebih megah dan spektakuler
aslinya lebih megah dan spektakuler

Namun kemudian segera mematikan henpon dan memilih untuk menikmati pertunjukan kembang api dengan mata sendiri bukan melalui kamera henpon. Dan ternyata itu jauh lebih menggetarkan. Tempat duduk kami sangat strategis, kembang api itu seolah-olah muncul di hadapan kami dan menari-nari dengan indahnya. Apalagi musik pengiringnya sangat mendukung sekali. Tak henti saya bertakbir padaNya yang telah memberikan akal pada manusia sehingga bisa menciptakan pertunjukan seindah itu. Tak terasa kedua mata saya mengembun. Emang sentimental emak satu ini. Selama 10 menit kami dimanjakan dengan kemegahan atraksi kembang api walau agak terganggu dengan aksi wefie sebuah keluarga kecil persis di depan saya ?

Alhamdulilah, malam Ied yang sangat mengesankan walau pulangnya terjebak macet, hampir setengah jam baru bisa keluar dari kawasan Katara. Lumayan bisa bocan di mobil sementara pak supir berjibaku cari jalan. Maaf ya sayang, salahkan mata ini yang tak bisa diajak kompromi.

Bila foto tak cukup mewakili kemegahan atraksi kembang api itu, mungkin rekaman saya ini bisa:

 

 

Berikut beberapa tips biar menontonnya nyaman dan aman.

1. Bila tidak mau kelamaan di Katara disaat udara masih panas, berangkat sehabis maghrib. Makan malam dulu yang kenyang (karena makan di kafe Katara mahal bo!)

2. Bawa minuman yang banyak dan makanan ringan. Udara yang panas bikin cepat haus. Dan bau makanan yang menguar dari kafe-kafe bikin cacing-cacing ngambek. Jadi makanan ringan itu buat mendamaikan para cacing. Selain itu antrean pembeli di kios makanan cukup panjang.

3. Pakai pakaian yang menyerap keringat dan nyaman. Begitu juga dengan sepatu atau sandalnya karena kalau dapat parkiran jauh dari lokasi acara, harus jalan kaki.

4. Bila tidak berminat dengan Eidyah tidak perlu ikutan antre, langsung masuk saja ke lokasi pertunjukan. Bila mau ikutan antre, suruh emaknya sama anak-anaknya yang antre karena barisan perempuan lebih cepat masuknya. Bapaknya bertugas cari tempat duduk yang strategis.

5. Cari kursi yang depan panggung persis, biar bisa jelas melihat pertunjukannya. Ada layar di belakang panggung yang menerjemahkan narasi cerita ke dalam bahasa Inggris.

6. Lebih baik nonton yang pertunjukan terakhir biar langsung melihat kembang api. Agar anak-anak juga tidak terlalu lelah menunggu.

Happy Eid Al-Adha 1437H

*picture Eidyah and Sinbad show taken from IG katara @kataraqatar

 

Irra Fachriyanthi
FB: www.facebook.com/irfach
Twitter: @irfach
IG: @irfach

Sensasi Mandi Arab: “Dibakar dan Dikubur di Tanah”

Afghan Bro4
takjub dengan porsi nasi mandi

Mandi ini adalah makanan atau nasi khas Arab, makanya orang lebih sering menyebutnya dengan Nasi Mandi. Makanan tradisional Arab ini terbuat dari basmati (beras khas India) dan daging – bisa berupa kambing atau ayam – yang diolah dengan menggunakan aneka rempah-rempah. Kambing yang digunakan biasanya kambing muda ukuran kecil.

Makanan yang sangat populer di semenanjung Arab ini berasal dari negara Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut, daerah lembah hijau di Yaman yang sebagian besar wilayahnya berupa padang pasir. Sebagian besar warga keturunan Arab di Indonesia berasal dari Yaman. Itu sebabnya di Indonesia ada nasi kebuli yang mirip dengan nasi mandi ini.

Mandi ini sering juga disangka nasi briyani. Padahal ketiganya berbeda. Perbedaan utama terletak pada cara memasaknya. Nasi mandi atau disebut juga Haneeth dimasak pada sebuah tandoor, yaitu oven khusus yang dibuat di dalam tanah. Jadi dibuat lubang di dalam tanah semacam sumur yang dalamnya dilapisi dengan tanah liat.

Kemudian ditaruh kayu bakar yang dibakar sampai menjadi arang. Di atas arang tersebut diletakkan panci berisi nasi . Baru daging dimasukkan, bisa digantung atau diletakkan di rak. Selanjutnya tandoori ditutup rapat-rapat sehingga asap akan terperangkap di dalamnya, yang menjadikan makanan beraroma dan bercita rasa khas.

Bagi yang  tidak memiliki tandoor tapi ingin membuat nasi mandi yang aroma dan rasanya sama dengan yang dimasak di tandoor, bisa menggunakan arang yang telah dibakar dan dimasukkan ke dalam mangkuk kecil berisi minyak panas. Mangkuk kecil ini diletakkan di atas nasi mandi yang sedang dimasak. Kemudian tutup rapat-rapat panci sehingga tak ada asap yang keluar dari dalam panci.

 

Antri Mandi di Afghan Brothers

Afghan brothers
tampak depan resto afghan brothers

Afghan Brother ini nama restoran di Doha-Qatar yang menu utamanya nasi mandi. Jadi ceritanya Jumat kemarin selepas salat Jumat di masjid Aspire, kami berburu nasi mandi, yang merupakan makanan favorit suami saya. Kalau di Qatar dan negara-negara Arab lainnya, weekend itu tiap Jumat dan Sabtu, kecuali Saudi yang Kamis-Jumat.

Afghan Brother adalah restoran besar berlantai dua. Dari depan tampak megah berdinding bata merah. Gayanya klasik. Agak ketar ketir tidak kebagian tempat karena di depan restoran sudah berjejer mobil hingga kami harus parkir agak jauh dari resto karena parkirannya penuh. Begitu masuk kami langsung diarahkan ke lantai dua. Sepertinya lantai dua khusus family. Dan saya makin terkagum-kagum dengan interiornya. Ciri khas Arab-nya kental sekali.

Begitu sampai ke lantai dua, suasana tampak riuh. Rupanya ada rombongan besar orang India yang sedang lunch di sana. Para pegawai resto tampak sibuk lalu lalang. Salah satu pegawai yang mungkin manajernya malah seolah-olah menolak kehadiran kami. Menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat kami, maksudnya mungkin sudah tak ada tempat lagi. Beruntung kami menemukan satu kamar yang kosong walau masih berantakan dan harus menunggu lama untuk dibersihkan.

Afghan Bro1
interior afghan brothers

Cukup lama kami menanti pesanan tiba. Dari balik jeruji jendela saya melihat banyak laki-laki Arab ber-dishdasha (pakaian khas laki-laki Arab) dan wanita-wanita berabaya hitam, beberapa bercadar, yang lalu lalang masuk ke berbagai kamar di lantai dua Afghan Brothers itu. Yup, salah satu ciri khas restoran Arab adalah adanya ruang-ruang makan terpisah. Sebagian besar berbentuk lesehan memakai diwaniya (tempat duduk khas Arab). Ada juga yang memakai meja kursi, seperti ruangan yang kami pakai. Dan ya, ruangan-ruangan makannya berjendela dan berpintu jeruji sehingga kami masih bisa mengintip ke luar.

Betapa kagetnya kami ketika nasi mandi tiba. Satu nampan besar dengan kambing dan satu ayam yang dibelah dua! Jadi nasi mandi ini disajikan di piring besar, lauknya bisa kambing atau ayam sesuai dengan orderan kita. Kata manajernya satu porsi piring besar itu buat satu orang, hehehe…. Selain nasi mandi, kami juga pesan sish tawook, semacam sate Arab, yang langsung diserbu anak-anak karena mereka sudah kelaparan.

Afghan Bro3
nasi mandi dan teman-temannya

Nasi mandi ini dilengkapi dengan saus tomat dan salad sayur mentah. Juga khubz, roti Arab berbentuk lingkaran tipis, biasanya ukurannya besar. Roti ini sangat enak disantap saat panas. Dimakan bareng dengan sish tawook yang diolesin hummus, emmmhh yummmy! Hummus ini seperti selai berbahan dasar kacang kedelai yang dihaluskan, lentini, tahini, juga minyak olive, air lemon, garam dan juga bawang putih. Tak heran jika aroma dan rasa humus enak, gurih dan segar! Porsi nasi mandi baik kambing atau ayam harganya 40 QR sekitar 100 ribu lebih.